February 20, 2009

Mencari Eksistensi dan Jati Diri Sastra Cyber

*Tulisan ini pernah saya publish di facebook saya: http://www.facebook.com/home.php?ref=home#/note.php?note_id=48289104787*

Sastra cyber, kenapa bukan sastra internet?
Dari segi bahasa, tidaklah beda, keduanya (cyber & internet) bukan berasal dari Bahasa Indonesia asli melainkan istilah serapan asing bidang teknologi, itu saya setuju :-)

Internet memiliki makna yang sangat teknis, secara harfiah, internet (kependekan dari kata interconnected-networking) ialah rangkaian komputer yang terhubung di dalam beberapa rangkaian. Internet (huruf 'I' kapital) ialah sistem komputer umum, yang berhubung secara global dan menggunakan TCP/IP sebagai protokol pertukaran paket (packet switching communication protocol). Rangkaian internet yang terbesar dinamakan Internet (huruf 'I' kapital). Cara menghubungkan rangkaian dengan kaidah ini dinamakan internetworking.

Cyber, lebih mengacu kepada tindakan, aktivitas & hal-hal yang berhubungan atau menggunakan media Internet. Sebut saja: cyber crime, cyber law, cyber sex, cyber soft, cyber media atau cyber school.

Sastra cyber - menurut kaidah pembentukan istilah Bahasa Indonesia mestinya ditulis cyber bukan saiber-, pada Simposium Budaya Internasional mengenai budaya media di Universitas Leiden yang diselenggarakan atas prakarsa Verbal Art in The Audio-Visual Media of Indonesia (VA-AVMI), April 2001, Veven Sp. Wardhana menorehkan catatan sebagai berikut: maknanya, harus ada kreativitas untuk menyiasati media yang berbeda. Dalam bahasa Faruk, sastra di internet harus berbeda dengan sastra cetak yang konvensional karena medianya juga berlainan. Yang ada selama ini sebatas memindahkan sastra cetak ke sastra di internet.

Penggunaan istilah sastra cyber sendiri sudahlah jelas dan gamblang menyatakan jenis media yang dipakai: media cyber, seperti halnya dengan istilah sastra koran, sastra majalah, sastra buku, sastra radio, sastra dinding, dan sebagainya.Jadi, sastra cyber ataukah sastra internet? Saya akan gunakan istilah sastra cyber dalam keseluruhan note ini, yang saya maknai sebagai sastra di internet.

***

Dunia telah membuka peluang bagi sastrawan media non-cetak sejak Winston Churchill mengantongi hadiah Nobel untuk sastra berkat pidato-pidato radionya, pada era 1940-an. Dalam perkembangannya sastra radio dan sastra televisi berkembang cukup bagus meskipun kurang digarap di Indonesia. Nilai-nilai puitis, pengolahan bahasa dan apresiasi sastra dapat dimunculkan dalam berbagai bentuk. Stasiun televisi NHK, di Jepang misalnya punya program apresiasi haiku tiap minggu. Stasiun televisi BBC Inggris juga banyak memproduksi sajak-sajak pendek atau memperkenalkan sastrawan dalam tayangan. Begitu pula radio Jerman dan lain-lain.

Sebelum munculnya sastra cyber, dunia sastra Indonesia sendiri telah memiliki beberapa kekhasan yang terkait dengan keberadaan teknologi media. Ketika biaya publikasi semakin mahal, begitu juga dengan keberadaan sastra koran yang kemudian dirasa telah membangun hegemoninya sendiri, maka sastra cyber pun datang.

Pada hari Rabu, 9 Mei 2001, sebuah buku berjudul Graffiti Gratitude diterbitkan oleh Yayasan Multimedia Sastra. Buku yang cukup menghebohkan dunia kesusateraan Indonesia itu dapatlah kita sebutkan sebagai momentum awal berkembangnya sastra cyber di tanah air. Sejak saat itu, melalui situs www.cybersastra.net, beragam blog, milis dan situs pertemanan, sastra cyber semakin berkembang dan mendapat tempatnya hampir di semua kalangan, bahkan berhasil membentuk jaringan antar sastrawan di seluruh tanah air baik yang ada di dalam maupun luar negeri termasuk sastrawan malaysia. Beberapa bahkan menjalin hubungan akrab baik sebagai teman maupun teman hidup :-)

Sastra cyber merupakan revolusi, mengingat internet itu sendiri menjadi revolusi media setelah penemuan mesin cetak Guttenberg juga setelah kehadiran radio dan televisi.

Komunitas-komunitas sastra cyber mulai muncul, memanfaatkan teknologi seperti mailing list (milis), situs, forum diskusi, dan juga blog, internet menawarkan iklim kebebasan, tanpa sensor. Semua orang boleh memajang karyanya, dan semua boleh mengapresiasinya.

Eksistensi & Jati Diri Sastra Cyber

Didalam sastra cyber, kita melihat puluhan bahkan ratusan orang berusaha menjadi penyair, menyamai atau mengalahkan nama-nama yang terlanjur menjadi berhala di dunia kesusasteraan nasional. Mereka ingin bicara apa saja, menulis apa saja, karena dalam dunia sastra cyber, huruf bukanlah segala-galanya. Dilayar monitor komputer, kita bisa melihat baris-baris muncul dengan animasi huruf yang indah seolah menari, diiringi semburan warna-warni latar belakang suara ombak, nyanyian burung, atau vokalisasi dan musikalisasinya. Ini merupakan peluang yang perlu dilihat dan dimanfaatkan oleh kita semua selaku penggiat sasta cyber.

Ironisnya, tantangan di Indonesia justru muncul dari dunia sastra sendiri. Sastra cyber, dengan sifatnya yang bebas itu pernah dituding oleh beberapa pihak sebagai sekadar ajang main-main sehingga karya-karyanya pastilah tak bermutu. Meski demikian, seiring berjalannya waktu, saat ini eksistensi karya sastrawan cyberpun sudah mulai makin diakui, terutama oleh masyarakat, walau untuk apresiasi mungkin masih dipandang sebelah mata oleh sebagian kelompok mapan.

Namun, benarkah dunia sastra cyber itu eksklusif dalam arti menutup pintu rapat-rapat bagi orang luar untuk masuk? Masuklah ke dunia cyber, jangan hanya mengintip, maka Anda akan tahu betapa inklusifnya dunia sastra cyber itu. Bandingkan saja dengan komunitas-komunitas sastra di darat atau eksklusivitas prestise sebuah halaman budaya di suatu koran misalnya. Egalitarian, kebebasan individu, demokrasi yang ditawarkan media cyber serta kelapangannya dalam mengakomodasi segala jenis manusia dan ragam karya di dalamnya tanpa adanya pintu-pintu terkunci jelas tak bisa dikatakan eksklusif, justru sebaliknya.

Semua sastrawan secara individual harusnya terus bergulat menggali potensi dirinya sendiri dengan media apapun yang dikuasainya. Isolasi ruang gerak sastrawan berdasarkan media yang digunakan tak akan membawa manfaat apa pun, justru kontraproduktif. Semestinya sastrawan bisa bergerak di segala media, baik cetak maupun elektronik. Apakah seorang penyair yang biasa menulis puisi di atas kertas wangi lantas akan turun mutu puisinya ketika ia menuliskannya di atas dinding toilet? Kalau seorang penyair hanya bisa mengungkapkan kegelisahan remaja mencari jati dirinya atau kecengengan romatis-emosional tentu bukan karena medianya melainkan karena baru sejauh itulah perjalanan puitis penyair tersebut.

Menggeneralisasikan kualitas karya sastra cyber hanya dari satu-dua karya ditambah dengan apriori terhadap nama-nama penulisnya yang belum dikenal di dunia sastra sungguh tidak objektif dan semena-mena. Puisi tetaplah puisi, baik ia ditulis oleh seorang penyair sufi maupun seorang atheis pemabuk, seorang sarjana sastra maupun seorang ibu rumah tangga. Di dunia sastra cyber yang bukan penyair pun boleh ambil bagian. Sejauh ini belum ada satupun studi kritis atas karya-karya sastra cyber yang tak terhitung jumlahnya itu. Apakah semua karya tersebut rendah kualitasnya? Pertanyaan tersebut bisa juga berbunyi: apakah semua karya yang dimuat di koran dengan seleksi ketat redaktur itu (dijamin) tinggi kualitasnya?

Dunia sastra cyber memang bebas. Sebagai konsekuensinya, terhadapnya tak bisa dipakaikan satu acuan nilai saja. Sebagai dunia dengan ragam nilai, ragam kriteria, ragam standar, sastra cyber tak bisa dilihat dengan satu kacamata saja. Pembaca cyber yang sudah merasakan dan memahami psikologi dunia maya umumnya terbiasa dengan cara pandang multifaset seperti itu dan karenanya mereka cukup kritis memilih apa yang ingin mereka baca atau mereka lewati. Mungkin kini saatnya sastrawan terutama kritikus sastra kita membiasakan diri untuk menyediakan lebih dari satu kacamata, agar tidak mudah apriori dalam membaca hal-hal tersebut.

Belum terdeteksinya minat para akademisi, dalam hal ini para guru besar sastra, atau para kritikus sastra Indonesia, untuk terlibat dalam sebuah perbincangan konstruktif tentang sastra cyber. Agak sulit membayangkan di Indonesia akan bisa terjadi sebuah diskusi hangat yang mencerahkan antara figur-figur di kubu narratology semacam George Landow atau Katherine Hayles di satu pihak yang khatam ilmu sastra era Victoria namun juga intens mengamati perkembangan sastra digital, menghadapi para guru besar - dan calon guru besar- di kubu ludology yang berada di usia 40-an seperti Espen Aarseth atau Nick Montfort yang melewatkan masa remaja mereka bersama Lara Croft dari Tomb Raider.

Maju Terus Sastra Cyber!


Dikutip dari berbagai sumber di seantero jagat cyber :-)
Coba aja bandingkan puyengan mana, baca note saya ataukah baca link-link berikut ini:
1. http://www.sinarharapan.co.id/berita/0410/04/hib02.html
2. http://en.wikipedia.org/wiki/Narratology
3. http://en.wikipedia.org/wiki/Game_studies
4. http://en.wikipedia.org/wiki/George_Landow_(professor)
5. http://en.wikipedia.org/wiki/N._Katherine_Hayles
6. http://en.wikipedia.org/wiki/Espen_J._Aarseth
7. http://en.wikipedia.org/wiki/Nick_Montfort
8. http://en.wikipedia.org/wiki/Lara_Croft

hehehe...

Comment Teman-Teman yang Menyempurnakan Tulisan ini:

Written about a week ago - Comment

Bumikelana Esfieana Elang at 11:39pm February 8
Whaaaaa.. keren nih..
Nuruddin Asydhie di tag deh Anita..

Dia pasti baca..Iya, memang bukan itu lagi intinya, melainkan tanda kutip yang ada pada tajuk di kolom koran Kompas tempo hari. Yang sempat buat heboh sebagian warga sastra FB, sedikiiiit...........
Sudah ada di komen catatan na itu.. :)

Hudan Hidayat at 11:48pm February 8
anita yang baik, minta izin mengutip tulisanmu ini untuk makalah yang kupersiapkan untuk seminar di malaysia itu ya. Semoga aku bisa memberikan komen yang memadai beok untuk tulisanmu ini. Salam hormatku padamu.Hudan

Bumikelana Esfieana Elang at 11:49pm February 8
*tuhkan* :D

Anita Lindawaty SSi MSi at 11:57pm February 8
@ hudan: waahh... silahkan aja uda hudan, lah wong saya juga dapet mengutip kok hehe... gara2 penasaran, sekedar mencoba figure out what's going on :-)

@ Bumikelana: ho oh Na... cepat sekali dirimu mampir, makasih :-)aku jadi begadang juga nih hihihi... tapi gak bakal sampe pagi lah, emangnya batman ***lirik yuswan***

Bumikelana Esfieana Elang at 12:01am February 9
Cak Yus itu lagi nemenin dakyuh nangkep maling, Anita..

Yang kutip2 ini lumayan berbicara.. Bagus.. Semangatmu keren..
Karena engkau, aku jadi yakin, An..
*yakin apa? nanti lah ya* :)

Hudan Hidayat at 12:03am February 9
kamu bukan hanya mengutip, tapi meneguhkan pendirian tentang sastra siber kukira anita. Dengan mempertanyakan sastra adalah sastra, menoho mereka yang mapan, dan yang paling kusuka: maju terus. Nah ini kan kita banget secara idih secara hehe kita yang gemar melihat kehadiran tiap nilai tergelar dalam semangat duduk sama tinggi beridir sama rendah ah maju terus anita. Ajak jagoan kecilmu joshua bersama. Tu kan kta na hehe

Anita Lindawaty SSi MSi at 12:12am February 9
@ hudan: Nah, itu dia tuh uda, strata & kasta dalam kesusastraan negeri ini dibikin atas dasar apa? itu saya yg gak paham... kalo kasta di bali (dalam agama hindu) sih saya ngerti hihihi...

@ Bumikelana: wa duh... nangkep maling dimana? ceritanya lagi pada ronda nih ampe pagi, silahkan diteruskan deh, saya permisi... :D si yu tumorrow :-) ***si yu tumorrow nya pake style nya sapa yah haha***

Yuswan Taufiq at 12:16am February 9
Wuaa...namaku dilirik nih..hahahaha.. :-P
*ssstttt..banyak yg jd Batman lho Nit di cyber ini* :D

Wah..daku hanya menikmati saja Nit..secara daku nih masih gapwas-was (gagap wawasan-waspada) hehehe

Hidup Anita!
*eh..mank slama ini gak ya?* hehehe

Maju terus sastra cyber....*halah...telat*

(malingnya dah lari ke mana ya Na?)^^

Bumikelana Esfieana Elang at 12:23am February 9
Mbuh Cak.. Dc2 melulu ini.. Kawanku wis off.. Kota Malang lagi angin kencang.. :((

Yuswan Taufiq at 12:25am February 9
Lhaaaa...kok di sini jadi tempat ngobrol Na?
*ntr digampar orang2 loh Na* hehehe

Gut nait Nit...hehehehehe

Bumikelana Esfieana Elang at 12:29am February 9
Halah.. Iya2.. Pamit ya Anita darling.. Muah..
*nang kandangku apa kandangmu Cak? langsung aja ya?*

Andreas T Wong at 12:34am February 9
huhuhuhuraaaaa... yipppy..piiye.... rame-rame ngerumpiku hanya menikmati... yang jelas dunia maya ini bergerak lebih cepat dari orang/pakar yang mengupasnya.. belum selsai dia seleksi satu besok sudah berhamburan seribu.... penikmat disajikan jajanan sesuai selera..... hehehe...
tu wa ga pat... matuk matuk wajah gawat kena ketupa.... hehehe

Justin Chandra at 1:23am February 9
Menurut anita, aku dapat dikatagorikan sastrawan cyber bukan?
Atau sastrawan cyber yang baru sampai tahap cinta-cintaan remaja?

Yang aku tahu, aku sastrawan hyper, bukan cyber.. Hahaha

Hudan Hidayat at 2:43am February 9
(emang siapa pengamatnya?)

Apa logis dan bijak mendesak untuk minta dibaca? Atau seperti di sebuah note terbaca olehku, tanpa angin tanpa hujan mendadak seperti orang marah memberondongkan aspirasi atau ideal sastra yang nothing, atau tiba tiba ingin mencuri perhatian dengan meneriakkan stop sastra porno (tahukan dia quran itu sendiri menceritakan adam dan hawa telanjang? Yusuf yang berkeinginan pula atas zulaikha kalau tak dicegah tuhannya?)

Ada ada saja.

Yang perlu dikejar itu mereka yang berkuasa dan jelas jelas telah membenamkan sastra indonesia ke tingkat amburadulnya segenap acuan sastra, bukan sebuah kehendak suka rela yang, sejatinya, adalah niat untuk menandingi power full dalam sastra.

Saya sendiri menulis dalam sunyi nyaris mau 15 tahun, berdiam diri mengejang dalam tubuh sendiri. Tak pernah mendesak siapapun untuk membaca.

Sesuatu akan matang dengan sendiri tanpa perlu dimatangkan.

Ada juga terlihat di mataku sikap orang tua yang hendak dilawan itu menjangkit anak anak muda di sini: belum jadi apa apa sudah pandai berdiam diri - seolah menjaga citra (atau mungkin takut dengan kekuasaan sastra yang suka membunuh itu?). Seolah ini note siapa dulu baru dengan secuil kata kata angkat bicara.

Kepada anak anak muda ini dengan cepat sekali aku akan menarik dukunganku. Bagiku tak menjadi soal game yang sedang kumainkan ini akan jadi apa nantinya, kalau apa yang kuidealkan dalam kehidupan sastra itu, belum apa apa sudah kulihat bibit bibit penyakit di orang tua yang hendak kulawan sendirian itu, ada di antara kita.

Aku sudah terbiasa sendirian dan asyik saja sendirian.

Biarlah sastra indonesia ini bermain dan dimainkan orang orang yang tak paham hidup itu sekehendak hatinya sendiri.

Hudan
(anita dan kemuning yang baik apa kabar? Deasyyyy deasykuuu)

Deasy Nathalia at 6:19am February 9
aih aih..aku disini jiyiku...he he he...maaaf baru baca...dan aku orang yang paling telat ternyata....Komentarku cuma satu...ulasanmu HEBAT !!!! canggih banget !! wah bukan bidangku deh nulis ulasan kayak gini....Kau HEBAT !!!!Maju teruuuuzzzz
@ Mas Hudan...aih aih lagi ah...

Weni Suryandari at 6:36am February 9
Juedddeeeerr!!! Sesuatu yang membuatku tertegun. Pertanyaan yang selalu menggaung di benakku. Kenapa dibilang bukan sastra, atau sastra sampah? Siapa bisa menjamin bhwa karya yang bertumbuh deras via internet ini bukan sastra? Kupikir semua punya nilai

Weni Suryandari at 6:41am February 9
dalam tingkat apresiasi penulis maupun pembaca. Ketika karya dihadapkan pada selera apresian, maka yang terjadi adalah selera individu dg tingkatannya sendiri2. Ketika karya adiluhung penyair yang dipuja dianggap luar biasa, kutengok ia. Dan yang ada

Weni Suryandari at 6:46am February 9
Adalah tak jauh beda dg karya teman2 lain yang tentunya punya makna. Hanya berbeda pada peletakan bentuk, yang seharusnya satu larik utuh ke samping, tapi ia terputus, lanjut ke bawah, begitu seterusnya. Ah. Aku suka artikelmu anita. Bang hudan, kita

Weni Suryandari at 6:51am February 9
Memang harus maju terus....apa mau berhenti pada teori2 yang kalah cepat mengedepan dengan karyanya. Wuah, ...salut aku, anita. Bang hudan....aih, kau ini kemana saja? Kangen

Anita Lindawaty SSi MSi at 9:02am February 9
@ wong: setuju satu hal denganmu bahwa belom selesai kritisi satu karya sastra, besok sudah muncul lagi seribu :-) Fenomena yg bagus dong, suatu ketika nanti pertumbuhan para kritikus juga akan berbanding lurus dengan pertumbuhan karya sastra cyber itu sendiri. Liat aja, kita tiap hari menulis sekaligus juga komentarin tulisan temen bukan? Sadar gak, sembari menulis kita berlatih jadi kritikus juga? Pada akhirnya SELEKSI ALAM akan berlaku di sini: akan ada yang tetap eksis sebagai penulis atau sebagai kritikus ataukah justru penulis sekaligus kritikus, juga tidak mustahil akan banyak yg gugur, alias mandeg.

Anita Lindawaty SSi MSi at 9:10am February 9
@ JC: Tentu saja JC sastrawan cyber, jelas2 JC publish tulisan JC di media cyber hehe... JC sudah sampai tahap apa, I don't know yet hehe, itu sih masalah proses. asalkan JC gak berhenti menulis tentu akan masuk katagori eksis :-) semalem gue berniat menjadikan satu karyamu sebagai contoh kasus, untuk melukiskan "Jati Diri" sastra cyber suatu ketika nanti. Berhubung sudah dini hari, mengingat "buruh pabrik" harus berangkat kerja pagi2 hihihi, jadi cepet2 ditutup note nya, mungkin di next note deh...

