September 4, 2021

Pandemi Covid19 di Kampung Badui Luar

Siang terik di luar, Rusdi membeku! 

Wajahnya pias, jantung bagai tidak berdegup dan napas seakan berhenti. Apakah waktu turut membeku beberapa jenak? Tangannya bagaikan kebas memegang hasil pemeriksaan swab PCR, matanya membelalak tak percaya membaca fakta yang menari di kepalanya:

Rusdi Kusnadi, positif covid19.

Bagaimana bisa terjadi? Rusdi tidak bisa menerima begitu saja hasil test swab PCR bertuliskan namanya, mustahil virus korona menjangkitinya. Rusdi tidak percaya covid19 ada, hanya rekayasa. Hasil test ini keliru! Mungkin saja tertukar dengan pasien lain. Kepala Rusdi dipenuhi aneka argumentasi menolak hasil test yang menyatakan dirinya terjangkit covid19.

Detik berikutnya hatinya dipenuhi seribu kekhawatiran baru: bagaimana caranya memberitahu pengrajin Suku Badui yang sudah kujanjikan akan kutemui besok? Bagaimana caranya mengabarkan pada teman dan kerabat? Bagaimana caranya melanjutkan hidup? Bagaimana caranya menghadapi virus yang belum ada obatnya ini? Aneka disclosure kekhawatiran dalam bentuk pertanyaan yang dimulai dengan ‘bagaimana caranya’. Selama ini Rusdi yang paling sering menyebarkan provokasi di medsos tentang teori konspirasi covid19. Lalu sekarang Rusdi tertular covid19, apa kata dunia?

Apa yang harus dilakukan selanjutnya? Pertanyaan yang memukul kesadarannya. Rusdi belum sempat berjibaku mencari jawabannya, suara lembut di telinga menyadarkannya.

“Rusdi Kusnadi? Apakah kamu alumni SMA tujuh-lima?” tanya seraut wajah dokter bermata bening seraya memandangnya takjub, seakan menemukan heritage artefak purbakala.

“Rasti! Kamu dokter di rumah sakit ini?” 

Tanpa menjawab pertanyaan sang dokter, Rusdi balik bertanya. Mana mungkin Rusdi tidak mengenali mata indah dan alunan lembut suara gadis yang pernah menjadi kekasihnya di bangku SMA, meskipun saat ini sebagian wajahnya tertutup masker dan mengenakan APD layaknya astronot. Rusdi tidak mengira akan bertemu Rasti di situasi gundah saat ini. 

Terlambat untuk menghindar. Rasti sudah membaca hasil test swab PCR, karena Rasti adalah dokter spesialis paru yang menangani penyakitnya.

“Apakah kamu sudah mengabari keluargamu? Dukungan keluarga sangat penting.” ucap dokter Rasti bagai hujan sehari yang menghapus kemarau setahun, tampak jelas kini apa yang seharusnya Rusdi lakukan selanjutnya.

Namun, Rusdi tidak dapat mengikuti saran sederhana tersebut, meskipun saran tersebut sungguh tepat. Rusdi ingat betul bagaimana kondisi ibunya pasca pengobatan sakit berat yang diderita beliau. Begitu pun Raisa, adiknya yang belum lama berbaikan dengan ibu tanpa Rusdi pahami penyebab perang dingin di antara kedua cahaya matanya.

“Bantu aku, Rasti. Aku tidak ingin ada orang lain yang mengetahui bahwa aku tertular covid19. Aku tidak bisa membiarkan keluargaku tahu bahwa aku terjangkit covid19. Bagaimana kondisiku?” tanya Rusdi was-was.

"Kamu OTG, Orang Tanpa Gejala. Namun, dari hasil swab PCR kondsimu sangat menularkan. Lakukan isolasi mandiri dan benar-benar hindari bertemu orang lain." sahut dokter Rasti menjelaskan.

***

Rusdi seorang penggiat budaya, khususnya Badui Luar atau urang penamping yang berpenduduk ribuan jiwa tersebar pada puluhan kampung di bagian utara Kanekes yaitu antara lain daerah Kaduketuk, Cikaju, Gajeboh, Kadukolot, dan Cisagu di Provinsi Banten. Secara penampilan Badui Luar mengenakan pakaian hitam dan ikat kepala warna biru.  Setiap bulan Rusdi mengunjungi Suku Badui Luar dan membantu mengembangkan karya seni budaya berupa kain tenun dan aneka kerajinan yang khas.