Anita Lindawaty SSi MSi at 9:26am February 9
@ deasy:aih..aih.. deasy fotomodel yg selalu berseri-seri... siapa bilang dirimu telat, lah note baru dipublish dini hari tadi kok. makasih sudah mampir hihihi aih :-) *lhooo...*

@ weni: Juedderr?!? biz nabrak apa jeng? benzol gak tuh jidat hehe...Semuanya itu kan berproses dan SELEKSI ALAM berlaku disini, kita yang menentukan pilihan, maju terus atau berhenti. Gak perlu patah semangat hanya seribu dua ribu komentar negatif tentang tulisan kita. Sesungguhnya kita cuma butuh SATU dukungan saja untuk bisa meneguhkan langkah kita untuk maju. Jika SATU dukungan itu tidak bisa kita dapatkan dari orang lain tentu bisa kita raih dari DIRI KITA SENDIRI bukan? :-)

@ hudan: setuju dengan uda hudan, kenapa mesti takut sendirian?ada banyak hal yang justru bisa kita pahami ketika sendiri hihihi...

Embie C Noer at 10:31am February 9
Maju Terus Sastra Cyber ! jargon2 macam ini khas budaya partisan dan sering bikin segalanya berarti cuma jadi gerakan linear hanya ke depan dengan segala angan-angan sama dengan di sana atau di situ, terlalu sederhana dan miskin untuk hidup di dunia cyber. kalau di sana ada american idol kita bikin indonesia idiot, begitu seterusnya. tidak boleh menolak karena menolak berarti mati dan yang ikutan berarti... dalam sastra cyber pun tentu nanti akan ada strata atawa kasta yang sama.. jadi kekurangan model awal tidak perlu terlalu bersemangat untuk dibawa ke dalam sini. tak ada yang perlu diyakinkan selain pertanyaan, pada satra cyber diskusi kapitalisme menjadi tidak relevan atau dikoreksi lagi, benarkah?

Anita Lindawaty SSi MSi at 12:01pm February 9
@ Embie: aih..aih... om embie... terimakasih sudah mampir di mari :-)Saya saat ini blom tau pasti persisnya jati diri sastra cyber itu akan seperti apa om, karena itu judul note nya 'Mencari Eksistensi & Jati Diri Sastra Cyber'. Semalam saya sempat punya sedikit visi tentang sastra cyber yg blom sempat saya muntahkan di note ini.

Komentar om embie ini manis sekali, membuat saya menela'ah kembali, merevisi dan ingin menggali lagi untuk melengkapi visi tersebut, insya allah akan saya sempatkan tulis di next note, sekali lagi makasih om embie...

Sastra cyber masih mencari Jati Diri dan akan seperti apa Eksistensi nya nanti? Sekiranya dipandang sebagai revolusi, sudah pasti akan ada benturan (kecepatan tinggi?) di sana-sini. apakah ini gerakan linier? jadi inget gerak linier di fisika (hehe), gerak linier di alam ini gak ada yg bener2 linier om, akan ada regresi, retensi bahkan turbulensi, mungkin sekali. apakah akan ada strata & kasta jg? bisa jadi! kita lihat saja nanti :-)

Justin Chandra at 12:20pm February 9
Hahaha.., jujur, walau note ini adalah jurnal ilmiah, tapi enak banget ya bacanya..Jangan2 yang ada di link itu lebih asik dibaca? Hayo.. Siapa yang mau baca?

Jorgy Ibrahim Murad at 12:42pm February 9
sastra cyber gak perlu aktualitas cetak?

Anita Lindawaty SSi MSi at 1:07pm February 9
@ Jorgy: merujuk pada alinea ke-14 note ini: Semua sastrawan secara individual harusnya terus bergulat menggali potensi dirinya sendiri dengan media apapun yang dikuasainya. Isolasi ruang gerak sastrawan berdasarkan media yang digunakan tak akan membawa manfaat apa pun, justru kontraproduktif. Semestinya sastrawan bisa bergerak di segala media, baik cetak maupun elektronik.

Jadi kalo ditanya: sastra cyber gak perlu aktualitas cetak?saya jawab: bisa YA, bisa TIDAK :-)YA, karena sastra cyber tidak membatasi ruang gerak sastrawan, jika mungkin & ada peluang karyanya yg digemari di cyber untuk dicetak, why not? Graffiti Gratitude sendiri sastra cyber yg dicetak :D

TIDAK, ini jika suatu ketika nanti visi saya tentang sastra cyber menjadi nyata, dimana karya sastra cyber hanya bisa dinikmati di media cyber tidak bisa reinkarnasi jadi satra cetak. Kenapa bisa begitu? Tentang hal ini insya allah akan saya tumpahkan di next note :-)

Nurdin Ahmad Zaky at 1:13pm February 9
Diskusi yang menarik..tak ambil kopi dulu ah biar tambah enak bacanya.

Anita Lindawaty SSi MSi at 1:18pm February 9
@ JC: sebenernya ada lebih banyak link yg sempet gue buka yg gak sempet gue catet, dicari lagi gak nemu haha... Link yg ntu tujuannya untuk nambah puyeng hehe gak ding, untuk tambahan data sekaligus compare mungkin gue salah 'kutip' hehe... kan bisa CMIIW :-)

link yg pertama itu lumayan asik tuh, gue mendengar "teriakan" saut situmoang di sana hehe... *piss bang saut*

tapi kalo gue sih paling asik link terakhir, mengingat gue fan tomb rider.
Tadinya mo ajak Anakin (dart vader) yg di star wars juga haha...

Anita Lindawaty SSi MSi at 1:21pm February 9
@ naz: yuk naz yuk... sambil ngupi enak neh hehe. Biz gue dah mulai puyeng neh, comment nya berat2 bikin gue serasa sedang mempertahankan skripsi di ruang sidang tugas akhir dihadapan profesor2 'killer' haha...

Jorgy Ibrahim Murad at 1:23pm February 9
bener tuh.ini ada pandangan lain. sastra maya tidak perlu "legitimasi" lewat medium cetak, dan "legitimasi cetak" tidak signifikan utk kategori sastra maya. so, in the future, ga ada lagi pertanyaan "udah berapa buku yg elo bikin?" atao "udah terbitin berapa buku?" and so on... yg menjadi patokan bagi dunia sastra maya... biarkan sastra maya hidup secara maya, dan pengembangan medium ke cetak menjadi salah satu branches saja... gmana tuh?

Anita Lindawaty SSi MSi at 1:32pm February 9
Ralat comment @ Jorgy: berhubung pertanyaannya pertanyaan negasi, jadi jawaban Ya & Tidak saya ketuker alasannya hehe... maaf! kurang teliti...

dengan demikian kekeliruan sudah saya ralat. thanks...

Saut Situmorang at 1:45pm February 9
sejarah sastra cyber Indonesia itu bisa dibaca di buku kumpulan esei yang aku editorin berjudul "Cyber Graffiti: Polemik Sastra Cyberpunk (YMS dan Jendela, 2004).

tahun 2003 komunitas Cybersastra (Yayasan Multimedia Sastra) mengeluarkan sebuah antologi puisi multimedia dalam bentuk CD-ROM berjudul "CYBERPUITIKA" yang memakai "teknik menulis" Powerpoint. ini yang pertama di Indonesia.

satu kritik atas Note ini:

Radio Republik Indonesia alias RRI dan juga banyak radio swasta di Indonesia sudah sangat lama bahkan sampai hari ini punya program Sastra, terutama baca puisi dan cerpen. jadi radio kita gak kalah ama yang di luar sono.

Anita Lindawaty SSi MSi at 1:45pm February 9
@ Jorgy: untuk saat ini? bisa jadi, why not? faktanya saat ini, banyak blog yg 'best reader' di cyber dilirik penerbit, kumpulan ceritanya menjelma jadi novel & dicetak.

Tapi, jika suatu ketika nanti, sastrawan cyber gak sebatas mumpuni dalam urusan membuat karya sastra tapi juga menguasai teknologi IT, katakanlah dia bisa bikin applied Java atau CGI untuk support karya sastranya. Maka pada era itu, sastra cyber akan punya jati diri nya sendiri, sehingga hanya enak dinikmati di media cyber, tidak bisa reinkarnasi ke media cetak lagi. Ini mungkin sekedar visi saya semata, tapi saya lihat ini mungkin sekali terjadi pada era Joshua, misalnya.semoga saja :-)

Justin Chandra at 1:46pm February 9
Saya tidak tahu teorinya, tapi jika memang benar sastra itu berperan dalam membentuk budaya dan menyeimbangkan fungsi otak kanan, maka aku adalah korban terhormat dari sastra cyber ini.

Ya terhormat, karena aku belajar mengkritisi dengan jujur, atau dengan bijak, atau lebih sering dengan asbun.Aku juga belajar menulis untuk malu-maluin diri, atau untuk jujur, atau untuk memuaskan orang lain.

(aku koq senang ya mondar-mandir di sidang tesis ini, punten ya bapak ibu doktor penguji)
pee & peace ah..

Anita Lindawaty SSi MSi at 1:58pm February 9
@ saut: di alinea ke-6 saya tulisnya 'kurang digarap' bukan gak ada sama sekali hehe... anyway, thanks kritiknya juga diingatkan, iya yah... kok saya gak inget ke sana hehe... sandiwara radio juga termasuk sastra radio yah? secara saya juga penggemar sandiwara radio 'misteri gunung merapi' & 'tutur tinular' pada zaman sma dulu, ko ping ho juga saya suka haha... *lhooo...*

makasih untuk tambahan infonya & makasih juga dah mampir di mari :-)

Jorgy Ibrahim Murad at 1:59pm February 9
mungkin gak kaya gini?
1. literatur maya pertama dilakukan oleh penemu software word...
2. dunia sastra maya akan dikuasai mereka yg ahli IT
3. ada dua konteks sastra:
1) print-based dengan legitimasi rilisan buku/terbitan media dan
2) net-based dengan aktivitas offline berupa gestural/performance

Saut Situmorang at 2:00pm February 9
kalok kita ngomongin "kapitalisme" maka koran dan buku (juga majalah. pokoknya yang serba cetak dan serba kertaslah) merupakan produk kapitalis awal yang dilahap penduduk negeri kepulauan ini, lalu radio, televisi, sepeda, mobil, sepeda motor, bioskop, pesawat terbang, handphone... (belom lagi pakaian kita kayak kemeja, celana, kaos t-shirt. belom lagi jalan raya, jalan kereta api dan kereta apinya, listrik, air ledeng. belom lagi kacamata, sepatu, celana dalam, beha, kaos kaki. belom lagi piring, gelas, thermos, sendok garpu, kompor. pokoknya kalok gak mau produk kapitalis tapi hidup di zaman sekarang ya silahkan bunuh diri aja!)

bahkan sebagian nama orang di negeri kepulauan ini adalah "nama" kapitalis, kayak Robert, Richard, Andreas, Justin, Maria, Anna, Anita... kecuali Saut Situmorang!!!

tidak semua produk kapitalisme itu jahat, haram jadah dan harus ditolak!

tidak semua produk non-kapitalis itu bagus, halal dan menyehatkan jiwa-raga!

yang paling penting: live n let live!!!

Saut Situmorang at 2:09pm February 9
sandiwara radio jelas bukan Sastra tapi sandiwara ato drama. tapi teks naskahnya itu yang Sastra. harus dibedakan naskah dan pertujukan dalam konteks Teater/Drama.

sastra cyber yang gak mau pakek "bahasa/kode internet" adalah juga sastra cyber yang sah kayak yang pakek bahasa/kode internet.

apa kalok sastra cyber itu udah pakek "bahasa/kode internet" maka produknya akan jadi lebih "estetis" dibanding yang kagak! apa ukurannya? siapa yang membuat peraturan ini?

orang pseudo-kritikus kayak si Faruk dari UGM itu MEMBACA produk sastra di internet masih dengan ABC, masih dengan Kamus membaca sastra koran/majalah/buku makanya selalu mintak Sastra Cyber untuk Dituliskan beda dari sastra kertas. dia meminta sastrawan cyber untuk menulis karya dengan cara berbeda dari sastra kertas tapi dia sendiri masih belom beda cara bacanya dari orang yang biasa baca sastra kertas! inilah persoalan besar pseudo-kritikus di Sastra Indonesia kontemporer!!!

Anita Lindawaty SSi MSi at 2:10pm February 9
@ Jorgy: gue comment yg no 2, gue agak kurang sreg dengan kata 'dikuasai' karena mengacu pada penjajahan & dominasi, mengingat penjajahan diatas dunia harus dihapuskan :D Probabilitas nya bisa duplex (pinjem istilah komunikasi data dlm IT) alias dua arah:

1. sastrawan yg beradaptasi dengan program IT (boleh dibilang sastrawan melek IT, pinjem komunitas nya Kang Onno W Purbo, komunitas melek IT)

2. programmer IT yang terseret arus sastra cyber, sehingga produktif & mumpuni mencipta karya sastra.

Saut Situmorang at 2:17pm February 9
coba kita "selidiki" dulu sastra kertas, yang kertas koran itu misalnya. bukankah ada begitu banyak cara memPrint huruf dan kata yang bisa dilakukan dengan mesin cetak, bahkan terdapat banyak pilihan Warna untuk huruf ato kata! tapi kenapa yang muncul di koran dan majalah itu TUNGGAL jenis Font dan tipografi sajak-sajaknya! kenapa gak ada pseudo-kritikus yang pernah mempersoalkan ini seperti mereka meributkan "bahasa internet" pada Sastra Cyber!!!

jadi, BUKAN cuma pada medium Internet bahasa penulisannya itu khas, bahkan pada medium Koran pun begitu. bedanya, sekali lagi, bahasa medium Koran itu gak pernah diikutkan dalam "mengkritisi" Sastra Kertas Koran!!!

Anita Lindawaty SSi MSi at 2:19pm February 9
@ saut: Ntar dulu bang, nama Anita yg beraroma kapitalis itu tentu bukan Anita Lindawaty kan hehe...

Nah, itu dia bang, mestinya neh para akademisi guru besar sastra negeri ini duduk sama-sama sambil ngupi ngerumpiin sastra cyber, jadikan silabus mata kuliah kek, bikin batasan baku area mana yg kudu mesti ada (ciri khas sastra cyber) & area mana nyang boleh improvisasi kek, supaya buntut2nya jelas jati diri sastra cyber.

Saut Situmorang at 2:22pm February 9
Sastra itu adalah Seni Berbahasa Tertulis BUKAN seni memainkan Kode! bagaimana seseorang mengeksplorasi segala kemungkinan yang ditawarkan Bahasa Linguistiknya (dalam berkisah tentang sebuah Tema/Topik), itulah hakekat Sastra itu!sebuah iklan multimedia ber-Flash dalam Internet kan gak pernah dianggap karya Sastra!!!

Anita Lindawaty SSi MSi at 2:31pm February 9
@ saut: gue setuju bang, iklan = advertising = iklan, tentu bukan karya sastra hehe...

gue akan bahas urusan ini dalam next note, ntar bang saut mampir lagi yah :-)

Justin Chandra at 2:57pm February 9
Kalau scriptnya karya sastra bukan?????

Aku baru sadar, namaku produk kapitalis.. Hahahaha..
Bapakku tukang nonton film kapitalis sih..

Mikael Dewabrata at 6:26pm February 9
kyknya satu cerpen gw masuk di kumpulan cerpen cybersastra deh ..

Saut Situmorang at 6:50pm February 9
Cybersastra pernah satu kali nerbitin sebuah kumpulan cerpen pendek,
judulnya "graffiti imaji" (YMS, 2002).

Onno W. Purbo at 6:56pm February 9
sastra cyber ... istilah yg menarik. Apalagi kalau tahu pemikiran di balik istilah tersebut. Membuat orang mau mengadopsi istilah nanti merupakan seni tersendiri ..

contoh - dulu beberapa rekan berusaha menggunakan istilah WARIN .. akhirnya yang menang istilah WARNET :)padahal dari sisi kaidah menyalahi WARTEG, WARTEL ..

Dari sisi filosofy juga menarik karena sastra cyber menantang kemapanan seperti hal-nya- copy right vs. copy left / copy wrong- major label vs. internet label (untuk lagu)- akreditasi vs. pengakuan masyarakat- sertifikat / ijasah vs. pengakuan masyarakatdll .. masih banyak lagi ..

Membuat orang mau mengadopsi sebuah istilah
merupakan seni tersendiri ... semoga sukses :) ..

Anita Lindawaty SSi MSi at 7:14pm February 9
Saya sengaja mengundang (tag) kang onno w purbo ke note ini, biar ada masukan diri sudut pandang berbeda, mengingat kang onno ini penggagas 'komunitas melek IT' dan 'memperjuangkan internet murah kalo pinjem istilah beliau: Perendah IT :D'

@ Kang Onno: hatur nuhun kang, tidak disangka kang onno bisa datang dalam hitungan detik, internet memang memangkas jarak ruang & waktu :D

Dari sudut pandang e-commerce bagaimana kang? apa sastra cyber bisa punya nilai ekonomis?kita liat beberapa contoh kasus dimana tulisan di jagat cyber ini bisa menghasilkan nilai ekonomis:
1. Belakangan ada lomba blog, hadiahnya lumayan (nu hajatannya speedy tea)
2. Kumpulan posting blog dilirik penerbit lalu berrainkarnasi menjadi sastra cetak, menghasilkan duit juga :-)

Tapi apa mungkin dijadikan sebuah komoditi e-commerce?

Joshua Martin Johannes Lim at 8:27pm February 9
Informasi dan liputan terkeren yang saya lihat...
Kebetulan saya suka banget ama yang namanya berita, dan kalo saya nulis, semuanya pasti berita. Jaminan 99,999999999999999999999999999999999999999999999999% deh.

Joshua Martin Johannes Lim at 8:27pm February 9
Maap neh, agak panjang.

Anita Lindawaty SSi MSi at 8:17am February 10
@ joshua: tulis 99,99% nya yg agak panjang atau comment joshua?
panjang mana sama comment om hudan mu itu josh? :D

Wahyu Pambudi Sastrodiwiryo at 9:02am February 11
bagaimana jika semua komentar di sini, dirangkum Anita dani ditambahkan pada note tersebut di atas?Pastinya akan lebih memperkaya tulisan Anita.

Lebih dari itu, menurut aku pribadi sebuah "karya" apapun bentuknya, adalah bersifat nisbi bagi siapapun,yang karena kerelatifannya tersebut sebenarnya segala macam komentar/ kritik/ saran/ penilaian etc pada dasarnya harus bersifat konstruktif. Tidak ada suatu karya yang layak dibandingkan satu dengan yang lain, bahkan saat kita harus compare "apple to apple" kita tidak akan pernah bisa memberikan penilaian yang "layak" mana apel yang yang lebih baik dari satunya.jadi menurut saya sudah seharusnya setiap "karya" kita hormati.

Bagaimana menurut anda?

Anita Lindawaty SSi MSi at 9:30am February 11
@ Hudan: uda hudan kalo mau kutip note ini sekalian sama comment2 nya, bener tuh usulnya yudhi, kalo comment2 di sini uda rangkum akan menambal bagian yg kurang di note ini :-)

@ Yudhi: boleh tuh usulnya untuk merangkum comment ini karena aku sendiri merasakan banyak input di comment2 ini, tapi baiknya gak ditambahkan di note ini supaya tampak jelas kontribusi comment2 di sini dalam menyempurnakan tulisan asal jadi saya ini hehe.

Saya setuju tiap karya mesti dihormati, secara karya merupakan hasil buah pikir tidak perduli siapa pun pembuatnya (untuk urusan ini tidak boleh ada diskriminasi, karena ini menyangkut kebebasan berekspresi, bukan?).

Mengenai sifat nisbi sebuah karya, saya rasa ini mengarahkan kita pada selera yah yud? kita bicara selera hanya jika kita memandang sastra sebagai komoditi yang punya nilai ekomonis, maka kita perlu pertimbangakan selera konsumen penikmat sastra kita.

Anita Lindawaty SSi MSi at 9:30am February 11
@ yudhi: Tapi diluar itu, sastra sebagai sastra ya adalah sastra, beda penilaian itu hanya masalah interpretasi saja, saya kira. Tapi saya setuju satu hal, penilaian sebaiknya bersifat konstruktif :-)

Mengenai compare karya satu dengan karya lainnya, sebatas itu untuk keperluan penilaian konstruktif, why not yud? Justru dengan proses compare itu, kita tau mana berkualitas mana tidak dan tidak main pukul rata. Apakah apple to apple atau gak, bisa dilihat dari bagian mana yg di-compare itu :D

Steven Kurniawan at 4:13pm February 15
wah. kau pengamat sastra juga yah? (boleh dibilang sastrawan barang kali. hehe) maju terus! =)

Anita Lindawaty SSi MSi at 7:02pm February 15
@ steven: wa duh.. stev, keren sekali kalo saya dianggap pengamat sastra apalagi sastrawan hehe... saya rasa tentu blom sampe tahap itu lah saya :-) Saat ini saya lebih merasakan jati diri saya sebagai seorang chemist, saintis dibidang kimia walau baru sebatas mencipta beberapa formula...

Mengenai kesusastraan negeri ini, saya merasakan sedikit keperdulian yang diam-diam menyusup di hati... baru sebatas ini hihihi...

anyway, thanks a lot stev, sudah mampir di mari :-)

Steven Kurniawan at 7:56pm February 15
haha. sama2. aku sendiri lebih senang dibilang seniman daripada org yg punya urusan sama sastra.

Anita Lindawaty SSi MSi at 8:41pm February 15
@ steven: waaa... give me five... hehe...

Steven Kurniawan at 9:26pm February 15
five.. lol...

Kurniawan Yunianto at 11:19pm February 15
aduh jeung anita maaf ya, nggak bisa komen yang macem2 ... aku ikut menyimak saja ...
btw ... dunia sastra juga butuh orang2 seperti njenengan lho ...
yang juga mengamati dan menuliskan hasil pengamatannya ...

thx ditag
salam & senyum semua
eh ada stefen hai steve

Anita Lindawaty SSi MSi at 8:37am February 16
@ Mas Kur: wa duh... matur nuwun loh sudah mampir di mari hihi...
ho-oh po mas? waa... senang sekali kalo ternyata aku dibutuhkan dunia, dadi lebih berusaha lagi untuk menghargai kehidupan dengan melakukan hal2 yg berarti buat orang lain :-)

January 6, 2009

Sepercik Cinta Diujung Lelah

Jangan dikira cinta itu datang dari keakraban yang lama
dan karena pendekatan yang tekun.
Cinta adalah kecocokan jiwa dan jika itu tidak ada,
cinta tidak akan pernah tecipta dalam hitungan tahun bahkan abad...


-Khalil Gibran-

Aku baru mengenal Jeff empat bulan yang lalu, tapi rasanya seperti sudah empat puluh musim panas kulalui bersamanya. Bagaimana tidak, aku mengenal setiap riak emosi dalam dirinya.
Aku dapat membaca suasana hatinya hanya dari caranya merespon sms yang kukirimkan.
Aku bahkan dapat menemukan motif dibalik setiap tindak tanduknya.
Inikah yang disebut kecocokan jiwa?

Aku baru satu kali bertemu Jeff, tapi rasanya sudah ratusan kali aku melihatnya, merangkai hari bersamanya. Bagaimana tidak, aku dapat melukiskan setiap detail parasnya, setiap ekspresi perubahan emosinya, juga gaya bicara dan caranya tertawa.
Inikah yang disebut kecocokan jiwa?

Aku tidak tahu, namun inilah yang aku rasakan terhadap Jeff.
Entah apa yang Jeff rasakan terhadapku. Mungkin saja Jeff merasakan hal sebaliknya,
atau justru merasakan hal yang sama namun mencoba mengingkarinya.
Entahlah, aku sungguh tidak tahu dan terlalu lelah untuk mencari tau.

Aku tidak tahu sejak kapan persisnya kelelahan ini menyergapku.
Mungkin sejak Jeff keberatan aku mengenal teman-temannya.
Mungkin sejak Jeff berusaha keras agar aku tidak punya akses untuk berkomunikasi dengan teman-temannya. Atau mungkin sejak Jeff memberikan alasan-alasan tidak logis untuk setiap keberatannya. Entah apa yang dikhawatirkan Jeff jika aku mengenal temannya.
Entahlah, aku tidak tahu dan terlalu lelah untuk mencari tau.

Aku tidak dapat menghentikan keinginanku untuk menemukan jawaban dari pertanyaan "siapakah Jeff?" sejak hari pertama aku mengenalnya.
Sesuatu yang menarikku untuk mengungkap sosok Jeff secara utuh.
Sesuatu yang melahirkan eksistensi Jeff dalam denyut nadi kehidupanku dan mewarnai hari-hariku dengan komunikasi ponsel dan internet, melintasi batas ruang dan waktu.
"Jeff, udah tidur yah? really sorry kalo ganggu, gue gak bisa tidur nih. Elo masih di bandung yah?" suatu ketika pada dini hati, lewat tengah malam.
"Nggak lah. Kan besok gue kerja. Kok pertanyaannya lucu sih?"
Jeff merespon juga, mesti pertanyaan itu tidak penting dan dilemparkan pada waktu yang tidak semestinya. Aku mengamati sekelilingku, senyap terlelap dalam istirahat malam.
Mendadak sesuatu yang sepele menjadi penting. Aku menemukan seorang teman, aku menemukan Jeff dalam kesendirian malam. Apakah Jeff merasakan kesendirian yang sama? ataukah aku membuatnya terjaga dalam kesendirian?
Entahlah aku sungguh tidak tahu dan terlalu lelah untuk mencari tau.

Seorang teman, yah seorang teman yang baik. Aku ingin menjadi seorang teman yang baik untuk Jeff. Setiap hari aku merangkai doa yang sama.
"Tuhanku, aku tahu persis Jeff tidak mungkin jatuh cinta padaku. Aku pun tidak memohon kesempatan pacaran apalagi menikah dengan Jeff. Aku hanya mohon padaMu, lembutkan hati Jeff terhadapku agar aku dapat menjadi teman baik buat Jeff dan Jeff menjadi teman baik untukku." Apakah Tuhan setuju denganku dan mengabulkan doaku?
Entahlah aku tidak tahu bagaimana caranya untuk mencari tau.

Aku merasakan doaku menjadi sumber kekuatanku ketika sikap Jeff mulai melelahkanku.
Aku merasakan doaku menjadi sumber kesabaranku ketika Jeff mulai memancing kemarahanku. Aku merasakan doaku menjadi sumber ketabahanku ketika Jeff menebar jaring konfrontasi.
"Sorry, terserah elo mau bilang gue jahat atau apa, tapi please dong.
Ada beberapa orang yang gak suka dihubungi untuk hal-hal yang tidak terlalu penting.
Mohon dimengerti"
"Dan gue termasuk orang yang seperti itu, jadi mohon pengetiannya.
Dan mohon juga dimengerti, mungkin temen-temen gue tipe orang yang sama kayak gue"
"Kalo 1 - 2 kali pertama mungkin masih dijawab, tapi kalo berikutnya gak dijawab, mohon dimengerti bahwa itu menunjukkan sinyal ketidak-nyamanan. Mohon pengertiannya"

Aku mencoba bijak mensikapinya dengan sepenggal kekuatan, kesabaran dan ketabahan yang bersumber dari doaku.
"Thanks for being honest, Jeff. Semua yang elo bilang itu akan gue pertimbangkan sebagai feedback. Terima kasih sudah mengatakannya dengan sangat sopan.
Tanpa elo minta pun, gue emang harus belajar mengerti banyak hal. By the way, gue sama sekali gak bilang elo jahat kok :-) At least, sekarang gue jadi lebih memahami elo dan semoga ke depannya gue lebih tau what should I do. Sekali lagi, thanks for being honest, Jeff."

Aku menyadari kini, Jeff bahkan tidak ingin berteman denganku.
Jeff memutuskan tali silaturahmi denganku. Jeff merasa terganggu dengan komunikasi yang selama ini terjalin. Aku sangat perduli dengan ketidak-nyamanan yang dirasakan Jeff. Aku sangat ingin membuatnya merasa lebih baik. Pertama kalinya aku sulit memahami apa yang mengganggu perasaannya. Tapi aku hanya ingin menjadi teman baiknya dan Jeff menjadi teman baikku. Aku tidak pernah berhenti memanjatkan doaku, day by day, everyday. Apalagi yang dapat aku lakukan? Aku sungguh tidak tahu dan terlalu lelah untuk mencari tau.

Detik pergantian tahun sebentar lagi…
“Geby… cepet kemari dan tolong bawa terompetnya. Kita liat kembang api nya dari sini.”
teriakan Radith menggugah lamunanku.
Aku menghampiri Radith dengan terompet di tanganku. Namun anganku melayang pada Jeff. Sedang apa Jeff sekarang? Bersama siapa Jeff melewati pergantian tahun? Entahlah aku tidak tahu dan terlalu lelah untuk mencari tau.

Aku ingin sekali mengucapkan selamat tahun baru pada Jeff. Aku ingin sekali lagi berjumpa dengan Jeff. Tapi... Jeff tidak ingin aku menghubunginya. Lewat empat puluh menit dari pukul dua dini hari, akhirnya aku putuskan untuk sms Jeff.
”Sulit gue pahami apa yang ganggu perasaan elo tapi gue bisa kasi tiga alasan kenapa gue murni mo jadi good friend aja. Happy New Year, Jeff. I hope we meet again someday :-)”
Mungkin Jeff akan merasa lebih baik jika aku beri tahu tiga alasan mengapa aku hanya bisa menjadi teman baik. Sayangnya Jeff tidak merespon, Jeff tidak bertanya. Artinya Jeff tidak ingin tahu, Jeff tidak perduli dan Jeff benar-benar tidak ingin berteman denganku. Tiba-tiba kelelahan ini mencapai puncaknya, namun tidak kubiarkan merobek jiwaku.
Hanya seorang Jeff yang menolak berteman denganku, bukankah masih ada Radith?

Aku melihat Radith setiap hari pagi dan sore, dari senin hingga jum’at di atas krl AC Benteng Ekspress yang membawaku pergi dan pulang dari tempat kerjaku. Radith yang rajin mengamatiku dari kejauhan, tanpa bicara tanpa kata-kata. Sesekali aku mendengarnya bercakap-cakap dengan penumpang lain, sekali waktu aku mendengar seseorang memanggilnya ”Radith”, selebihnya aku hanya senantiasa menemukannya sedang memandangiku dari kejauhan. Lama kelamaan aku menjadi terbiasa dengan sepasang mata Radith yang menatapku dari kejauhan, seperti terbiasanya aku membeli tiket sebelum naik krl AC Benteng Ekspress.

Suatu ketika aku tidak merasakan tatapan sepasang mata dari kejauhan.
Aku meneliti setiap penumpang satu persatu mencari seraut wajah yang mulai kukenal.
Seraut wajah Radith, yang mengingatkanku pada Jeff. Ada kemiripan yang signifcant antara garis wajah Radith dengan Jeff, hanya berbeda pada gaya rambut yang membingkai wajahnya. Mungkinkah hal ini yang menjadi penyebab aku menyukai tatapan diam Radith dari kejauhan? Entahlah aku tidak tau. Aku hanya tau, hari itu ketika tidak kutemukan sosok Radith diantara penumpang kereta, aku merasa galau. Aku hanya tau, ketika tidak kurasakan tatapan Radith dari kejauhan, aku merasa kehilangan. Sesuatu yang giris terasa menggigit hatiku, aku kehilangan tatapan sepasang mata Radith.

Sejak itu, aku mulai rajin meneliti satu persatu calon penumpang krl AC Benteng Ekspress yang menunggu di peron. Aku baru merasa lega sampai kutemukan sosok Radith. Aku baru merasa tenang sampai sepasang mata Radith menatapku dari kejauhan. Aku mulai mengenali riak emosi dalam diriku ketika kutemukan Radith atau ketika tidak kulihat Radith.

Aku tidak mengenal Radith dan tidak pernah mencoba mengenal Radith.
Namun eksistensi Radith didekatku mampu mempengaruhi emosi dalam diriku. Aku melihatnya bicara, aku menemukannya tersenyum pada penumpang lain, tidak padaku. Hanya tatapan diam dari kejauhan yang Radith berikan padaku sepanjang perjalanan Jakarta – Tangerang. Hingga hari ini, Radith menjajari langkahku ketika turun dari kereta.
”Hai... nama elo Geby, bukan?” sapanya, tidak seperti biasanya.
”Elo tinggal di kompleks kehakiman, bukan?” aku menganggukkan kepala.
”Dan ini no handphone elo, bukan?”
Kali ini aku tidak hanya mengaggukkan kepala, tapi juga membelalakkan mata.
”Darimana elo tau semua itu?” tanyaku heran.
Tidak hanya sikapnya yang lain dari biasanya, tapi karena dia tau terlalu banyak tentang aku, namaku, tempat tinggalku bahkan nomer telponku.
”Tentu saja karena gue mencari tau” jawabnya santai.

Lalu sejak hari itu, Radith tidak lagi hanya memandangku dari kejauhan, tapi selalu berada di sampingku dan bicara padaku. Aku pun tidak hanya bertemu dengannya pada hari kerja saja, hari sabtu dan minggu pun kulewati bersamanya. Aku menemukan seorang teman, benar-benar teman baik yang siap membantuku, perduli padaku dan sangat memperhatikanku.

Aku nyaris melupakan Jeff, kalau saja hari ini Radith tidak menanyakan sesuatu yang terasa janggal di telingaku, sedikit tak asing dan sangat mengusik hatiku.
”Geby, boleh gue tau tiga alasan kenapa elo cuma mau jadi good friend aja?”
Aku terdiam lama. Rasanya... sesuatu menghantam ingatanku. Jeff!
Apa hubungan Radith dengan Jeff?
”Kenapa elo tanyakan itu, gue gak ngerti apa maksud elo?” aku berkilah dengan balik bertanya.
”Maksud gue, apa kita selamanya hanya berteman saja, tidak mungkin menjadi...” ucapannya terhenti ketika aku menukas dengan tidak sabar dan to the point, langsung pada inti persoalan.
”Cukup Radith! Apa hubungan elo dengan Jeff?”
”Gue pernah kenal seorang bernama Jeff, dan pertanyaan elo tadi mengingatkan gue pada Jeff. Sekarang jawab dengan jujur, apa hubungan elo dengan Jeff?” lanjutku memperjelas duduk persoalan.
”Gue dan Jeff adalah...” Radith menggantungkan ucapannya.
”Elo janji gak akan marah kalo gue berterus terang?” tanya nya was-was.
Aku menggelengkan kepala dan mengangkat telapak tanganku mengisyaratkan bahwa aku berjanji. Radith mengeluarkan ponsel nya dan memperlihatkan sebuah sms yang pernah kukirimkan pada Jeff di malam tahun baru. Aku tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutku, kupandangi sms itu silih berganti dengan memandangi wajah Radith....
”Kenapa handphone Jeff ada sama elo Radith?” tanyaku lirih.
”Ini handphone gue, Geby” jawab Radith lembut.
“Jadi elo dan Jeff adalah….” aku sungguh tidak bisa percaya.
”Yah, gue adalah Radith, juga Jeff yang pernah elo kenal. Coba perhatikan baik-baik”
Radith mengacak-acak rambutnya, lalu... yang berdiri di depanku adalah Jeff!
”Bagaimana mungkin...” ucapku pelan dan masih sulit untuk percaya.
”Nama gue Radithya Jeff Prasetya, biasa dipanggil Radith. Hanya keluarga dan temen-temen deket saja yang selalu memanggil gue dengan nama Jeff” ujar Radith menjelaskan.
”Tapi Jeff... maksud gue ahh siapa pun nama elo, elo gak mau berteman dengan gue. Kenapa?”
”Geby, gue bukan gak mau bertemen sama elo. Justru sebaliknya gue gak bisa mengeluarkan elo dari kepala gue, sulit banget untuk melupakan elo. Seakan-akan gue sudah kenal deket sama elo. Bagaimana mungkin...” pengakuannya sungguh tidak kuduga.
”Karena itulah gue berusaha mengingkari perasaan gue. Gue sengaja menjauh dari elo, menjauhkan temen-temen gue dari elo, gue pikir kalo elo membenci gue maka semuanya akan beres. Jadi gue memutuskan semua akses komunikasi dengan elo” lanjutnya.
”Gue inget elo tiap hari naik kereta, jadi gue ganti rute ikutan naik kereta. Hanya sekedar untuk bisa liat elo dan gue langsung ngenalin elo begitu gue pertama kali temukan elo di peron. Bagaimana mungkin elo gak ngenalin gue? Pas malem tahun baru elo berharap kita ketemu lagi, gue bingung gimana ngasi tau elo bahwa kita tiap hari ketemu. Bahwa Radith yang elo kenal adalah orang yang sama dengan Jeff. Jadi gue gak reply sms elo karena gue bingung mesti bilang apa”

Aku diam kehilangan kata-kata. Hati memang tidak dapat berbohong.
Jeff yang membuatku lelah, dan Radith yang perhatiannya mengobati kelelahanku ternyata orang yang sama. Mataku mungkin dapat dikelabui, tapi hatiku tidak.
”Jadi gue harus panggil elo Radith atau Jeff?” tanyaku ketika akhirnya dapat bicara.
”Suka-suka elo. Mana yang lebih elo sukai, gue sebagai Radith atau Jeff?” tanya nya kocak.
”Dua-duanya”
”Sungguhkah elo cuma mau jadi good friend aja? Karena gue sekarang mau lebih dari sekedar temen baik. Apa boleh?”
”Tentu boleh” jawabku refleks
”Elo mau jadi pacar Radith atau Jeff?” tanya nya kocak.
”dua-dua nya” jawabku.

Tiba-tiba kelelahan yang membebani hatiku sirna digantikan dengan percikan hangat memenuhi ruang batinku. Jantungku berdebar-debar ketika tatapan Radithya Jeff Prasetya mendadak terasa begitu lembut, hangat memagut hatiku.... Ternyata kecocokan jiwa yang kurasakan ketika pertama mengenalnya, juga dia rasakan pada tempat, waktu dan jeda yang sama. Sekalipun pernah coba diingkari, kecocokan jiwa akan selalu menyatukan dua hati.
Getarannya akan beresonansi sempurna melahirkan percikan cinta....

ooOoo
Tangerang, 14 Januari 2005
Written by: Anita Lindawaty

January 3, 2009

Es Krim Kerinduan (Cerpen Ketiga dari Trilogy Cerpen)

Dan inilah spektrum waktu
Dalam rangkaian lintasan cahaya
Di ujung horizon aku menunggu
Hujan rindu yang ditasbiskan senja
Sementara
Pikiran kita terus menerus
Mengeraskan ikatannya


Senja yang temaram
Hujan yang kita tunggu
Tersesat dalam kenangan


Alicia menutup novel Biru karya Fira Basuki yang sedang dibacanya. Salah satu nama tokoh ceritanya mengingatkan Alicia pada seseorang. Alicia meraih ponselnya dan mulai asik mengetikkan sms:
“Aku inget nama anak yang nulis puisi pemburu kecil, Benny SI ’97, kenal gak Djo?”Setelah mengirimkan sms nya, Alicia kembali menekuni novel yang tadi dibacanya. Belum tuntas baca tentang tokoh Pura,ponselnya bordering, mungkin sms balasan dari Tedjo.
“iya, kenal. Kok tiba-tiba inget puisi itu mbak? Btw, masih di Jakarta? Aku sekarang di Jakarta”
Setelah me-reply sms Tedjo, Alicia menutup novelnya dan ingatannya melayang pada si pengirim sms barusan.

Tedjo, sosok tinggi menjulang dengan paras imutnya yang senantiasa tampak teduh. Siapa yang mengira dia lima tahun lebih muda dari Alicia, ketika berada didekatnya Alicia tampak begitu mungil.

Alicia ingat pertama kali melihatnya di ruang server kampus, duduk memandangi monitor komputer dengan seriusnya. Alicia melihat seputar ruangan mencari Mumuh, namun tidak menemukan sobat yang dicarinya. Alicia mengetuk pintu ruang server yang sedikit terbuka sehingga sosok serius itu mengalihkan perhatiannya dari monitor.
“Maaf Mas, liat Mumuh gak? Mumuh bilang Aku boleh scan foto di sini, tadi waktu telnet
“Oh… silahkan, pake aja. Tuh scanner nya dan pake komputer yang ini. Tapi maaf Aku gak bisa bantu karena Aku sendiri gak pernah pake”
“Gak pa-pa, Aku pernah pake scanner ini jadi udah tau caranya. Emm… ngomong-ngomong Mumuh kemana ya, tadi dia bilang mo nungguin di sini”
“Mumuh tadi ada di sini kok, mungkin lagi keluar sebentar”Alicia mulai scan foto dan sosok serius di sampingnya jadi terabaikan. Lagian dia juga kembali asik dengan monitor dihadapannya. Alicia melirik sekilas, sepertinya dia sedang ngedesain web pake dreamweaver.