Rusdi merahasiakan penyakitnya, selain karena selama ini Rusdi tidak percaya pandemi covid19 nyata adanya, paling penting Rusdi tidak ingin usaha yang dibangunnya bersama teman-temannya dan Suku Badui Luar terkendala covid19.

Kendatipun Rusdi mulai mengalami anosmia, indra penciumannya mulai tidak berfungsi dan lidahnya tidak dapat mengecap rasa, Rusdi bersikap seakan semua baik-baik saja. Covid19 tidak ada, covid19 hanya rekayasa dan semua baik-baik saja, demikianlah Rusdi mendengungkan dalam pikirannya. Beruntung Rusdi tidak mengalami demam tinggi sehingga tidak lah sulit berpura-pura lupa bahwa dia terjangkit covid19. Lagi pula selain Rasti, hanya dirinya dan Tuhan saja yang tahu tentang penyakitnya.

Pagi ini Rusdi bersama lima orang temannya yang ikut berinvestasi mengembangkan dan memasarkan kain tenun Suku Badui, berangkat menuju Kadukolot, perkampungan Badui Luar. Setibanya di Kadukolot, mereka disambut para pengrajin Badui Luar dan langsung menuju lokasi yang biasanya dijadikan tempat melakukan pertemuan. 

Demikianlah selama tujuh hari berturut-turut, Rusdi dan kelima orang temannya melakukan kunjungan ke beberapa kampung Badui Luar  mengumpulkan dan membeli hasil kerajinan tangan sesuai permintaan pasar. Pada hari kedelapan, satu per satu dari lima teman Rusdi mulai mengalami gejala mirip covid19. Begitupun penduduk kampung Badui Luar yang mereka kunjungi, mulailah berjatuhan korban jiwa terinfeksi covid19 bahkan kini perkampungan Badui Luar diberitakan menjadi kluster baru penyebaran covid19.

Hari ini medsos geger dengan beredarnya berita viral.

Berita Duka Cita:

Telah berpulang ke rahmatullah ibunda Rusdi Kusnadi, karena covid19. Semoga almarhumah husnul khatimah.

Semua berawal dari seorang Rusdi Kusnadi yang tidak percaya pandemi covid19 itu nyata, menolak vaksinasi dan mengabaikan protokol kesehatan. Tuhan pun menunjukkan KuasaNya dengan cara yang tak terduga oleh Rusdi.

August 27, 2021

Pelangi Kasih Sahabat Sejati

Brakkk!!

Pintu kamar berhasil dibuka dan kuncinya terlepas, rusak. Ninda dan Leon menghambur masuk. Tampak Andini tergeletak di lantai, mulutnya berbusa, botol pil tidur yang terbuka tak jauh dari tubuh Andini. Leon membopong tubuh Andini dan segera melarikannya ke rumah sakit terdekat. Ninda mengekor di belakang dengan berurai air mata meneriakkan nama Andini dan mengulang kalimat yang sama.

“Jangan tinggalkan aku, Andin.”

Leon memarkirkan mobil dengan tergesa, kemudian bergegas menyusul Ninda dan perawat yang membawa Andini di atas ranjang dorong.

Andini mendapat pertolongan pertama setibanya di ruang IGD. Petugas medis memompa isi perutnya untuk mengeluarkan zat-zat berbahaya dari pil tidur yang diminum melebihi dosis seharusnya.

Leon dan Ninda menunggu di luar ruangan dengan gundah. Leon masih sangat terkejut, bibirnya tak henti merapal doa bagi keselamatan Andini, adik semata wayangnya.

Ninda masih terisak lirih, beragam ingatannya bersama Andini berkelebat.