Beberapa saat kemudian suara Mumuh memecahkan kesunyian yang sempat bersemayam di ruangan itu.
“Hei… Alice! Sorry, udah lama? Aku barusan kepergok dosen pembimbing TA ku, jadi terpaksa menghadap deh” sapa Mumuh dengan senyum lebar merekah di wajahnya yang selalu ceria.
“Lagian kenapa mesti petak umpet gitu sih, udah sana buruan aja maju sidang biar sekalian beres dan bisa konsen ke kerjaanmu.”
“Iya nih rencananya sih tanggal 20 ntar aku sidangnya, cuma dosenku gak bisa. Nih liat emailnya yang dikirim kemarin. Tadi kebetulan kepergok, jadi dipanggil menghadap deh”
“Ya udah, ntar kasi tau yah kapan sidangnya biar Aku bisa do’ain.”
“Makasih Alice. Oh iya, udah kenal belom nih… Ini Tedjo, angkatan ’98, admin juga di sini.”

Sejak itu Alicia sering ngobrol dengan Tedjo melalui telnet dalam kesempatan log-in di beberapa server kampus. Ngobrolin software untuk bikin website. Alicia dengan mudah membuka diri dan tak jarang ngobrolin masalah pribadi yang hanya bisa Alicia lakukan dengan orang yang Alicia percayai. Mendengarkan Tedjo curhat pun suatu keasikan tersendiri buat Alicia, apalagi kalo bisa bantu sumbang saran terhadap masalah yang sedang dihadapinya. Terkadang Alicia sendiri surprise dengan komentar dan opini yang dikemukakan Tedjo. Untuk pemuda seusianya, pemikiran Tedjo beberapa langkah lebih maju dan mature. Tak heran jika sejak itu Alicia sudah tidak lagi perduli dengan perbedaan usia bahkan nyaris melupakannya, kecuali pada saat-saat tertentu dimana Alicia dipaksa mengingat kesenjangan itu.

***

“Mbak Alice sekarang dimana? Masih di Surabaya ataukah sudah di Jakarta?” suara manja Sita berkumandang melalui speaker ponsel Alicia.
“Sudah di Jakarta Sayang. Maaf, mbak belom sempet telpon Sita, masih sibuk beres-beres nih.”
“Trus kapan dong ke sini nya? Sita kangen nih…"
“Ntar deh mbak Alice telpon Sita kalo dah ada kesempatan. Sabar yah mbak kan bakal lama di Jakarta nya.”
“iya deh, janji yah mbak, awas kalo bo’ong!”
“Iya Sayang, emang kapan coba mbak Alice bohong sama Sita? Mbak sebenernya masih mau ngobrol banyak sama Sita, tapi nih kerjaan mbak masih bertumpuk ntar gak kelar-kelar deh. Gimana kalo kita ngobrol lagi ntar kalo mbak ke sana, ok?”
“Ho-oh deh, daa mbak Alice…”
Alicia menutup telponnya dan menghela nafas dalam-dalam.
“Ops… akhirnya! Kali ini masih selamet, lain kali aku harus nemu alasan lain untuk tidak ke rumahnya. Aku bener-bener belom siap untuk ketemu Among” batin Alicia galau.

Masih jelas dalam ingatan Alicia kapan kegalauan ini berawal. Ketika sebulan sebelum kepindahan Alicia ke Jakarta, Among menjumpainya di Surabaya. Pertanyaan Among seharusnya tidak mengejutkan Alicia, tapi Alicia sama sekali tidak menduga dengan keseriusan Among. Kalau saja Among sekedar mengungkapkan rahasia hatinya, mungkin Alicia gak akan segalau ini, tapi menikah?? Among menanyakan kesediaan Alicia untuk mengayuh bahtera rumah tangga bersamanya. Ini masalah pilihan hidup, gak bisa dibikin main-main!

***

Alicia – Diks
Yahoo! Messenger
Instans Message
7 sepetember 2003

Hai diks!
Hhh… akhirnya berhasil juga Aku install YM nya.
Sudah lama yah? Tadi aku sempet kirim email sih, udah baca?
Udah
Maklum pake dial up gini lambat banget deh.
Masa Aku download 2,7 MB aja gagal mulu.
Repot banget kan…Btw, pa kabar nih…
Alice, sekarang Aku punya ce
Oh ya?
Ce yang mana?
Ce asli
Aslinya mana mas?
Di rumah
Ooo… dibingkai gak?
Minimal di-laminating yah…
Huzzzhh…
Diks, Aku mo off dulu yah.
Tuh dah ditungguin.
Bye…

“Benarkah Diks sudah jadian? Ataukah memang benar dia dijodohkan dengan perempuan berdarah biru? Jika benar demikian, Aku harus melupakannya. Apa pun yang Aku lakukan tidak akan dapat merubah kodrat dan garis keturunanku. Jika berdarah biru merupakan syarat mutlak untuk bersama Diks, maka lupakan saja!” batin Alicia kelu sekaligus meradang membaur jadi satu. Alicia duduk diam dalam bus dengan pikiran hampa tanpa menghiraukan kebisingan disekitarnya. Kenyataan yang diketahuinya barusan memukul telak hatinya dan meremukkan semua asanya. Kekosongan itu tiba-tiba menyergap batinnya.

Ironis sekali, di abad millenium begini ada sisa-sisa feodal yang begitu kental. Bahagiakah Diks dengan kehidupannya sekarang? Akan bahagiakah Diks dengan pilihan orang tuanya? Jika ternyata Diks bahagia, maka Alicia harus ikhlas. Tidak ada yang lebih berharga selain menyaksikan Diks bahagia. Sekali pun itu berarti kegelapan bagi Alicia. Lebih ironis lagi seorang Diks dengan tingkat pendidikan demikian tinggi masih sudi dijajah tirani kekuasaan orang tuanya. Ataukah Diks sengaja mengarang dusta karena Diks tidak merasakan seperti yang Alicia rasakan? Ini bagian tersulit dalam perjalanan hati.

“Oh Tuhan, mengapa Aku selalu menyayangi orang yang salah? Mengapa selalu ada luka yang menganga di sepanjang jalan waktu yang aku lalui? Ya Ilahi yang pengasih, beri aku kekuatan untuk bertahan. Jika ini bernama badai, semoga tidak berkepanjangan” do’a Alicia di keheningan malam dalam sujudnya dan butiran bening itu pun luruh dari matanya menyirami sajadah.

***

“Among?? Darimana dia bias tahu alamat tempat tinggalku?” bisik hati Alicia.
Di beranda depan rumah tampak Among sedang berbincang dengan paman Alicia.
Among berdiri menghampiri Alicia, menjabat tangan Alicia dan menatap Alicia tajam seakan dapat membaca semua tanya yang berkecamuk di kepala Alicia.
“Kalo kambingnya gak mau diseret ke air, biarlah air yang mendatanginya” ujarnya berpribahasa.
“Siapa nih yang jadi kambingnya?” Tanya Alicia keki.
“Sebentar yah Aku mandi dan sholat dulu. Ngobrol aja dulu sama Om. Alice permisi dulu Om” pamit Alicia sambil berlalu.

“Gila! Mau apa Among kemari? Apa dia sudah menceritakannya pada Om? Huh! Awas aja kalo dia sampe menyinggung masalah pernikahan itu pada Om. Bagaimana mungkin dia mengatakannya sementara Aku belom jawab apa-apa” bisik hati Alicia gemes.
Seratus satu spekulasi berkecamuk di benak Alicia yang membuat sholat Alicia jadi gak khusu’. Abis sholat fardhu Alicia melanjutkan dengan sholat istiharah, untuk kesekian kalinya Alicia berdo’a semoga Allah menunjukkan keputusan terbaik yang harus diambilnya dan benar-benar yakin dengan jawaban yang akan diberikannya pada Among.

“Om… permisi dulu, mau ajak Alice ke luar sebentar” pamit Among pada paman Alicia, setelah Alicia muncul di beranda sudah rapid an segar.
“Silahkan nak Among, asal jangan pulang terlalu malam”
“Bagaimana kamu bisa menemukan tempat tinggalku Mong?” tanya Alicia tak sabar ketika mereka telah berada di jalan menembus macetnya Jakarta di malam hari.
“Ada deh… rahasia dong Alice. Namanya juga cinta, semua usaha wajib ditempuh” jawabnya ringan.
“Belom makan bukan? Mau kemana nih?”
“Terserah yang ngajak pergi dong. Cuma sebaiknya gak usah jauh-jauh deh, ntar kemaleman pulangnya. Di sepanjang Jl. Raya Kalimalang juga banyak tempat makan”
OK… mau makan apaan nih?”
Up to you, asal jangan makan orang” canda Alicia.
“Alice, kamu sudah mempertimbangkan permintaanku? Apa kamu sudah menemukan jawaban dari pertanyaanku?” Tanya Among to the point setelah mereka selesai menyantap makanan yang terhidang.
“Insya Allah… Aku sudah mempertimbangkannya baik-baik”
“Lalu?? Bersediakah kamu menikah denganku”
"Sebelumnya terima kasih untuk semua perhatian dan kasih sayangmu, Mong. Aku sangat menghargainya dan bersyukur pernah mengenalmu. Tapi aku mohon maafkan aku Mong, aku gak bisa… Sungguh aku gak bisa menikah denganmu. Aku mohon kamu mau mengerti dan tidak sakit hati padaku.”
“Mengapa Alice… katakan padaku apa yang salah?” tanya Among lirih setelah lama terdiam dan berhasil mengatasi goncangan perasaannya.
“Karena kamu sudah seperti saudara kandung bagiku”
“Aku mau jadi suami kandungmu, Alice” jawabnya gemas.
“Katakan sejujurnya Alice, apa ada laki-laki lain di hatimu?”
“Among… Please, Try to understand me! Setiap kali aku menatapmu, aku seperti sedang berhadapan dengan almarhum Mas Rio. Setiap kali aku bersamamu seperti sekarang ini misalnya, aku merasa seperti sedang menghianati Mas Rio. Cobalah mengerti, aku mohon pahamilah Mong. Jika aku menerima lamaranmu dan menikah denganmu, apa mungkin aku bisa menghabiskan sisa usiaku dengan rasa bersalah dan kegalauan yang berkepanjangan? Bukan pernikahan seperti itu yang aku inginkan. Jika suatu hari nanti Allah izinkan aku melangsungkan pernikahanku, aku ingin merasakan ketenangan dalam pernikahan itu sehingga aku bias membahagiakan orang yang Allah pilihkan untuk menjadi suamiku.”
“Tapi Mas Rio sudah pergi untuk selamanya, Alice! Bagaimana mungkin hatimu terus-terusan terbelenggu begini. Kamu berhak bahagia, alice. Dan aku akan berusaha membuatmu bahagia… percayalah aku mencintaimu, Alice…”
"Aku percaya Mong, aku bisa merasakannya. Tapi maafkan aku, sungguh maafkan aku. Aku sudah sholat istiharah berulang-ulang dan aku yakin kita ditakdirkan untuk bersaudara bukan menikah…”
“Omong kosong! Pasti ada laki-laki lain di hatimu, akuilah Alice. Aku bisa merasakannya. Siapa dia Alice, kamu pernah janji untuk mengatakannya padaku. Apakah kamu sungguh-sungguh mencintainya?”
"Baiklah, iya! Aku sungguh menyayanginya. Tapi bukan karena dia aku tidak bisa menikah denganmu, Mong. Sama sekali bukan karena dia… Karena aku juga tidak mungkin menikah dengannya…”
“Mengapa?”
“karena aku tidak berdarah biru!”
“Apakah kamu yakin dia juga mencintaimu, Alice? Apakah dia mencintamu seperti aku mencintaimu? Karena jika memang kalian saling mencintai, seharusnya alasan klise seperti perbedaan status sosial, usia dan suku bangsa seharusnya tidak menjadi penghalang”
“Justru itu Mong, aku tidak pernah tau seperti apa perasaannya padaku. Aku hanya tau aku menyayanginya dan ingin bersamanya. Tapi sekarang aku tau aku harus melupakannya”
“Kalau begitu cari tau seperti apa perasaannya padamu, sebelum kamu memutuskan untuk melupakannya. Jangan buat keputusan keliru yang akan kamu sesali nantinya. Jika aku tidak bisa membahagiakanmu, setidaknya aku ingin melihatmu bahagia, Alice.”
“Percuma Mong! Apapun yang dia rasakan padaku tidak akan merubah kodratku, aku tidak berdarah biru. Orang tuanya tidak mungkin merestui dan aku tidak mau menikah tanpa restu orang tua. Kisah cinderela hanya ada di dongeng.”
“Baiklah Alice, kita memang tidak dapat memilih pada siapa kita jatuh cinta. Kita hanya dapat memutuskan apa yang akan kita lakukan dengan cinta yang kita rasakan dan berharap bahwa kita tidak membuat keputusan keliru. Walau aku sangat ingin menghabiskan sisa usiaku bersamamu, tapi aku tidak punya pilihan dan aku tidak bisa memaksa bukan?” ucap Among lirih.

Among benar, untuk urusan jatuh kita tidak dapat memilih… At least, saat ini Among mau mengerti, itu sudah cukup melegakan Alicia.
“Mulai sekarang, bolehkah aku memanggilmu Mamong seperti yang biasa dilakukan Sita?"
"Boleh, dengan satu syarat: aku boleh tetap menyayangimu dan melindungimu seperti yang biasa aku lakukan terhadap Sita” jawab Among.
“Aku tak kan sanggup membencinya dan tak kan kubiarkan siapapun menyakitinya” lanjut Among dalam hati.
“Tentu… Tentu saja Mamong boleh menyayangi siapa pun. Itu hak azazi Mamong, bisa dituntut komnas HAM aku kalo berani melarang Mamong. Tapi coba liat tuh, sekarang jam berapa, aku gak rela kalo Mamong diomelin Om. Pulang yookkk…”

Saat detik cinta menyentuh kalbu.
Akankah manusia menjadi bijak.
Meredakan ambisi untuk memiliki seseorang.
Menemaninya sebatas sahabat.
Membantunya meraih asa dan bahagia.
Menghapus duka, tanpa pamrih.
Itulah yang Among lakukan terhadap Alicia, refleksi dari keluhuran kasihnya pada Alicia.

***

Mungkinkah bila kubertanya
Pada bintang-bintang
Dan bila kumulai merasa
Bahasa kesunyian

Sadarkan aku yang berjalan
Dalam kehampaanTerdiam, terpana, terbata
Semua dalam keraguan
Aku dan semua
Yang terluka karena cinta
Aku kan menghilang
Dalam pekat malam
Lepas ku melayang

Biarlah ku bertanya
Pada bintang-bintang
Tentang arti cinta
Dalam mimpi yang sempurna

Alunan lagu Mimpi Yang Sempurna yang dilantunkan Peterpan, benar-benar sempurna melukiskan warna hati Alicia saat ini. Wajah teduh Tedjo membayang nyata menyibak kehampaan dalam pekat malam. Alicia meraih ponselnya dan menuliskan pesan singkat:
“I miss u so much” dan mengirimkan pesan smsnya pada Tedjo.

Getaran kupu-kupu menyentuh hatinya, sesuatu yang lembut selembut es krim vanilla, dan sebentuk kehangatan perlahan memenuhi ruang hati Alicia. Kapan terakhir kalinya Alicia merasakan keindahan ini? Pernahkah terjadi dalam perjalanan hidupnya? Ataukah ini yang pertama kalinya? Kerinduan yang lembut menyentuh ruang batin Alicia tanpa melahirkan kegalauan, kegelisahan ataupun rasa sakit. Hanya kelembutan es krim dan kehangatan mentari pagi yang memenuhi hatinya. Subhanallah… Sungguh Maha pengasih Ilahi Robbi yang mengatur suka dan sedih dalam irama yang balance layaknya seperti pergantian siang dan malam.

Sudah menjadi kodrat: siapa pun yang akan meraih fajar, haruslah melalui perjalanan malam. Apakah perjalanan malam Alicia akan segera berakhir dan fajar baru kehidupannya akan segera terbit? Semoga… Alicia berdo’a semoga dapat menemukan Tedjo dalam fajar baru kehidupannya.

Terlambat untuk berdusta
Terlambatlah sudah
Menipu sanubari tak semudah kusangka
Yakin akan cintamu yakinkan segalanya
Perlahan dan pasti daku
Kan melangkah menuju damai jiwa

Lirik lagu sakura yang didendangkan Fariz RM mengalun lembut dari ipod Alicia, telak mencambuk kesadarannya.
“haruskah aku mengakui semuanya pada Tedjo? Bagaimana mungkin, begitu banyak perbedaan diantara kami. Tapi menipu sanubari memang tak semudah kusangka” bisik hati Alicia.
Damai jiwa, dimanakah damai jiwa berada? Dimana bisa temukan damai jiwa?

Perbedaan! Jadi kata kuncinya perbedaan? Haruskah kelembutan es krim di hati Alicia lumer karena perbedaan? Akankah kehangatan mentari pagi yang memenuhi ruang batin Alicia lenyap karena perbedaan? Sejuta pertanyaan dan pertikaian mewrnai benak Alicia. Ingin rasanya Alicia mengungkap semua Tanya pada Tedjo, mungkinkah? Mengingat Tedjo sendiri selalu mempertegas perbedaan itu. Perbedaan, mengapa harus menjadi jurang pemisah? Perbedaan, mengapa harus dipertentangkan? Perbedaan, mengapa tidak dapat menjadi sesuatu yang memperkaya jiwa dan memperluas cakrawala berpikir? Tak sanggupkah cinta menjembatani perbedaan, mengatasi perbedaan, menyatukan dua hati yang berbeda?

Alicia sungguh ingin menemukan penjelasan logis dari apa yang saat ini sedang terjadi. Sikap diam Tedjo ymembingungkannya dan cara Tedjo berkonfrontasi dengan mengemukakan perbedaan-perbedaan yang seakan sedang berusaha menjadikan perbedaan itu sebagai jurang pemisah. Bukankah cinta adalah kecocokan jiwa, seperti yang diungkapkan Khalil Gibran:

Jangan dikira cinta itu datang dari keakraban yang lama dan karena pendekatan yang tekun. Cinta adalah kecocokan jiwa dan jika tidak ada, cinta tidak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan abad….


ooOoo
Jakarta, 4 Oktober 2003
Written by: Anita Lindawaty
(Buat: Tedjo, terima kasih telah memberikan kelembutan es krim dan kehangatan mentari pagi dalam ruang batin)

December 23, 2008

Cinta Dalam Sepotong Coklat (Cerpen Kedua dari Trilogy Cerpen)

Sisa hujan yang terkurung di sisi rendah aspal jalan
Memantulkan rangkaian taman kupu-kupu
yang saling bersikukuh memukau pasanganya

dilangit,
pelangi yang mengurung lingkar pikiran
menyudutkanku pada pilihan
Digenangi rindu kepadamu, atau tiba-tiba
tersesat dihadapanmu, memandangmu
Sambil terus meyakinkan diri bahwa
selalu ada engkau setelah hujan

“Inikah namanya cinta, oh inikah cinta… cinta pada pandang pertama…” Sita berdendang riang keluar dari kamar mandi dan bersiap mengawali kesibukannya hari ini.
“Ulangan masih minggu depan dan PR juga dah beres” gumamnya senang.
“Sita!! Nyanyi apaan sih.. pagi-pagi kok udah brisik!” teriak Among dari kamarnya.
“Mamong kenapa sih? Gak biasanya bawel gini” ujar Sita sambil nyelonong masuk ke kamar kakaknya, sudah rapi dengan seragam putih abu-abunya. Sejak kecil Sita sudah terbiasa memanggil Mamong pada Among. Sebenernya mo bilang ‘Mas Among’, tapi lidah mungil “Sita-kecil” agak repot melafalkan huruf ‘s’ sehingga jadilah ‘Mamong’ sebagai panggilan sayang Sita pada Among sampai sekarang.
“Mas harus beresin semua laporan ini Sita! Butuh konsentrasi biar gak salah melulu. Bukannya Mas mo bawel sama Sita..”
“Mamong pusing mikirin mbak Alice yah? Sita perhatiin mamong jadi galak dan uring-uringan mulu sejak…emm sejak kapan ya.. oh, iya.. sejak ke Gambir nganterin mbak Alice” tebak Sita jitu.
“Mamong jahat! Gak mau ngajak Sita ketemu mbak Alice. Tapi kalo Mamong menikah sama mbak Alice, Sita setuju banget biar tiap hari bisa ketemu mbak Alice. Gak kayak sekarang, mo ketemu aja susah!” celoteh Sita tanpa memberi kesempatan pada kakaknya untuk bicara.
“Sudah… sudah… Hayooo sekarang siapa yang bawel? Udah bawel, usil lagi… Anak kecil jangan ikut campur! Sana gih berangkat sekolah, nanti terlambat” ujar Among seraya ngacak-ngacak rabut Sita, penuh rasa sayang.
“Hu-uh… enak aja anak kecil! Siapa yang anak kecil? Taon depan juga Sita udah kuliah” sungut Sita menyisir kembali rambutnya dan berjalan keluar dari kamar kakaknya.
“Inikah namanya cintaaa….”teriak Sita sengaja ngeledek kakaknya.
“Mamong pasti beneran jatuh cinta sama mbak Alice, makanya uring-uringan melulu” gumam Sita sambil nyengir kuda sendirian berjalan ke ruang makan. Seperti biasa, mama telah menyiapkan sarapan pagi. Di meja makan Sita menemukan Ira dan Arung, dua orang kakaknya yang lain, telah siap berangkat kerja.
“Sita bareng mbak Ira aja yah, Mas buru-buru nih” ujar Arung.