***

Andini dan Ninda sahabat karib sejak di bangku kuliah. Seperti panci ketemu tutup, klop, label yang disematkan teman-teman di kampus. Padahal keduanya sungguh bertolak belakang, dari pembawaan, kebiasaan dan tutur kata. Ninda periang, kenes dan cerdas. Siapa pun yang berada di dekatnya setidaknya ikut tersenyum mendengar canda riangnya, tertular aura keceriaan dalam diri Ninda. Andini sebaliknya pendiam, tidak banyak bicara. Ibarat gong yang baru berbunyi jika dipukul, begitu pun Andini yang baru bicara ketika ditanya.

Ninda lah orang pertama yang berhasil menembus benteng petahanan Andini, membuatnya melihat bias warna indah pelangi dan tertawa kembali. Trauma masa kecilnya, kehilangan ibu yang tewas bunuh diri dan mendapatkan pengganti ibu sekaligus kakak tiri, Leon, dalam selang waktu yang beruntun, sulit diterima Andini kecil. Sejak itu Andini menutup diri dan hidup dalam dunianya sendiri. Sampai Ninda hadir dalam jalinan persahabatan yang manis mengisi kehidupannya.

Prahara dalam persahabatan mereka mulai mencuat ketika Leon, kakak tiri Andini, mulai menjalin kasih dengan Ninda. Sikap Andini kembali dingin, menjauh, menghindari Ninda. Akhirnya Ninda menemukan jawabannya.

“Aku mencintai Leon, sejak lama. Aku selalu merasakan kecemburuan membuncah setiap ada gadis yang berusaha mendekati Leon. Tidak terkecuali dirimu, Ninda.”

Lidah Ninda menjadi kelu, untuk pertama kalinya. Bagai memakan buah simalakama, dimakan ibu tewas dan tidak dimakan ayah mangkat.

“Andini tidak mau makan, sejak kemarin mengurung diri di kamar. Segeralah kemari, Ninda” ujar Leon dengan nada khawatir terdengar jelas ketika Leon menelponnya hari ini.

Ninda sungguh tak percaya, Andini nekat berusaha mengakhiri hidupnya seperti ini.

***

“Masa kritisnya sudah lewat, sekarang sudah bisa ditemui.” ucap dokter, memutus lamunan Ninda. Leon dan Ninda bernapas lega. Keduanya melangkah masuk ruang perawatan Andini.

“Mama dan papa dalam perjalanan kembali ke Jakarta.” ucap Leon menggenggam tangan Andini dan mengecup jemari adiknya.

Tatapan nanar Andini bertemu dengan Ninda yang perlahan menghampirinya. Leon meninggalkan kedua sahabat itu, memberi ruang untuk keduanya bicara.

“Aku senang kamu masih di sini. Aku sungguh takut kehilanganmu, Andin.”

“Tidak ada yang lebih penting dari persahabatan kita, tidak juga cinta Leon.” ujar Ninda yang sudah menetapkan keputusan hatinya.

Andini menggelengkan kepala, matanya berkaca-kaca. Sebuah kesadaran muncul dalam untaian tulusnya jalinan persahabatan Ninda dan betapa bodoh dirinya, tidak dapat menerima kenyataan; Leon mencintai Ninda.

“Leon hanya melihatku sebagai adiknya, binar matanya hanya tertuju padamu, Ninda.”

Ninda merangkul sahabatnya yang terkasih, air mata yang sempat mengering perlahan luruh lagi.

Sungguh Andini merindukan dekapan lembut ini. Sulit sekali menjauh dari Ninda, kehilangan canda tawanya membuat dunia Andini kembali muram. Tidak ada yang lebih penting, tidak juga cinta Leon.

Keduanya saling menatap dalam gerimis air mata, pelangi kasih sahabat sejati muncul dengan indahnya.


Inspirasi: Satu kalimat dialog dalam The Devil Judge Episode 9




August 12, 2021

Cerpen 100 kata: Sepuluh Bait Gurindam Berkait




Apabila engkau tak lelap tidur malam

Maka pergilah ke kolam, lalu menyelam


Menyelamlah engkau di kedalaman kolam

Demi mendapat ilham menulis gurindam


Ketika menulis gurindam seratus kata

Sesuaikan tema yang ditentukan panitia


Panitia tentukan tema sepuluh hari 

Menjaga warisan bangsa tetap lestari 


Jagalah warisan bangsa agar lestari

Ajarkan pada setiap anak negeri


Anak negeri layak percaya diri

Karya adiluhung termasyur di luar negeri


Orang asing cintai karya adiluhung bangsa 

Hingga diakui sebagai milik moyangnya


Apakah engkau diam tak perduli

Kehilangan warisan ibu pertiwi


Akankah engkau pastikan di masa mendatang

Adiluhung bangsa tetap gemilang


Parkiran mana parkiran

Sampai jumpa tahun depan!