Sepeninggal si centil Sita, Among benar-benar kehilangan gairah buat ngeberesin laporan akhir bulan yang harus segera dia serahkan. Perlahan diraihnya telpon dan dengan cepat menekan 10 digit nomor ponsel Alicia. Namun sebelum terdengar nada sambung, Among menekan tombol off dengan cepat. Begitu berulang-ulang, sampai akhirnya Among meletakkan telpon pada induknya lalu duduk di meja kerjanya dengan gundah.
“Jangan-jangan aku beneran jatuh cinta pada Alicia seperti yang dibilang Sita” bisik hatinya galau.

Sebelumnya Among tidak pernah mengenal Alicia dengan baik, hanya tau kalau Mas Rio akan menikah dengan Alicia. Namun Among cukup surprise, ketika datang ke rumah menyaksikan adik-adiknya sangat antusias pada pernikahan Mas Rio dan Alicia. Sepertinya Alicia sudah berhasil merebut perhatian semua adiknya, terutama si bungsu Sita yang tampak lebih dekat dengan Alicia ketimbang Ira yang notabene adalah kakak kandungnya. Alicia diterima baik di rumah ini seakan telah menjadi kakak iparnya.Bahkan papa pun jadi gak ‘seangker’ biasanya kalo ada Alicia di rumah. Sungguh ajaib!

Tapi semua itu gak serta merta bikin Alicia menjadi istimewa di mata Among. Buat Among, Alicia biasa aja seperti halnya perempuan lainnya, hanya bedanya Mas Rio mencintainya sejak 10 tahun yang lalu dan akan menikah dengannya, dengan begitu Alicia akan menjadi kakak iparnya, itu saja. Kenyataan bahwa Sita sangat menyayangi Alicia, sedikit banyak membuat Among mengernyitkan dahi. Sejak kecil Sita paling dekat dengan Among ketimbang kakak-kakaknya yang lain. Semua perhatian, kasih sayang dan kemanjaan Sita sebagian besar tercurah pada Among. Karena itulah Sita juga yang paling terluka ketika empat tahun yang lalu, Among memutuskan pergi dari rumah setelah pertikaian hebat dengan papa tidak jua mencapai titik temu. Dengan wajah berurai air mata Sita memeluknya dan mencoba menghalangi kepergiannya. Tapi Among sudah mengambil keputusan bulat, sehingga meski gak tega ninggalin Sita, Among pergi juga dan berjanji akan sering nelpon Sita juga akan memberikan nomor telponnya pada Sita jika sudah menemukan tempat tinggal baru.

Entah sejak kapan, Among gak inget dengan jelas, tema celoteh Sita berubah menjadi” mbak Alice, mbak Alice dan mbak Alice!” mbak Alice yang bantuin bikin tugas kimia, mbak Alice yang ngajarin matematika, mbak Alice yang beliin boneka kucing, mbak Alice yang… entah apa lagi. Among merasa sedikit tersisih dengan kehadiran ‘mbak Alice’ dalam hari-hari Sita, sepertinya Sita jadi tidak membutuhkannya lagi. Tempatnya di hati Sita telah digantikan oleh ‘mbak Alice’ yang ternyata adalah calon kakak iparnya.

Cemburukah Among pada Alicia? Bisa jadi IYA! Selain mama, Sita adalah segalanya buat Among. Sampai-sampai Among membuat batasan ekstrim: ”perempuan yang akan dinikahinya harus bisa menyayangi Sita!”. Among gak mau berada pada posisi sulit dimana harus membela kepentingan istri atau Sita, adiknya. Karena itulah harus diantisipasi dari awal, masalah ini menjadi prinsipil bagi Among. Mungkin hal ini juga yang menjadi pemicu putusnya hubungan kasih Among dengan Amy, perempuan yang sudah tiga tahun menjadi pacarnya. Amy smart dan elegan, meski agak sedikit angkuh mungkin karena kepercayaan dirinya yang sedikit over dosis. Tapi Among mencintainya.

Sayangnya Amy tidak pernah cocok dengan Sita. Sita pun terang-terangan membenci Amy. Among sendiri gak habis pikir, Sita sungguh manis, lucu dan manja. Sikapnya selalu menyenangkan, siapa pun akan menyukainya, kecuali Amy tentunya. Kok bisa-bisanya Amy memusuhinya, seakan-akan Sita menjadi penghalang hubungan mereka. Sampai pada suatu pertengkaran, akhirnya Amy memberi ultimatum: pilih Sita atau Amy! Tentu saja tidak sulit bagi Among untuk menentukan pilihannya. Maka sejak itu Among resmi putus dengan Amy dan males buat pacaran lagi.

Pernah suatu ketika Among merasa iri dengan Mas Rio, karena calon istri yang dipilihnya begitu menyayangi Sita dan Sita pun demikian. Sehebat apakah gadis bernama Alicia Prameswari Kencana itu, sehingga dapat merebut segenap perhatian dan kasih sayang Sita. Among ingat, pada hari Mas Rio menghembuskan nafas terakhirnya, Sita begitu histeris dan berteriak:
“Mas Rio jangan pergiiiii….! Jangan tinggalin Sitaaa! Kalo Mas Rio pergi, mbak Alice juga pasti akan pergi ninggalin Sita, gimana dengan Sita. Mas Rio, bangun Mass…”rintih Sita seraya mengguncang-guncangkan tubuh Mas Rio yang diam membeku.
“Mbak Alice batal jadi kakak ipar Sitaaa” ujarnya giris sambil berbalik menatap Alicia yang serta merta memeluk Sita dan membisikkan sesuatu di telinga Sita untuk menenangkannya. Ruangan mendadak sunyi, hanya terdengar isak tangis Sita yang mulai lirih karena sudah terlihat sedikit tenang dalam dekapan Alicia.

Untuk pertama kalinya Among menyaksikan ketegaran di wajah bening Alicia. Meski sarat duka, tapi dapat mengendalikan diri dengan sangat baik, bahkan sanggup menenangkan Sita yang histeris. Sampai 40 hari meninggalnya Mas Rio, Among melihat Sita tidak pernah mau jauh dari Alicia, tampak jelas dia lebih membutuhkan Alicia ketimbang hari-hari sebelumnya.

***

Pada suatu sabtu pagi, Sita datang padanya dengan wajah memohon, meminta Among menemani Alicia ke makam Mas Rio.
“Mamong, Please…! Gantiin Sita nemenin mbak Alice ke makam Mas Rio, kali ini aja. Hari ini Sita ada les tambahan sampe sore di sekolah”
“Ya udah, kenapa gak besok aja ke makamnya? Emang harus hari sabtu? Kayak ngapelin pacar aja!”Melihat bola mata Sita yang membulat dan bibirnya yang cemberut jelek, Among tau dia salah bicara. Mengkritik Alicia di depan Sita sama aja ngajak Sita berantem. Heran, dulu Sita selalu membelanya, tapi sekarang mbak Alice yang dia bela. Bahkan demi mbak Alice tersayang itu, Sita memohon sampai memelototinya.
“Iya deh iya, maaf! Mamong salah bicara, lupa kalo ada undang-undang yang melarang mengkritik, ngeledek, apa lagi menjelek-jelekkan mbak Alice di depan Sita tercinta” ujar Among tapi sama sekali tidak merubah ekspresi wajah Sita. Kalo sudah begini, Among cuma bisa angkat tangan, karena Sita sudah gak mempan dibujuk.
“Iya dehh Mamong mau nemenin mbak Alice ke makam Mas Rio, apalagi sihh… Tapi mbak Alice nya mau gak ditemenin Mamong?”Sekonyong-konyong Sita melompat memeluk lehernya dan mencium pipinya.
“Emm… mamong baik deh! Mbak Alice, biar Sita yang urus, awas ya jangan ngaret!”
Pada detik berikutnya Sita sudah sibuk ngobrol ditelepon.
“Hhhh… pasti deh nelpon mbak Alice tersayangnya” gumam Among keki, seraya mengusap pipinya yang barusan dicium Sita. Kapan terakhir Sita menciumnya? Sudah lama sekali… Sebuah ide brilian tiba-tiba muncul: mungkin sebaiknya aku beramah tamah dengan Alicia jika itu bisa membuat Sita kembali menyayangiku. Bahkan menikah dengan Alicia pun aku mau asalkan dapat merebut kembali semua perhatian Sita!

***

Alicia menolak ketika Among bilang mau nemenin ke makam Mas Rio. Sejenak Among kelimpungan, gawat nih, bisa diamukin Sita!
“Kalo Sita gak bisa, yah gak pa-pa. Sebenernya aku juga sekali-sekali pengen sendirian ke makam Mas Rio” ujar Alicia.
“Tapi makamnya jauh Alice, gak ada salahnya aku temenin. Lagian Mas Rio juga kakakku. Semenjak dimakamkan aku hampir gak pernah nyekar, sedangkan kamu? Setiap akhir minggu, sebagai adiknya aku jadi malu”
“Aku sudah hafal jalannya Mong, kamu ke sana aja sendiri tapi lain kali aja, gak perlu hari ini bukan?” balas Alicia keukeuh. Among benar-benar gemas dibuatnya.
Please Alice, biarkan aku nganterin kamu ke makam Mas Rio. Hari inii ajja, lain kali kamu bisa pergi sendirian ke sana. Aku janji, sampe sana gak akan gangguin kamu kok, kalo kamu mau ngerumpi sama Mas Rio. Maaf, maksudku kalo kamu mau berdo’a. Boleh ya Lice!” bujuk Among panjang lebar.
“Baiklah, hanya kali ini saja!”Cihuyy… berhasil! Rasanya Among mau memeluk Alicia saat itu, karena sudah menyelamatkannya dari murka Sita. Oops… mana boleh! ‘ntar bisa-bisa Alicia membatalkan keputusannya, bisa runyam urusannya.

Selama perjalanan ke makam, awalnya Alicia lebih banyak diam, sibuk dengan pikirannya sendiri. Namun akhirnya kebekuan diantara mereka mencair. Alicia lumayan asik diajak ngobrol. Hanya saja setiap kali pembicaraan menyinggung Mas Rio, matanya akan segera berkaca-kaca. Among jadi tersentuh dibuatnya. Ada getar halus disudut hatinya.
“Alicia begitu mencintai Mas Rio” bisik hati Among galau.
“Sorry Mong, aku jadi cengeng kalo inget Mas Rio” ujar Alicia malu seraya tersenyum muram.
“Kalo gak ada kamu, kali aku sekarang dah nangis beneran” lanjutnya.
“Ya udah, nangis aja kalo pengen nangis. Mungkin dengan begitu akan terasa lebih lega. Aku bisa ngerti kok, anggep aja aku gak ada dan mobilnya jalan sendiri. Nih, perlu ini gak?” ucap Among seraya mengangsurkan sekotak tissue. Perlahan Alicia menerimanya dan benar-benar tersedu, sementara Among pura-pura gak liat seakan-akan sedang konsentrasi nyetir. Aduh paling gak kuat deh liat perempuan nangis, bawaanya pengen… nangis juga! (jangan ngeres ahh…!)

Setibanya di makam Mas Rio, Alicia seakan melupakan kehadiran Among di sana. Alicia membaca surat yassin dengan berurai air mata. Among meninggalkannya sendirian dan duduk dibawah pohon yang cukup rindang tak jauh dari kuburan Mas Rio. Untuk pertama kalinya Among menyadari ternyata Alicia tak setegar yang terlihat. Dukanya yang teramat mendalam berhasil menyentuh sisi terlembut dalam diri Among. Ingin rasanya Among meraihnya dalam dekapannya dan melindunginya, menghapus lara hatinya.
“Alice, sudah sore, kita pulang yoookk” bisik Among lembut. Alicia kaget menyadari kehadiran Among disampingnya, ternyata dia tidak sendirian. Serta merta ia menghapus air matanya lalu perlahan berdiri meninggalkan makam Mas Rio, setelah sekilas mengusap pusaranya. Mereka berjalan dalam diam, sampai keluar dari kompleks pekuburan.
“Maafkan aku Mong, sampe gak inget kalo aku gak sendirian datang ke sini. Aku cengeng banget yah”
“Iya kamu emang cengeng! Hehehehe, becanda Lice. Ho-oh deh aku maafkan. Tapi Lice, kita memang tidak bisa mencegah burung kedukaan terbang di atas kepala kita, tapi jangan biarkan burung kedukaan itu membuat sarang di atas kepala kita. Kamu mengerti bukan?” ujar Among sok filosofis. Tapi Alicia tercengang medengarnya, seakan baru saja mendapat cambukkan di benaknya.
“Benar yang diucapkan Among, Aku tidak boleh larut dalam kesedihan ini, Aku masih harus melanjutkan hidupku” bisik hati Alicia kelu.
“Mataku bengkak banget yah Mong? Wah, gak enak banget nih” ujar Alicia bingung. Sejenak Among mengamati wajah Alicia seakan sedang memeriksa seberapa perbesaran yang terjadi pada mata Alicia ketimbang ukuran normalnya.
“Wah, iya.. bener-bener bengkak Lice. Wajahmu jadi dua kali lebih besar. Bahaya nih, bisa-bisa kita dikira pasangan yang mau bercerai” jawab Among kocak sehingga Alicia tersenyum kecil. “Kamu bisa aja Mong. Kamu pasti jadi adik ipar yang baik, kalau saja Mas Rio….”
“Hayooo… mulai lagi deh, ntar kalo nangis lagi aku yang repot, mana tissue nya udah abis” canda Among.
“Selain bisa jadi adik ipar yang baik, aku juga berbakat jadi suami yang baik loh Lice” lanjutnya serius, ingin tau respon Alicia. Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunan Among!
“Boleh mama masuk Mong?” tanya mama lembut.
“pagi-pagi kok sudah ngelamun! Makan dulu yoookkk mama temenin. Adik-adikmu semua sudah berangkat. Suasana sepi begini selalu bikin mama inget kakakmu. Kalau kamu menikah, mungkin mama gak akan kesepian seperti ini, Mong”
“Mamaa.. pagi-pagi kok mikirin menantu. Udah deh ma, Among males membahas masalah itu. Sabar aja yah ma, do’ain biar Among cepet nemu menantu yang baik buat mama”
“Alicia pasti bisa jadi menantu yang baik buat mama, tapi sayangnya sepertinya dia telah menemukan orang lain, haruskah Aku menyerah sekarang?” bisik hati Among giris.

***

Alicia menemukan coklat cadbury di dalam tasnya “Pemberian Among kemarin” gumamnya. Among tau aja kegemarannya, pasti Sita yang membocorkan rahasianya. Alicia inget, dulu setiap ke mall bareng Sita, Alicia selalu nyempetin beli coklat cadbury. Sita tau banyak hal yang disukai atau yang tidak disukai Alicia. Karena baik Sita maupun Alicia punya banyak kesamaan. Mulai dari warna favorit sampai masakan kegemaran. Sama-sama suka masak dan bikin kue, tapi paling males beres-beres rumah. Ketika Mas Rio bercerita tentang kepiawaian Sita dalam memasak dan bikin kue, Alicia meragukannya bahkan sedikit gak percaya. Masa iya ada remaja SMU di Jakarta yang doyan ke dapur. Benar-benar langka bukan?

Tapi setelah ketemu Sita dan mencicipi kue buatannya, barulah Alicia percaya. Sejak pertama ketemu Sita, Alicia langsung menyukainya. Pernah suatu kali Mas Rio protes karena merasa diabaikan Alicia, sementara Alicia sibuk mendengarkan Sita curhat.
“Sita, mbak Alice tuh kemari mo ketemu Mas Rio, jangan dimonopoli dong Sayang. Mas Rio juga mau ngobrol sama mbak Alice” protes Mas Rio ketika itu.

Menyenangkan sekali bisa membaur dalam keluarga Mas Rio, mengenal satu persatu adik-adik Mas Rio. Hanya Among yang paling sulit didekati Alicia. Mungkin karena Among gak tinggal di rumah dan jarang banget ketemu Alicia. Kalaupun ketemu hanya sepintas lalu, basa-basi sebentar lalu menghilang pergi entah kemana. Ironisnya setelah Mas Rio gak ada Among justru terlihat mencoba dekat dengan Alicia. At least, dia lebih care dari sebelumnya. Alicia yakin pasti Sita yang jadi provokator! Karena Ananta tau Among adalah kakak yang paling Sita sayangi.

Mendadak Alicia inget Diks, ketika akan menggigit coklatnya yang tinggal sepotong, inget coklat cadbury yang pernah Alicia beli buat Diks. Pasti coklatnya sudah lumer. Sebenarnya coklat itu sudah dua hari tersimpan di tasnya. Hari itu Diks menanyakan buku-bukunya yang Alicia pinjam. Tiba-tiba Alicia ingin memberikan coklat itu pada Diks. Hhh.. mungkin Diks membuangnya karena mana enak makan coklat yang sudah lumer, kecuali jika Diks menyimpannya di lemari es terlebih dahulu, baru bisa kembali beku dan enak disantap.

Ah.. Diks. Kita adalah sepasang keterasingan yang terus berusaha untuk menemukan hal-hal yang mudah kita kenali. Tidak pernah memahami pikiranku padahal kamu bersembunyi di dalamnya.
“Mungkinkah suatu hari nanti Aku bisa mengenal satu persatu anggota keluarga Diks, seperti aku mengenal adik-adik Mas Rio?” gumam Alicia sambil perlaham mengunyah coklatnya. Apakah Diks juga punya adik semanis Sita? Apakah Alicia boleh menyayanginya seperti sayangnya pada Sita? Entahlah….

Diks mempunyai dua orang adik perempuan. Apakah mereka bisa berteman dengan Alicia? Apakah mereka mau menerima kehadiran Alicia di antara mereka? Ataukah akan bersikap dingin seperti Among dulu ketika mendengar rencana pernikahannnya dengan Mas Rio? Alicia hanya akan selalu berusaha melakukan yang terbaik dan menjadi yang terbaik buat orang lain. Sudah menjadi obsesinya untuk memiliki jiwa yang indah….

Aku ingin punya jiwa yang indah
Tapi rasanya masih seratusan musim hujan lagi
Karena itu aku menyadari bahwa aku harus terus
Menempa tapal kesungguhanku dan memakukannya dalam kesadaran
Bahwa layar yang kubentangkan haruslah termusim juga dalam jeda yang sama,
Pagi yang bersahaja, pandangan hidup yang sederhana dan sikap yang tegak lurus
Aku ingin punya jiwa yang indah
Juga madu termanis dari lebah yang paling jantan

(Indicent Obsession by Mario Lapanengke)


--oo0oo--
Medio 16 Mei 2003
written by: Anita Lindawaty

Mata Kelam Diks (Cerpen Pertama dari Trilogy Cerpen)

Kita masih setia
Jika memperdebatkan soal kasih

Atau isyarat cinta yang tersembunyi
Meski senantiasa kita tahu
Bahwa luka-luka akan tumbuh
Dan menganga di sepanjang jalan waktu
Yang kita lalui

Kita masih setia
Memandang matahari, musim-musim
Yang silih berganti
Memandang rembulan dan menantangnya
Agar ia memberi kita
Mimpi yang serupa
Sekali saja

“Apa yang kucari?” bisik hati Alicia galau, seraya membereskan meja kerjanya dan bersiap pulang. Sejenak jarinya sibuk mengetikkan pesan yang muncul dilayar monitor komputernya.
“Aku off dulu yah, mo balik nih..” tanpa menunggu balasan pesannya Alicia langsung log off dari Yahoo Messengernya lalu men-shutdown komputernya. Selang beberapa waktu Alicia sudah membaur dalam keramaian lalu lintas kota pahlawan menuju tempat tinggalnya. Udara sore ini sedikit adem kendati masih menyisakan debu dan terik mentari siang.

Mandi, memang sedikit menghapus penat dan kegerahan di tubuh Alicia, namun tak sanggup jua menghalau kegalauan di hatinya. Sekelebat mata kelam Diks dan senyum cerahnya ketika dia tertawa riang, lagi-lagi mengganggu benaknya…
“Ah… Diks, apa kabarmu sekarang?” keresahan begitu pekat mewarnai hatinya.
Sekonyong-konyong Alicia bergerak cepat meraih ponselnya dan menuliskan 10 digit angka yang dihafalnya dengan baik, bahkan sekiranya Alicia mengalami amnesia sekalipun, dia tetap akan ingat 10 angka nomor telepon genggam makhluk manis bernama Diks, yang mata kelamnya menghantui hari-hari Alicia, entah sejak kapan…. Tapi Alicia menekan tombol merah pada ponselnya dengan segera pada dering ketiga, seakan tersadar dari hipnotis.
“Apa yang kulakukan? Bagaimana kalo Diks sudah menikah? Betapa bodohnya aku!!” kutuk hati Alicia gemas.

Masih segar dalam ingatan Alicia, pertengkaran terakhir dengan Diks, pemilik mata kelam itu, via Yahoo Messenger dan email. Waktu itu Alicia harus ke perusahaan boneka dan minta ditemani Diks.
“Mau ya Diks, Please…yah…yah…yah” bujuk Alicia di Yahoo Messengernya dan bersiap menerima jawaban penolakan Diks, mengingat sudah hampir 30 menit Alicia adu argumen.
“Gak bisa” jawab Diks singkat.
“Kalo besok gimana?” tanya Alicia keukeuh.
“Kenapa sih mo pake gue?” balas Diks galak.
Glek! Alicia kaget sekaligus bingung, apa yang dipikirkan Diks?
“Tentu saja karena aku suka berada didekat Diks dan menyaksikan mata kelamnya berbinar ketika Diks tertawa” bisik hati Alicia ketika itu.
Tapi mana mungkin Alicia mengatakan alasan konyol itu, bisa-bisa Diks mentertawakannya. Namun menyembunyikan alasannya pun bukan pilihan yang baik, karena toh Diks salah paham juga.

Keesokan harinya ketika Alicia kembali mencoba membicarakan pertengkaran di Yahoo Messenger kemarin, Alicia mendapat jawabannya via email. Seperti biasa, dengan gaya khas Diks dalam menulis: singkat, tanpa basa-basi, dan sadis (menurut Alicia saat itu). Dalam emailnya Diks hanya menulis sebaris kalimat:
“Gak bisa Lice, hari ini ada janji sama ibu Diks”
Tanpa sadar setetes cairan bening bergulir di pipi Alicia. Setelah menghapus email itu, Alicia memutuskan pergi sendiri ke perusahaan boneka itu. Sekaligus berjanji dengan sungguh-sungguh untuk pergi sejauh-jauhnya dari Diks!

Sekarang, mengapa mata kelam Diks mengganggunya? Setelah sekian lama berlalu, mengapa Tuhan? Apa yang akan terjadi, sekiranya dulu Alicia bertanya lebih detail apakah benar Diks sudah menikah? Ataukah ‘ibu Diks’ hanyalah kiasan untuk ‘pacar’ atau ‘seseorang yang sedang coba Diks dekati’ atau justru berarti ‘Diks’s Mom’? Entahlah, saat itu yang ada di kepala Alicia hanyalah “segera pergi sejauh-jauhnya dari Diks!” dan memang itulah yang Alicia lakukan.

“Oops… sudah berapa lama aku bengong di sini?” desah Alicia kesal, lalu bergegas menyisir rambutnya. Mengapa mata kelam Diks mengusiknya, Alicia sendiri tak habis mengerti. Kerinduan yang mendadak menyergapnya terasa begitu menyiksa. Kerinduankah ini namanya?

Alicia mengunci pintu rumahnya dengan cekatan seraya melirik jam tangannya. Masih ada waktu 1,5 jam sebelum Alicia ketinggalan KA Argo Bromo yang akan membawanya ke Jakarta dari stasiun Gubeng. Besok jam 9 pagi ada wawancara di PT. EISAI. Kalau Alicia berhasil lolos seleksi, akan ditempatkan di Cianjur.

###

“Apa yang kucari?” lagi-lagi pertanyaan itu berputar di benak Alicia. Meskipun kereta api telah bergerak satu jam dari stasiun Gubeng dan kenyamanan tempat duduknya tidak juga dapat membuat Alicia terlelap. Lagi-lagi pikirannya mengembara, berkelebat dalam ingatan beragam episode kehidupannya selama beberapa tahun terakhir.

Mumuh, sobatnya, mendengarkan dengan serius dan ekspresi sungguh-sungguh ketika delapan bulan yang lalu Alicia menuturkan luka-luka yang tumbuh dan menganga di sepanjang waktu yang dilaluinya. Ketika itu Alicia dan Mumuh duduk di lantai 1 Perpustakaan Pusat Kampus. Alicia menceritakan segalanya tanpa ragu, seakan sedang melepaskan satu persatu beban yang memberati hati dan jiwanya. Tentang rencana pernikahan dengan Mas Rio yang kandas, dan menghabiskan setiap akhir minggunya di makam Mas Rio. Sejak itu Alicia sudah kehilangan tujuan hidupnya. Arah langkahnya tak menentu. Jakarta menjadi tempat yang asing dan mengerikan, ketika kenangan Mas Rio seakan mengikuti kemana pun Alicia pergi. Menyusuri jalan-jalan di Jakarta dan mendatangi tempat-tempat yang mengingatkannya dengan Mas Rio makin terasa menyiksa Alicia.

Saran dan nasehat Mumu supaya Alicia tawakal dan menyerahkan segala sesuatu padaNya, sedikit banyak mampu menenangkan emosi Alicia saat itu. Namun pada akhirnya Alicia memutuskan untuk resign dari tempat kerjanya, menjauh dari Jakarta, dan pulang ke rumah untuk menenangkan pikirannya. Suatu keputusan yang agak disesalkan Mumuh ketika dia mengetahuinya. Menurut Mumuh, seharusnya Alicia berjuang menghadapi semua ini tanpa harus meninggalkan Jakarta dan pekerjaannya.

Kini hampir satu semester Alicia melakoni kehidupan baru dan pekerjaan baru di Kota Pahlawan. Namun kehampaan ini tak jua sirna, absurb yang begitu dalam. Apa yang aku cari? Dimana seharusnya aku berada? Pertanyaan yang tak jua Alicia temukan jawabannya.

Dan sekarang mata kelam Diks,mengusiknya!
Entah darimana datangnya, Alicia menemukan kembali lukisan mata kelam Diks di antara tumpukan memori dalam benaknya. Mata kelam yang akan segera berbinar ceria ketika pemiliknya tertawa riang. Entah kapan pertama kalinya Alicia melihat mata kelam itu, dua tahun? Mungkin hampir tiga tahun yang lalu. Ketika Alicia keranjingan telnet di kampusnya. Diks, salah seorang admin di salah satu jurusan di kampus. Alicia sudah banyak mendengar tentang Diks, namun Alicia ogah men’judge’ seperti apa sosok Diks yang sesungguhnya.

Ketika pertama kali Alicia ketemu Diks, Alicia langsung menyukai mata kelamnya yang berbinar ceria ketika dia tertawa.
“Apa perlunya belajar bikin tabel routing segala?” tanya Diks sambil membuka-buka bab dalam buku Fred Halsall yang dibawa Alicia.
“Buat siap-siap aja, besok mungkin ada quiz mendadak tentang routing dan addressing
“Lho, kamu kan jurusan kimia, kok belajar TCP/IP?” tanya Diks heran.
Alicia dapat memaklumi keheranan sebagian besar teman-teman dan dosennya akan ketertarikkannya pada jaringan internet. Bahkan dosen yang mengasuh mata kuliah jaringan di Departemen Teknik Elektro juga beranggapan Alicia salah memilih jurusan KI, seharusnya IT untuk program S2 nya. Jadi Alicia sudah sangat terbiasa dengan ekspresi heran seperti yang diperlihatkan Diks.

Diks sungguh baik, mau meminjamkan buku-bukunya. Selain itu juga dengan sabar menerangkan tentang routing dan cara membuat tabel routing, sehingga Alicia merasa Diks layak mendapat coklat cadbury sebagai tanda terima kasih Alicia ketika Alicia mengembalikan buku-buku Diks yang dipinjamnya.
“Diks, kayaknya ada yang ketinggalan deh di tasku, coba liat lagi buku-bukunya dah cukup apa belom” begitu pesan yang dikirim Alicia melalui telnet pada Diks, sekembalinya dari lab. Diks.
“Cukup kok, emang apaan yang ketinggalan?” balas Diks.
“Coklat cadbury, buat Diks. Tapi tadi aku lupa dan masih ketinggalan di tas,mau??”
“Mau dong, nyam…nyam…nyam…emmm…sedappp” jawab Diks kocak.
“Tapi kali coklatnya udah mulai lumer karena di sini panas, simpen di lemari es dulu biar enak. Aku ke sana sekarang, I’ll be there in 5 minute!”Alicia mengetikkan ‘lock –np coklatnya ketinggalan’ maka loginnya dapat ditinggalkan dengan aman, lalu berlari-lari kecil kembali ke lab. Diks.

Alicia juga dengan senang hati meminjamkan buku Fred Halsall nya ketika Diks juga melanjutkan program S2 dan memilih bidang IT di Departemen Teknik Elektro. Es krim coklat! Itulah yang Diks berikan, ketika mengembalikan Fred Halsall nya.

Diks kirim email pendek:
“Fred Halsall nya udah selesai dan bisa diambil, ada fee nya gak nih”Alicia membalas emailnya:
“Gak ada, buat Diks mah free :)"
Selang beberapa waktu Alicia mendapati email Diks di inbox nya:
“Gimana kalo es krim aja, mau?”
Dengan riang Alicia mereply email Diks:
“mauuuu….. hehehe, ma’acih Diks baik deh :)"
Dan pada waktu yang dijanjikan Diks mengembalikan bukunya sekaligus beliin Alicia es krim coklat...

Ah… Diks! Alicia tiba-tiba ingin melihat lagi mata kelam Diks, mungkinkah? Bagaimana caranya? Ketika Alicia menemukan iklan lowongan PCR (Plant Chemistry Researcher) di PT. EISAI yang akan ditempatkan di Cianjur, Alicia tau apa yang harus dilakukannya. Cianjur – Bandung lebih dekat daripada Surabaya – Bandung. Apakah dengan begini Alicia dapat melihat kembali mata kelam Diks?

Di hamparan gurun kehampaan, mata kelam Diks muncul bagai kerlip lilin dalam gulita hatinya. Mendadak keinginan untuk melihat kembali mata kelam Diks, semakin kuat dari waktu ke waktu. Dan kini seakan arah langkah Alicia menjadi jelas.

Alicia membuka matanya, tetangga yang duduk disekitarnya terlelap tidur. Alicia menghela napas berat ”Apa yang sedang aku lakukan?” bisik hati Alicia. Menempuh perjalanan malam ratusan kilometer dan berharap dapat pindah kerja ke Cianjur. Untuk apa? Untuk melihat mata kelam Diks? Entahlah….

At least, saat ini ada tujuan hidup yang membuat hidup Alicia lebih bergairah. Pertama kalinya sejak kepergian Mas Rio, Alicia merasakan lagi semangat hidupnya bergelora. Betulkah hanya karena mata kelam Diks? Ataukah ada harapan lain di hati Alicia? Harapan merupakan sesuatu yang mungkin saja sulit diraih, namun dapat membuatnya sanggup bertahan. Ada sepuluh probabilitas yang menyakitkan yang bakal ditemuinya. Tapi bisa jadi ada seratus probabilitas yang membahagiakan yang juga bisa terjadi. Karena itu Alicia tidak ingin mengungkapkan harapan hatinya. Lagi pula belum tentu jadi pindah domisili ke Cianjur dan belum tentu dapat melihat lagi mata kelam Diks.

Satu hal yang harus Alicia lakukan besok pagi adalah: ikut wawancara di Jakarta lalu segera kembali ke Surabaya sore harinya supaya lusa gak perlu bolos lagi. Satu hal yang Alicia pahami dengan baik adalah: mata kelam Diks telah memberi warna indah dalam satu episode kehidupan Alicia. Perkara, apakah Alicia punya kesempatan untuk melihat kembali mata kelam Diks ataukah tidak, itu semua di luar kuasanya, hanya Allah SWT yang tau. Perkara, apa yang akan terjadi setelah Alicia melihat kembali mata kelam Diks, Alicia juga gak mau berspekulasi yang nggak-nggak. Que sera-sera what ever will be will be, terjadilah apa yang akan terjadi. Namun Alicia sungguh berterima kasih pada Diks dan mata kelamnya.

Kini pikiran Alicia sedikit lebih tenang dan segera terlelap seperti penumpang Argo Bromo lainnya, dan terjaga ketika kereta sudah hampir tiba di Gambir. Cahaya mentari menembus sela-sela kaca jendela yang tebal dan pekat, bagaikan mata kelam Diks yang binar cerianya mampu menembus gulita hatinya. Alicia bersiap turun dan menghadapi wawancara hari ini dengan penuh semangat. "Semoga dapat melihat lagi mata kelam Diks" do'a nya dalam hati.

###

Lamunan Alicia buyar seketika oleh dering telepon genggamnya. Sementara taksi blue bird yang ditumpanginya sejak dari stasiun gambir masih meluncur menembus macetnya Jakarta di pagi hari.
“Lewat Manggarai aja Pak, biar gak kejebak macet” ujar Alicia pada sopir taksi seraya melirik nomor telepon yang masuk, dari rumah Mas Rio. Pasti si bungsu Sita! Alicia segera menekan tombol hijau pada ponselnya.
“Hallo Sita ya? Pa Kabar Sayang” sapanya ramah. Namun Alicia terkesima mendengar suara bariton di seberang sana.
“Hallo juga Alice, kabar baik Sayang. Ini aku Among” jawabnya diiringi tawanya yang ringan.
“Oh… Hai, Mong. Sorry, aku pikir Sita. Tumben, lagi di rumah?” Alicia benar-benar malu.
“Gak pa-pa Lice, kapan lagi kamu mau bilang Sayang ke aku, kalo gak pas salah kira. Sering-sering aja yah…hehehe. Aku sekarang dah tinggal di rumah lagi, kasian mama…”
“Mama kenapa Mong? Sakit kah?” terdengar nada khawatir dalam suara Alicia.
“Mama sehat kok, tenang aja. Cuma jadi rajin telpon aku semenjak Mas Rio gak ada dan kamu gak pernah lagi sowan ke rumah” Among tau betul bagaimana membuat Alicia merasa bersalah dan kehilangan kata-kata.
“Alice, kamu masih di sana? Hallo….”
“Oh…iya, emmm… Mong, sampaikan maafku sama mama. Aku bukannya gak mau mampir, tapi..”
“Sudahlah Alice, gak pa-pa. Aku cuma becanda kok! Sekarang lagi sibuk ngapain? Mo ngantor yah?”
“Nggak. Aku hari ini bolos. Lagi di Jakarta tapi nanti sore langsung balik lagi. Ada wawancara di PT. EISAI. Sungguh, aku gak mungkin sempet mampir Mong… Maaf...”
“Baiklah, abis dari Gambir kamu kemana?”
“Mampang, rumah Lidia. Sekalian mo liat bayinya yang baru lahir. Dah dulu yah Mong, dah nyampe nih, sampai nanti, bye…”
“Bye Alice, good luck yah!”Alicia menutup telponnya, lalu mematikan ponselnya. Sudah lama sekali gak ketemu Lidia.

###

Sore di lantai 2 Stasiun Gambir, Hoka-Hoka Bento!
Alicia dan Among duduk berhadapan, Among makin mirip Mas Rio, bisik hati Alicia gamang.
“Jam dua aku telpon, ponselmu gak aktif” ujar Among.
“Untung aku masih punya nomor telpon Lidia makanya aku bisa menemukanmu di sini” lanjutnya.
“Aku sengaja matikan ponsel selama interview dan baru kelar jam tiga”
“Linda bilang kamu bakal pindah ke Cianjur. Kenapa Cianjur? Kenapa bukan Jakarta? Ada seseorangkah? Sudah ada yang menggantikan posisi Mas Rio di hatimu?”
Tatapan tajam Among tepat di jantungnya. Satu kemiripan Among dengan Mas Rio, ketajaman instingnya. Hanya saja Mas Rio gak akan se-blak-blak-an ini. Mas Rio cenderung diplomatis kalo ngomong.
“Entahlah Mong. Cuma mo cari suasana baru” kilah Alicia seraya berusaha keras menghalau bayangan mata kelam Diks.
“Alice, kamu yakin belom ada pengganti Mas Rio?” tanya Among perlahan, was-was.
“Among, sudahlah….Please! Kalo ‘ntar aku dah nemu orang yang tepat, maka kamu orang pertama yang aku kasi tau, aku janji”
“Baiklah, Alice. Ini kegemaranmu, buat di jalan” ujar Among sambil memberikan coklat cadbury.
###

Sekali lagi Alicia harus melalui perjalanan malam di atas Argo Bromo yang akan membawanya kembali menapaki kehidupannya dengan hati yang lebih tegar. Emmm… Among tadi bilang sesuatu waktu ngasi coklat ini: coklat dan es krim bisa bermakna seperti bunga. Sedangkan bunga bisa berarti cinta. Jadi Among?? Isyarat cinta tersembunyi kah? Ahh…mana mungkin, Among sudah seperti saudara kandung bagiku.
“Oh…my God!!” tiba-tiba seperti tersengat lebah, Alicia ingat sesuatu. Coklat dan es krim? Benarkah berarti cinta?? Bagaimana mungkin?
“Ah… Diks, mungkinkah?” bisik hati Alicia. Sekali lagi mata kelam Diks dan binar cerianya terbayang jelas di pelupuk mata Alicia. Terasa begitu dekat…
“Meski sangat dekat, kini makin jelas jarak kita. Engkau di ruang tunggu, Aku di lorong waktu. Kapan dan dimana kita mungkin bertemu” desah bibir Alicia, sesaat sebelum terlelap!

--oo0oo--

written by: Anita Lindawaty
Medio, 1 Mei 2003
(Buat: Diks, Andai lorong waktu itu berujung di ruang tunggu, akan aku berikan coklat cadbury untukmu, Traktir aku es krim terlezat yah!)


Catatan Profil Tokoh Cerita:
Diks: nama panjangnya adalah DIKS, memiliki mata kelam yang sungguh mengusik ketenangan Alicia.
Among: nama lengkapnya Amesangeng Pattaropura Lapanengke, adik kandung Mas Rio yang gagal jadi adik ipar Alicia.
Mas Rio: nama sebenarnya Mario Lapanengke, tutup usia 6 Agustus 2002, meninggalkan satu calon istri yaitu Alicia, dan empat mantan pacar yang juga turut berduka mengiringi kepergiannya.
Alicia: Apakah ini nama sebenarnya? Masih perlu konfirmasi lebih lanjut. Tapi yang pasti dia telah benar-benar memancangkan pilihan dan mengikatkannya dalam rangkaian hari esok. Di sini bermil-mil jauhnya dari engkau di sana Tiang-tiang horizon telah mengukuhkan pilihannya pada malam yang membumbung dan senja yang terpikat matahari sore.
Mumuh: salah satu sobat baik Alicia yang melangsungkan pernikahannya 3 April 2003, mungkin masih dalam suasana bulan madu, sehingga ponselnya belom dapat dihubungi untuk konfirmasi mengenai keterlibatan namanya dalam cerpen ini.
Sita: nama sesungguhnya Massita Dwi Mandini Manessa, si tomboy adik bungsu Mas Rio yang piawai memasak dan bikin kue. Obsesinya adalah menjadikan Alicia sebagai kakak iparnya, kalo gak mungkin sama Mas Rio, sama Among aja, harus!! itu mottonya.