***

Gurindam ini dibuat dalam rangka mengikuti Lomba Menulis 100 Kata. Panitia memberikan tema berbeda setiap hari selama 10 hari yaitu: Batik, Candi, Hutan, Penari, Telaga, Gamelan, Wayang, Gunung, Silat dan Gurindam. Setiap hari diberikan parkiran untuk meletakkan link dari tulisan. Lomba diadakan rutin setiap tahun.

Gurindam ada dua jenis: 

1. Gurindam Berangkai yaitu bentuk gurindam yang ditandai dengan kata yang sama pada setiap barisnya

2. Gurindam Berkait yaitu gurindam yang ditandai dengan adanya keterkaitan antara bait pertama dengan bait-bait seterusnya.

Cerpen 100 kata: Pendekar Silat Cimande



“Kuasai dahulu Silat Cimande dan olah tenaga dalam, sebelum menyebrang ke Pulau Jawa.” titah kakek tak terbantahkan.

Setiap malam kakek melatihku Jurus Kelid Cimande¹ dan Jurus Pepedangan Cimande², lalu latihan pernapasan dan olah tenaga dalam serta ditutup dengan wejangan dari kakek. Untuk menyempurnakan tenaga dalam, aku mesti berpuasa, sholat malam, dan berzikir.

“Pendekar Silat Cimande, ayo tangkap aku!” teriak adikku sembari melompat ke pohon belimbing. Aku mengejarnya ke pohon belimbing tapi malang tak bisa ditolak untung tak bisa diraih, aku menginjak dahan rapuh dan terjatuh. Kakiku terkilir sehingga harus menggunakan kruk untuk berjalan.

Pendekar Silat Cimande berkaki kayu, julukanku kini.


***

1. Jurus Kelid Cimande bertujuan menangkis serangan lawan dan merobohkannya. Jurus ini terdiri dari 33 jurus.

2. Jurus Pepedangan Cimande bertumpu pada kesigapan kaki dan teknik serangan senjata golok.

Cerpen 100 kata: Gunung Agung

 


Gunung Agung di Bali merupakan wilayah yang sakral. Pendaki bisa mencapai puncak melalui dua jalur yaitu Pura Agung Besakih dan Pura Pasar Agung. Peraturan adat, pendaki dilarang membawa panganan dari daging sapi, memakai baju merah, membawa makanan dalam jumlah ganjil, dan wanita yang sedang menstruasi dilarang ikut mendaki.

Komang mengantar para pendaki dari Jakarta yang mendaki Gunung Agung. Separuh perjalanan menuju puncak, cuaca cerah berubah drastis berkabut tebal dan angin kencang menghalangi pendaki untuk naik lebih tinggi. 

“Sebaiknya kita segera turun, apakah ada yang melanggar larangan?” Semua terdiam, saling pandang.

Andine meraba kemasan paket HokBen di ranselnya, ada beef yakiniku.

Cerpen 100 kata: Wayang Sapuh Leger


Wayang Sapuh Leger¹ dalam Upacara Bebayuhan Weton Sepuh Leger² dipentaskan oleh dalang Mpu Leger. Lakon yang dibawakan mengacu pada Lontar Sapuh Leger yang berkisar pada perjalanan Batara Kala mengejar Rare Kumara untuk dibunuh. Keduanya memiliki hari lahir yang sama, yaitu pada tumpek wayang³. 

“Kita mesti mengadakan Upacara Bebayuhan Weton Sapuh Leger putra kita yang lahir pada tumpek wayang demi keselamatan hidupnya kelak. Biayanya tidak sedikit.” ujar Ida Ayu.

“Semua ada solusinya.” tukas Dewa.

Ketika putranya berusia tujuh tahun, Dewa menggelar pertunjukan Wayang Sapuh Leger pada Upacara Bebayuhan Weton Sapuh Leger. Biayanya dari pencairan polis PruCerah yang dipersiapkannya sejak putranya lahir.