Nantikan Dua Cerpen squelnya: Cinta Dalam Sepotong coklat dan Es Krim Kerinduan.
Jangan Sampe Ketinggalan!!

December 16, 2008

Yang Ringan dan Yang Lucu

Suatu ketika dulu, aku suka ngumpulin cerita2 lucu. Sekedar menghilangkan kepenatan ditengah padatnya aktivitas. Silahkan teman2 tersenyum kalo bisa nemu lucu nya dimana.
Kalo pun senyum nya telat juga gak apa-apa, better late then never haha....

@nita
_______________________________________________________________________

Prince of Darkness
=============

Ada seorang dracula sedang kehausan dan kelaparan, terus si Dracula bilang ke temennya.
Drakula 1 : "Eh...buddy gua mo keluar nih, mo nyari darah."
Drakula 2 : "loh siang siang begini mana ada darah".
Drakula 1 : "Ngga apa apa deh gua udah ngga tahan."

Akhirnya si dracula 1 keluar, setelah beberapa menit ... eh diapulang dengan banyak darah belepotan di mukanya. Temennya heran.

Drakula 2 : "Eh elo darimana dapet tuh darah banyak banyak begini....?"
Terus si dracula 1 tunjukin sebatang pohon yg gede dari jendelarumahnya dan berkata,
"elo liat ngga tuh pohon gedhe".
Drakula 2 : " iya. , gua liat, emang kenapa?", jawab temennya.
"gua ngga liat ", ata si dracula 1.
______________________________________________________________________

SALAH PERSEPSI

Ada cewek cakep mau foto copy ijazah di tempat foto copy, setelah selesai saking buru-burunya ijazah aslinya ketinggalan.... Terussss, ia balik lagi dengan segera ke tempat foto copy dan langsung nanya;

"Mas...mas... aslinya mana?"

terus dijawab sama si tukang foto copy dengan manisnya (agak2 ge-er)

"Solo mbak..."

______________________________________________________________________

SALAH PERSEPSI II

Ada seorang ibu hamil tua mau membayar hutang cicilan rumah di suatu cabang BTN, setelah mencapai loket, sang kasir dengan proaktif langsung bertanya

"Berapa bulan bu ... ?"

Dengan tersipu-sipu si ibu menjawab;

"Jalan delapan bulan ....",sambil mengelus-elus perutnya .....

_______________________________________________________________________

Rohaniawan, Koruptor, dan Hacker

Seorang rohaniawan, seorang koruptor, dan seorang hacker meninggal dunia. Di gerbang akherat, malaikat telah menunggu mereka.

“Yang pertama!” kata malaikat. Majulah si rohaniawan.
Setelah membolak-balik catatannya ia berkata,
”Ooh, Bapak… Silahkan masuk, segala perbuatan Anda membahana di penjuru surga,” sahut Sang malaikat.

“Yang kedua!” kata malaikat lagi. Sang koruptor pun maju…
”Pssstt, jangan bilang siapa-siapa,” katanya sambil menyelipkan segepok uang.

“Weleh, kamu kira bisa menyogok di sini. Masuk sana ke neraka!”.
Dan tahu-tahu muncul beberapa penjaga menyeretnya ke dalam neraka.

Tahu-tahu malaikat kebingungan ketika melihat file orang ke tiga. Setelah mencoba beberapa kali tak berhasil juga, Sang hacker mendekatinya,
”Ooh, Anda salah memasukkan password” kata Sang hacker sambil tersenyum licik.
Ia pun memasukkan passwordnya, dan di layar pun tertera: BOLEH MASUK.

_______________________________________________________________________

Penjaga Lintasan Kereta

Sarjo melamar pekerjaan sebagai penjaga lintasan kereta api.
Terus Sarjo diantar menghadap Pak Banu, kepala bagian, untuk wawancara.

"Seandainya ada dua kereta api berpapasan pada jalur yang sama, apa yang akan Anda lakukan?," tanya Pak Banu, ingin mengetahui seberapa cekatan Sarjo.
"Saya akan pindahkan salah satu kereta ke jalur yang lain," jawab Sarjo.
"Kalau handle untuk mengalihkan rel-nya rusak, apa yang akan Anda lakukan?" tanya Pak Banu lagi.
"Saya akan turun ke rel dan membelokkan relnya secara manual
Kalau macet atau alatnya rusak bagaimana?"
"Saya akan balik ke pos dan menelpon stasiun terdekat"
"Kalau telponnya lagi dipakai?"
"Saya akan lari ke telpon umum terdekat?"
"Kalau rusak?"
"Saya akan pulang menjemput kakek Saya."
"Lhoooo...? kenafffa??" Pak Banu terheran-heran
"Iyaa... Soalnya seumur hidupnya yang sudah 73 tahun, kakek Saya belum pernah melihat kereta api tabrakan."

_______________________________________________________________________

Arti Mimpi

Ketika bangun pagi, Mrs Gate berkata kepada suami nya,
“Sayang, tadi malam Saya bermimpi kamu memberi Saya satu set perhiasan mutiara pada hari Valentine. Kira-kira apakah itu artinya?”

“kamu akan segera tahu jawabannya nanti malam” jawab Sang suami.

Malam itu Sang suami pulang membawa sebuah bungkusan kecil dan memberikannya kepada istrinya. Sambil tersipu-sipu, Sang istri segera membuka bungkusan tersebut – dan ia mendapati sebuah buku yang judulnya ‘Arti Sebuah Mimpi’.

_______________________________________________________________________

AYAH SI KORBAN
~~~~~~~~~~~~~~

Seorang wartawan sedang meliput peristiwa kecelakaan.....
Karena banyak orang yg mengerumuni lokasi kecelakaan, sehingga wartawan tsb tidak dapat menerobos untuk melihat korban dari dekat.

Setelah makan permen MENTOS, wartawan tsb dpt ide.
"Minggir-minggir semua, saya ayah korban!" ia berseru.
"Saya minta jalan."

Benar saja... kerumunan itu membiarkan dia lewat.Semua mata terarah kepada wartawan tsb.(wartawan GR, dalam hatinya: "Berhasil juga, permen MENTOS emang ok !!!)

Ketika sampai di tengah kerumunan, ia terpana melihat...seekor anak kambing tergeletak tak berdaya.

_______________________________________________________________________

Gajah

Di sebuah desa di daerah Lampung yang masih rawan serangan gajah.
Kawanan gajah sering merusak kebun dan perumahan penduduk. Biasanya penduduk akan melakukan perlawanan dengan menembak gajah-gajah tersebut, atau menangkapnya untuk dijinakkan. Pada suatu hari, muncul gajah yang rada-rada aneh, warnanya biru.

Mengamuk dengan ganas dan gak mempan ditembak. Lalu menurut para tetua di kampung tersebut, gajah biru harus ditembak dengan peluru biru. Maka, penduduk desa pun menembak tuh gajah pake peluru biru. Ternyata benar, gajah bisa ditaklukkan dan MATI!

Beberapa bulan kemudian, muncul lagi gajah aneh, berwarna putih! Dengan berbagai cara dicoba untuk membunuhnya, termasuk dengan peluru biru juga gak mempan. Akhirnya ditemukan cara untuk membunuhnya. Mau tau? Penduduk desa rame-rame mukulin tuh gajah ampe biru, abis itu baru ditembak pake peluru biru! Mati dehh…

Tiga bulan kemudian, dateng lagi gajah merah!! Bingungkan… dipukulin malah jadi ungu (merah + biru = ungu)… Gimana caranya cobaaa….

Tau gak, gini caranya:

Penduduk bersembunyi di suatu tempat, lalu rame-rame ngagetin tuh gajah: Ciluuuk baaaa….. Si gajah kaget, pucet, jadi putih kaaannnn… terus digebukin ampe biru, baru ditembakkk…dooorr! Mati deh tuh gajah…..

_______________________________________________________________________

Jumlah Anaknya

Di sebuah ruang tunggu rumah sakit bersalin, beberapa orang calon ayah.
Sedang menunggu dengan gelisah. Setiap bayi nya lahir, sang suster mengumumkan
Jumlah bayi yang dilahirkan kepada sang ayah.

Suster : Bapak Adit… anak Bapak kembar dua loh…
Adit : Waaah kok kebetulan yah, Saya kerjanya di ‘Kacang dua kelinci’.

Beberapa menit kemudian:
Suster : Bapak Wahyu…. Anak Bapak kembar tiga…
Wahyu : loh kok maching yah, Saya emang kerja di ‘Tiga Roda’

Selanjutnya:
Suster : Bapak Yusuf, istri Anda melahirkan bayi kembar tujuh!
Yusuf : Hah? Kok bias suster… apa karena Saya kerja di ‘Bintang Tujuh’?
Tapi walau bagaimana pun Alhamdulillah, bayi dan ibunya sehat kan suster?

Arya, si calon ayah yang belom dipanggil namannya, mendadak langsung pucat pasi.
Soalnya dia kerja di telkom, kan ‘Telkom 2002’…

Sementara Fahmi langsung pingsan! Mengingat dia kerja di succofinda…
Bayangin, succofindo kan ‘ISO 9002’…!

_______________________________________________________________________

Si Yayan

Si Yayan adalah anak SD kelas satu......
selain juara di kelasnya, dia cukup ganteng juga lah.
Yayan punya satu teman sekolah namanya Lala....
Lala cantik dan imut lah yaaa…

Terus si Yayan naksir sama si Lala... ternyata Lala juga punya hati ama si Yayan.

Suatu hari, karena mo sok seriusan gitu si Yayan ngomong ke si Lala (nembak kali yeee),
"Lala, kamu tahu aku suka padamu. Sayangnya kita masih kecil.....Kalo nanti kita udah rada gede, kita menikah ya...?!"

Dengan wajah yang memerah merona, si Lala menjawab dengan serius dan bersungguh-sungguh,"Yayan, bukannya aku menolak.... aku sih mau aja...Tapi dalam keluarga kami, kami hanya menikah sesama kerabat saja. Paman menikah dengan bibi, kakek menikah dengan nenek, dan bahkan papa menikah dengan mama......padahal kan kamu bukan kerabat aku, Yannn."

Mendengar jawaban si Lala, Yayan langsung nggak masuk sekolah satu minggu karena patah hati....

Senja di Parahyangan

"Ayi ikut ya Ma... Ayi mau ke lumah Bunda lagi... Ayi mau naik onta cama Bunda... ya..Bunda ya..."rengek Ayi, keponakanku yang berumur 4 tahun, minta dukunganku agar diizinkan ke Bandung lagi.

"Ayi kan mesti sekolah! Masa bolos mulu.." ujar kakakku gemes. Pertanda sebentar lagi Ayi bakal dicubit! Aku harus segera menyelamatkannya....

"Ayi Sayang... sini dengerin Bunda ya.." bujukku seraya memeluk dan mencium pipinya.
"Ayi sekolah dulu, Bunda juga sekolah di Bandung. Ayi udah liat sekolah Bunda kan..." lanjutku. "Cekolah Bunda ada gajahnya... Ayi mau naik gajah lagi... Mau maen tembak-tembakan cama om Imlon.."
"Iya... tapi bulan depan aja ya Sayang. Tunggu Ayi libur.. OK, anak manis? Toss dulu dong.."

Untunglah Ayi selalu mau menuruti ucapanku. Memang sejak bayi, aku ikut mengurusnya sehingga tidak heran jika Ayi lebih dekat dan lebih mau mendengarkan aku ketimbang kakakku yang notabene adalah mamanya.

***

Stasiun Depok Baru lumayan ramai. Kulirik jam tangan mungil di pergelangan tanganku: 15.10 WIB. Moga-moga ke-uber kereta parahyangan 16.30 WIB dari Gambir. Biar nggak kemaleman sampe Bandung. Memang KRL merupakan pilihan transportasi yang lebih cepat, karena terhindar dari macetnya Jakarta. Aku duduk di tempat duduk panjang yang unik, dibuat dari dari rel kereta api. Moga-moga tidak perlu menunggu lama, do'aku dalam hati.

"Permisi mbak, bisa geser dikit!" sapa sebuah suara bariton yang membuatku reflek menggeser dudukku dan Sang pemilik suara duduk disampingku. Ransel yang besar dan padat di punggungnya menyentuh pundakku dengan tidak ramah, meninggalkan sedikit nyeri.

"Maaf.." gumamnya seraya berdiri lagi dan menurunkan ranselnya. Tentu saja untuk ke dua kalinya 'ransel sialan' itu mencolek pundakku. "Huh!" batinku kesal dan melebarkan bola mataku ke arah si pemilik ransel. Sekali lagi dia menggumamkan 'maaf' ditambah secerca senyum penyesalan.

Kalau saja aku tidak sedang kesal, mungkin aku segera menyadari betapa manis senyumnya. Tapi siapa yang perduli! Untunglah KRL segera datang dan aku buru-buru beranjak naik. Uuhhh..lumayan padat penumpangnya.. Seorang pemuda berdiri memberikan tempat duduknya padaku. "Makasih..." gumamku, mungkin dia mau turun di Pondok Cina atau UI, dua stasiun setelah Depok Baru.

Sampai stasiun Manggarai, gerbong kereta mulai agak legaan. Si pemilik ransel tadi juga sudah mendapatkan tempat duduk tidak jauh dariku. Saat aku melirik sekilas, dia juga sedang memandangiku rupanya. Baru kali ini aku sempat mengamatinya: lumayan manis; rambutnya agak gondrong, hitam dan lebat; sepatu kets, celana jeans dan kaos oblong yang penuh tulisan begini nih:

PUSING, itu bagus...tandanya Anda masih punya kepala
GEGAR OTAK, itu lebih baik lagi...tandanya Anda masih punya otak
KANKER, ini baru parah...tandanya Anda nggak punya duit...
SAMA DONG....!

***
Stasiun Gambir!

Aku menghambur turun ke lantai I, beli tiket dan naik lagi ke lantai III langsung ke kereta parahyangan di jalur 1. Untung beli tiketnya nggak pake acara antri. Setelah menemukan tempat dudukku barulah aku lega... Sepuluh menit lagi kereta berangkat, dan pukul 19.30 WIB aku sudah di Bandung lagi.....

"Maaf mbak, ini executive 2?" tanya sebuah suara membuyarkan lamunanku dan membuatku menoleh reflek karena suara itu masih menyisakan kekesalan dalam diriku. Glek! Ternyata benar dia... Apes banget sih aku hari ini...
"Iya.." jawabku pendek. Bahu kiriku mendadak nyeri lagi!
"Saya nomer 5A, deket jendela...tapi kalo mbak mau di sana, gak pa-pa kok" ujarnya sambil tersenyum sok ramah.
"Oh..Gak usah, makasih" aku segera berdiri dan memberi jalan agar dia bisa duduk di kursi yang tadi sempat kutempati dan kemudian duduk di kursi sebelahnya.
***
Satu jam sudah kereta melaju, sampai Cikampek kini. Senja mulai menjelang. Langit merah di ufuk cakrawala. Indah sekali... Sosok di sampingku membisu, asyik dengan lamunannya sejak dari Gambir tadi. Memandang kosong ke luar jendela dengan wajah tanpa ekspresi. Profil wajahnya menimbulkan siluet tertimpa merahnya cahaya mentari senja...manis sekali... Sungguh artistik. Bentuk hidungnya yang agak-agak berkesan aristokrat melukiskan keangkuhan. Senada dengan sikapnya yang acuhkan detak roda kereta yang mengoncang dan bergemuruh.
Aku mengeluarkan TTS yang tadi sempat kubeli dan segera tenggelam dalam keasyikan mengisi kotak-kotak kosong itu. "Nomer 11 menurun tuh isinya 'bianglala'..." sentaknya mengusik keasyikanku. Spontan aku aku melihat pertanyaan nomer 11 menurun; Yang muncul setelah hujan...eh...bener juga jawabannya. Aku menuliskan 'bianglala' lalu menutup buku TTS.
"Lho kok udahan.." katanya. Aku menolehkan kepalaku ke arahnya dan menemukan dia sedang tersenyum yang menghapus semua kesan tak acuh dari wajahnya.
"Udah gak asik lagi... digangguin sih..." jawabku singkat.
"Ops...sorry...sorry...." ujarnya
"Sorry juga tadi ya, yang di Depok! Masih marah ya? Eh, belum kenalan, gue...Thomas!" lanjutnya.
"Linda" jawabku pendek seraya menjabat tangannya yang terulur.
"Mau ke Bandung juga ya?" tanyanya.
"Emang nih kereta lewat Yogya gitu?" jawabku balik bertanya
"Nggak...! Cuma sampe Bandung" sahutnya dengan ekspresi heran, mungkin dia pikir aku salah naik kereta...
"Yah, kalo gitu gue juga cuma sampe Bandung aja.." komentarku ringan yang membuatnya tersenyum geli, sekaligus menghapus dugaannya yang keliru.
"Di Bandung, kuliah?"
"Yup!" jawabku singkat.
"Sama dong...gue di T. Mesin Unpas, sedang TA dan sedang suntuk berat, makanya kabur ke Jakarta" ceritanya tanpa kuminta.
"Jalan-jalan kok ke Jakarta, yaaa...tambah mumet lagi... Bukannya Jakarta biangnya macet yang stress kebanyakan orang" komentarku
"Yah, mungkin lebih tepatnya 'run away'..." ujarnya.
"Lho, kok? run away from what?" tanyaku ingin tahu.
"Gue dijodohin" jawabnya.
Ops! Aku nyaris tertawa geli. Mana ada sih cowok yang kena kasus 'kawin paksa'. Tapi melihat ekspresinya yang serius membuatku berusaha keras menahan geli.
"Kok, bisa...?" tanyaku serius.

Maka mengalirlah cerita tentang adat istiadat keluarganya di Pontianak (Kalimantan Barat) sana. Tentang kekhawatiran orang tuanya kalau-kalau Thomas terpikat 'mojang priangan'. Apalagi mengingat sekarang dia hampir menyelesaikan studinya. Barulah aku mengerti, mungkin kegalauan inilah yang berkecamuk mengisi lamunannya sejak dari Gambir tadi.
"Ngomong-ngomong Linda kuliah dimana?" tanyanya.
"Di ITB, Kimia" jawabku pendek.
"Angkatan taon berapa sih.."
"Uhh.. gue mah udah tua lagiii..." ujarku mengelak.
"96? '95? atau malah '94?" tebaknya gencar.
"Bukan...semuanya salah...gue angkatan '99" jawabku akhirnya mengaku juga.
Tapi Thomas malah tergelak dengan gelinya.. Uhh! gak percaya ya sudah!
"Iya juga sih... lebih senior dari yang angkatan 2000 ya.." komentar Thomas setelah tawanya reda.
"Eh, percaya gak, di tempat kos gue rada angker loh... masa waktu malem jum'at kapan ya? Ada yang ngetok kamar temen gue gak pake kepala... serem gak sih..."
"Masa sih? Emang Linda kos nya dimana?" tanyanya.
"Dago"
"Daerah dago sebelah mana sih yang angker kaek gitu? terus temen Linda itu gimana? Beneran gak nih?" tanyanya sangsi.
"Iya... beneran...! Lagian mana ada sih orang yang ketok-ketok pintu pake kepala sih..ya.. pake tangan dong, biar gak benjol" jelasku
"Hahaha... Linda iseng juga ya...kirain serius! Temen gue juga pernah mau nonton di BIP, masa gak boleh masuk pake sendal"
"Alaaaaa....bo'ong! Gue aja pernah nonton di BIP pake sendal!" protesku
"Iya..beneran kok. Soalnya, kalo orang lain masuknya pake tiket dan dapetin tiketnya pake duit, temen gue tuh pake sendal... yah gak boleh masuk jadinya...!"
Hihihi...kebayang kan temen si Thomas ngasi sendalnya pas mo masuk teather di BIP.
"Yeeee... bales dendem ya..." ujarku keki.
"Di kampung gue pernah ada kejadian aneh. Masa ada yang meninggal, tapi tangannya gak bisa dilipat di dada. Jadi tangannya tetep mengepal ke atas kaek iklan ekstra joss. Udah dipanggilin orang pinter, kyai, ampe dukun, tetep gak mempan" ceritaku dengan serunya.
"Kenapa gak dipaksain aja, terus diiket!" komentarnya lugu.
"Tetep gak bisa lagi... Namanya orang meninggal kan badannya udah kaku"
"Terus gimana nguburnya, masa kuburannya dibuat lebih panjang sih..." protesnya.
"Akhirnya bisa diatasin sih... sama anak kecil, tetangganya yang suka maen di deket rumah si mayat" jawabku akhirnya.
"Oh ya...emang gimana caranya? Hebat juga tuh anak.."
"Anak itu cuma nyanyi: cang kacang panjang, yang panjang jadiii..., eh..mayatnya langsung ngelipet tangannya...!" jelasku
Begitulah... beragam cerita mengalir. Canda tawa bergulir. Hingga tanpa terasa, senja berganti malam. Kereta mulai memasuki bumi parahyangan.
"Kaeknya udah nyampe ya Lin"
"Iya nih.. Gue jamin elo pasti gak bisa jawab teka-teki gue yang gambar itu ya. So'alnya temen-temen gue juga pada gak bisa jawab. Padahal udah pake acara berhadiah kaset slank segala lho..." ucapku sambil siap-siap turun dari kereta.
"Yaaaa... kalo anak ITB aja gak bisa, wajar dong kalo gue juga gak bisa...hehehe..." balasnya nggak mau kalah.
"Tapi walau bagaimanapun makasih banyak ya, Lin... udah bikin gue ketawa dan ngerasa fresh lagi. Gak rugi deh gue minta tempat duduk di samping elo, tadi pas beli tiket di Gambir!" akunya dengan tulus.
"Oh...jadi elo sengaja ya... Gue pikir kebetulan aja. Tau nggak, gue tadi ngerasa apes banget hari ini, waktu tau ternyata harus duduk sampingan sama elo..." jawabku dengan jujur juga dong... "Eh, sekali lagi sorry ya... pasti gara-gara kejadian di stasiun Depok Baru tadi, makanya elo ngerasa gitu..." ucapnya penuh sesal.
"Iya..deh... eh, gue lewat sini ya... daaaa Thomas..."
"Daaaaah... sampai ketemu lagi ya Lin..."
Aku menelusuri jalan depan stasiun Bandung, menuju angkot yang akan membawaku ke tempat kos. Jadi inget bait terakhir puisi yang sempat kubuat di atas kereta tadi
....Satu warna baru telah terlukis
Dalam kanvas kalbu
Jika sanggup memantulkan binar ceria
Dari wajahnya
Pada wajah buram dunia.
--o0o--
Kereta Parahyangan Jakarta-Bandung 16.30 WIB, 19 sept 2000
Written by Anita Lindawaty

Pernikahan

Ada dua teori tentang apakah sesungguhnya jodoh itu? Teori pertama mengatakan bahwa jodoh itu adalah orang yang akhirnya menikah dengan kita, apapun jalannya sehingga pernikahan itu terlaksana. Sayangnya teori ini tidak dapat menjawab satu fenomena: jika orang yang menikah itu berarti sudah ketemu jodohnya, mengapa ada pasangan yang bercerai setelah menikah? Apakah jodohnya putus atau berakhir?

Teori kedua menerangkan bahwa jodoh adalah orang yang merupakan belahan jiwa kita yang segala sesuatunya cocok dan baik buat kita, dan terasa ada ikatan batin dan jiwa dengannya.

Cerita berikut, mendukung teori yang manakah? Ataukah perlu ada teori ketiga yang merupakan gabungan kedua teori sebelumnya? :)

***

"Pernikahan kayak gini sudah gak jaman, Pa" protes Kalfi kesal
"Mana ada laki-laki yang dinikahkan paksa, Kalfi cuma akan menikahi perempuan yang Kalfi cintai" tegasnya berang.
"Dengar" desis papanya tajam.
"Dia perempuan yang baik dan saat ini masih melanjutkan sekolahnya di Bandung. Papa kenal baik dengan orang-tuanya".
"Tapi itu bukan alasan buat ngejodohin kami, pa!"
"Bagaimana papa bisa yakin kalo di Bandung dia nggak punya kekasih!" Kalfi masih penasaran mencoba mendebat sekali lagi.
"Pendeknya, jangan bikin malu papa, Kalfi" ucap papa Kalfi tegas.
"Besok malam kita mengunjungi mereka. Mumpung Andin sedang ada di sini!"
"Tapi ini jaman modern papa. Masa Kalfi harus seperti anak perempuan yang diatur begini-begitu. Besok malam Kalfi sibuk..."
"Papa tau!" potong papanya pula.
"Kalfi sibuk di kantor dan entah apa lagi nama kesibukan yang Kalfi cari-cari di luar sana! Tapi Kalfi harus ingat, calon mertuamu bukan orang yang terlalu modern. Walaupun mereka menyekolahkan Andin sampai begitu tinggi ke Bandung".
"Apa bedanya dengan mereka, pa?"keluh Kalfi sebal sekaligus putus asa.
"Papa dan mama sudah dua kali berkunjung ke rumah mereka, dan anak yang namanya Andin itu, sekali pun papa belum pernah ketemu bukan? Nah, barangkali dia sama brengseknya dengan Kalfi!".

Tidak berhasil dengan papanya, Kalfi mencoba mendekati mamanya. Biasanya sih berhasil. Tapi tampaknya kali ini sia-sia. Papa terlalu dominan di rumah ini. Dan mama terlalu lemah. Namun, gak ada salahnya dicoba.

"Aku kenal Zawawi seperti aku kenal diriku sendiri. Dia orangnya baik, dermawan, dan disegani. Mustahil pohon yang baik menghasilkan buah yang jelek".
"Tapi Andin bukan Zawawi, pa" mama Kalfi memperingatkan sekali lagi.
"Dia sudah mengecap pendidikan dan pergaulan begitu jauh dari rumah. Apa papa yakin dia akan cocok dengan Kalfi". "Barangkali mama benar juga" kata papa Kalfi akhirnya.
"Baik, papa mengalah. Akan papa selidiki dulu gadis itu"

Lalu main selidik-selidikan yang gak lucu itu itupun dimulailah. Papanya meminta bantuan beberapa kerabat dan kenalannya untuk memata-matai Andin. Sebaliknya Kalfi sendiri nggak bisa ngusir perasaan seakan-akan sedang diawasi gerak-geriknya. Perasaan itu melahirkan kejemuan yang menyiksa dan baru dapat ditumpahkan tiga bulan kemudian, ketika papanya dan papa Andin sukses mengatur pertemuan mereka di sebuah rumah makan.

Gadis itu merupakan lukisan gadis masa kini. Tidak terlalu cantik. Tidak modis, tapi lumayan manis dan tampak smart. Bicaranya terus terang, lugas dan apa adanya, seakan mereka teman lama yang baru berjumpa.
"Kalo bokap lu mau nanya langsung ke gue, sebenernya gak perlu nyewa mata-mata buat ngawasin kelakuan gue" katanya datar.
"Gue akan terus terang cerita tentang gue apa-adanya. Gue bukan calon menantu yang baik yang diimpikan bokap lu. Selama dua tahun di Bandung, gue lebih kenal kafe daripada ruang kuliah"Andin menunggu reaksi Kalfi. Ketika dilihatnya gak ada perubahan air muka pemuda itu, ia melanjutkan
"Tapi yang paling penting ada seorang lelaki baik yang menanti gue di Bandung"
"Nah, ini baru cerita bagus buat ngebatalin pernikahan konyol itu. Asal lu cukup punya nyali buat persentasi-in lagi di depan bokap-bokap kite" cetus Kalfi bersemangat.
"Supaya kita punya cerita yang lebih bagus, mendingan lu juga bikin dongeng versi lu sendiri" matanya menatap Kalfi dengan pandangan mengejek.
"Gue tau elu juga bukan cowok alim. Nah, apa salahnya nambah-nambahin bumbu dalam dongeng lu? supaya bokap gue lebih percaya".
"Oh, gue gak se-brengsek yang lu kira!" sentak Kalfi kesal sekaligus heran, kenapa juga harus membela diri di depan gadis ini. Bagaimanapun, reaksi Andin sama sekali di luar dugaannya. Ternyata dia pun tidak menginginkan pernikahan ini.
"Oke. Oke" suara Andin berubah lembut.
"Gue percaya deh, lu cowok baik. Tapi gue gak cinta sama elu. Dan elu gak mau nikah sama cewek yang gak cinta sama elu, bukan?"
"Jelas dong. Gue gak bakal nikahi perempuan yang gak gue cintai dan gak cinta sama gue"

Sikap dan pandangan gadis ini begitu angkuh. Seakan dia menganggap dirinya gadis yang paling istimewa dan ngerendahin semua cowok yang dihadapinya. Tetapi diluar semua itu, Kalfi harus mengakui, gadis ini sangat menarik. Dia memiliki sesuatu yang memikat di dalam sana. Entah di dalam matanya yang selalu tersenyum mengejek itu. Atau di sudut bibir indahnya yang melantunkan 'kalimat-kalimat lugas', istilah halus dari 'asal nyeplos seenaknya'.

"Tapi gue gak sudi ngerusak nama gue sekali pun di depan bokap lu!" Kalfi menatapnya gemas. Gadis ini begitu percaya diri, menimbulkan kesan menggurui.
"Ah ya tentu dong" ucap Andin
"Tentu aja lu gak perlu ngerusak nama lu, cowok baikkk" lanjutnya sinis dengan bola mata berbinar indah.
"Ya sudahlah. Kita ketemu di sini dua hari lagi, bukan?" ujar Kalfi
"Sementara itu, moga-moga gue bisa nemuin cerita yang lebih baik dan elu bisa dapet jalan yang lebih mudah untuk ngebatalin pernikahan kita, Oke?"

Demikianlah dari satu pertemuan mereka jatuh ke pertemuan berikutnya. Tanpa terasa dua bulan sudah berlalu, dan dengan heran Kalfi menyadari perasaan enggan untuk mengakhiri pertemuan- pertemuan semacam ini. Sudah gilakah gue? pikir Kalfi bingung. Atau ini pertanda buruk gue mulai... jatuh cinta?

"Kok, elu nggak sebawel biasanya?" kata Kalfi tiba-tiba. Andin terkejut. Kalfi sedang mengawasinya. Ah... kenapa sih dia punya mata tajam selembut itu... batinnya sebel!
"Oh... gue gak pa-pa kok" sahut Andin menunduk, menatap tangan mereka yang saling menggengam di atas meja dan merasa segan untuk melepaskannya.
"elu... elu mulai bosan dengan pertemuan seperti ini?" senyum giris berkelebat di bibir Kalfi.
"Kata mata-mata bokap gue, elu gadis pembosan"
Hati Andin berdebar. Kalau pernyataan itu didengarnya dua bulan yang lalu, Andin pasti gak perduli. Tapi sekarang?? Ah... rasanya gak enak banget dengernya.
"Minggu depan gue mesti balik ke Bandung" ujar Andin
"Gue mesti beresin tesis gue" lanjutnya lemah tanpa emosi
"Papa juga setuju"

Kalfi menatapnya heran "bokap elu?" tanyanya seolah gak percaya dengan telinganya. Apa ini berarti papa Andin sudah setuju membatalkan pernikahan ini. Ataukah papa Andin mencoba realistis dan menerima pilihan Andin yang di Bandung itu. Kemudian mencoba mengulur waktu dengan alasan klise biar Andin menyelesaikan sekolahnya dulu.

"Kadang gue jemu menjadi wayang permainan bokap gue" Kalfi meremas jemari Andin.
"Tapi sampai sekarang pun gue gak mampu melepaskan diri..."
"Atau tepatnya lu gak punya nyali untuk itu!" sentak Andin. Direnggutnya tangannya dari genggaman pemuda itu.
"Jadi kita gak perlu ngarang dusta untuk membatalkan pernikahan kita, bukan?"
"Gue pikir juga gitu"
"Gak akan ada lagi pertemuan kayak gini?"

Kalfi menatap Andin. Mereka saling pandang. Dan Kalfi kesal pada dirinya sendiri ketika menyadari keinginan yang menggelegak untuk memiliki gadis ini. Ia telah jatuh cinta. Sialan! Bagaimana mungkin gue jatuh cinta sama gadis ini!
"Gue pikir..."
"Baiklah" potong Kalfi sambil berdiri
"lupakan dongeng-dongeng itu. Titip salam buat lelaki baik yang nungguin elu di Bandung" Andin tertegun bingung.

Setelah mengantarkan Andin pulang, kegalauan itu kian memuncak dalam benak Kalfi. Sudah terlambat, pikir Kalfi marah. Gue terlanjur mencintainya. Dan gue pantang menyerah. Sekalipun kepada seorang lelaki baik yang nungguin die di Bandung. Perduli setan! Gue gak bakal ngalah begitu saja!

***

"Ke Bandung?" Dari terkejut, heran akhirnya geram, papa Kalfi membelalaki Andin dan papanya.
"Mana boleh begitu. Andin harus melahirkan di sini!"
"Melahirkan?" gantian papa Andin terbelalak heran
"Melahirkan apa?"Papa Kalfi mengangkat telunjuknya, menuding Andin yang sedang menunduk bingung dan geram.
"Tanyakan pada anak gadismu. Tanyakan apa yang telah mereka lakukan! Mereka harus menikah dulu! Pernikahan mereka harus dipercepat. Sesudah anak itu lahir, baru mereka boleh bercerai kembali!

"Sekarang baik Andin maupun papanya menatap papa Kalfi dengan bingung
"Anak? Anak siapa? Siapa yang hamil?"
"Anak mereka! Cucu kita!"
"Hah???" papa Andin berpaling kepada anaknya dengan kilatan amarah menggelegak dimatanya.
"Kau dustai papa, Andin!" Andin membalas tatapan papanya dengan bingung. Lalu dengan enggan papanya menoleh kepada rekannya
"Maafkan Aku, Pak Rahmat. Aku benar-benar 'ndak tau apa-apa. Andin mengatakan putramu impoten..."
"Dusta!" geram papa Kalfi sengit "Anakku sehat!"
"Andin bilang, Kalfi memerlukan pengobatan. Teman Andin tau tempat pengobatan alternatif di Bandung. Karena itu Andin akan segera kembali ke Bandung sekaligus menyelesaikan tugas akhirnya. Sebelum itu mungkin sebaiknya mereka bertunangan saja dulu. Nanti setelah Kalfi sembuh dan Andin lulus barulah mereka kita nikahkan"

Kalfi yang sejak tadi menunduk dalam-dalam di sisi papanya mengangkat wajahnya dengan terkejut. Matanya bertemu dengan mata Andin yang sedang menatapnya. Mereka saling pandang dan tiba-tiba saja tawa mereka meledak.
"Mengapa kalian tertawa? Permainan apa sebenarnya ini Kalfi?"
"Sebenarnya bukan permainan, papa" sahut Kalfi tersenyum lega
"Hanya semacam sandiwara untuk mencegah niat papa membatalkan pernikahan kami. Salahnya kami menyusun rencana sendiri-sendiri sehingga sandiwaranya jadi berantakan"

***

Tatkala Kalfi mengantar Andin ke stasiun Gambir, Argo Gede kereta malam yang akan membawa Andin kembali ke Bandung, Kalfi masih sempat mengajukan pertanyaan yang sudah lama membebani pikirannya kepada tunangannya.
"Andin, cerita tentang lelaki baik yang nungguin elu di Bandung itu, juga termasuk dalam sandiwara elu bukan?" Andin tertawa geli.
"Tentu dong sayang" katanya lembut
"Apa elu pikir bisa dikatakan laki-laki baik jika senantiasa berbohong dan berusaha menyakiti perasaan hanya untuk memancing kecemburuan?"
Kalfi tersenyum lega dan menggenggam jemari Andin dengan mesra.
"Tapi darimana elu bisa tau kalo gue impoten, kita kan gak pernah nyoba untuk...." cetus Kalfi dengan ekspresi serius yang membuat Andin tertegun seperpecahan detik, dan detik berikut tinju kecilnya bersarang telak di bahu Kalfi sehingga Kalfi gak sempat melanjutkan kalimatnya, berganti dengan derai tawa.
"Nah, elu tau darimana gue hamil? Kok bisa yakin gue hamilnya sama elu bukan sama yang di Bandung" tangkis Andin gak mau kalah.
"Karena ternyata menurut Andin dia bukan laki-laki yang baik, setidaknya gak sebaik gue. Kan Andin yang bilang barusan" ucap Kalfi dan dengan gesit menangkap tangan Andin yang siap menyarangkan tinju keduanya. Kalfi menarik lembut tangan Andin dan melingkarkan pelukannya di bahu Andin.
"Insya Allah, gue gak bakal nyakitin elu, Andin sayang" bisiknya lirih, penuh perasaan. Andin menatap matanya mencoba menemukan kesungguhan di sana.

---o0o---

Written by Anita Lindawaty
Bandung 25 maret 2001
Cerita ini sepenuhnya adalah fiksi belaka, sumpe deh 120% fiksi kok...

Laki-Laki Sejati

Aku bertanya pada Ibuku,"Bu,bagaimana aku bisa mengenali laki-laki sejati??
"Ibuku menjawab,"Nak......,

Laki-laki Sejati bukanlah dilihat dari bahunyayang kekar,
tetapi dari kasih sayangnya pada orang disekitarnya....

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang,
tetapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran.....

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat di sekitarnya,
tetapi dari sikap bersahabatnya pada generasi muda bangsa....

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia di hormati ditempat bekerja,
tetapi bagaimana dia dihormati di dalam rumah...

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan,
tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan...

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang,
etapi dari hati yang ada dibalik itu...

Laki-laki Sejati bukanlah dilihat dari kerasnya membaca kitab suci,
tetapi dari konsistennya dia menjalankan apa yang ia baca...

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari banyaknya wanita yang memuja,
tetapi komitmennya terhadap wanita yang dicintainya...

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari jumlah barbel yang dibebankan,
tetapi dari tabahnya dia menghadapi lika-liku kehidupan...

"Semoga aku menemukan laki-laki sejati,
cukup satu untuk menjadi pendamping hidupku hehe...

@nita

Kapan Jatuh Cinta? Kenali Gejalanya....

Ketika kamu sdg bersama DIA, kau berlagak mengacuhkannya
Tapi ketika DIA tidak ada, kamu berusaha mencarinya
Pada saat itu, kamu sedang jatuh cinta....

Walaupun ada orang lain yg selalu membuatmu tertawa,
mata dan perhatianmu hanya tertuju pada si DIA
Maka, kamu sedang jatuh cinta....

Walaupun seharusnya DIA sudah meneleponmu untuk memberitahu kabarnya,
tapi teleponmu tak berdering.
Dan kamu terus menunggu telepon itu.
Pada saat itu, kamu sedang jatuh cinta.....

Jika kamu lebih tertarik dengan e-mail pendek dari DIA daripada e-mail yg panjang dari orang lain, kamu sedang jatuh cinta....

Jika kamu tak bisa menghapus semua sms dlm hpmu karena ada satu sms dari DIA,
maka kamu sedang jatuh cinta....

Ketika kamu mendapat sepasang tiket gratis menonton film,
kamu tidak akan pikir dua kali untuk langsung mengajak DIA.
Pada saat itu kamu sedang jatuh cinta....

Kamu selalu bilang pada dirimu," DIA hanyalah temanku ",
api kamu menyadari kamu tidak bisa menghindari daya tariknya.
Pada saat itu, kamu sedang jatuh cinta.....

Jika kamu sedang membaca note ini dan SESEORANG muncul dalam pikiranmu,
maka kamu sedang jatuh cinta pada orang itu.....

saat kamu post blog, upload foto atau apapun di blogspot tentang kamu,
dan kamu berharap DIA membaca dan memberi komentar untukmu,
maka kamu sedang jatuh cinta.....

Hayoo... ngaku deh (*pada diri sendiri aja lah*) hehe...

@nita