***

1. Wayang Sapuh Leger merupakan pertunjukan wayang kulit yang bertujuan untuk pembersihan atau penyucian diri anak yang lahir pada tumpek wayang.

2.  Upacara Bebayuhan Weton Sapuh Leger adalah upacara ruwatan untuk anak yang lahir pada tumpek wayang agar terhindar dari malapetaka. Upacara tersebut dilakukan ketika anak minimal sudah berusia tujuh tahun.

3. Tumpek wayang adalah hari raya yang dilaksanakan umat Hindu di Bali.

Cerpen 100 kata: Gamelan Gambang



Ketut menabuh Gamelan Gambang mengiringi Badé yang diangkat beramai-ramai menuju tempat pembakaran jenazah. Setelah jasad diaben, sisa abu dari pembakaran dimasukkan ke dalam buah kelapa gading untuk dilarung ke laut. 

Gamelan Gambang sudah ditekuninya sejak kecil mengikuti jejak orang tuanya menabuh Gamelan Gambang pada upacara Ngaben keluarga kaya di desanya. 

“Apakah aku bisa menggelar upacara Ngaben yang layak untuk orang tuaku kelak? Aku ingin menabuh Gamelan Gambang mengiringi Badé orang tuaku.” ucapnya.

“Tentu saja bisa.” sahut Dewa.

Ketut menabuh Gamelan Gambang pada upacara Ngaben paling megah mengiringi Badé untuk bapaknya dengan dana satu milyar dari klaim asuransi yang diurus Dewa.


***

Gamelan Gambang tergolong Gamelan Wayah, yaitu jenis Gamelan Bali yang paling tua dipergunakan sebagai pengiring prosesi Ngaben.

Badé adalah menara mirip pagoda dengan jumlah ganjil untuk mengusung jenazah yang akan diaben.

Cerpen 100 kata: Telaga Wopersnondi








Telaga Wopersnondi di Biak, Papua, memiliki air berwarna biru jernih memperlihatkan dahan dan ranting pepohonan di dasarnya. Telaga Wopersnondi terletak di tengah hutan dikelilingi pepohonan yang rimbun. Keberadaannya dekat Pantai Samares sehingga dikenal wisatawan dengan nama Telaga Biru Samares.

Vandam berdiri di tepi Telaga Wopersnondi, seraut wajah jelita dari pulau seberang melintas dalam ingatannya. Berhasilkah dia menemukan tempat ini, seperti janjinya?

Sekonyong-konyong ada yang mendorongnya jatuh ke telaga. Afrail dan Liben menyusul melompat ke telaga, menyelam menjauh dari kejaran Vandam.

“Jadi nama wopersnondi berasal dari kebiasaan kalian melompat ke telaga?” ucap gadis impian Vandam yang berhasil menemuinya di Telaga Wopersnondi.


***

Note: Wopersnondi berasal dari bahasa Biak, merupakan gabungan dari kata ‘Woper’ yang artinya melompat, dan ‘Snon’ yang artinya pria. Jadi wopersnondi memiliki arti pria yang melompat. Konon nama tersebut dilatar-belakangi oleh banyak pria dari desa setempat yang sering melompat untuk mandi di telaga ini.

Cerpen 100 kata: Penari Kehidupan


Marc Daniels seorang pengacara yang mempunyai tiga orang putri berusia empat tahun, tiga tahun, dan enam bulan. Profesi pengacara sangat menyita waktu. Namun, sebagai orang tua tunggal Daniels memprioritaskan waktunya mengurus ketiga putrinya.

Putri sulung dan putri keduanya akan mengikuti pementasan balet di sekolahnya, keduanya sangat antusias menari balet. Tentu saja Daniels akan meluangkan waktu hadir menyaksikan balerina ciliknya di atas panggung.

Daniels duduk di antara para orang tua siswa, putri bungsu dipangkunya. Tanpa pikir panjang Daniels naik ke panggung ikut menari ketika terdengar teriakan histeris putri keduanya yang mengalami demam panggung. 

Setiap orang adalah penari kehidupan dalam sendratari hidupnya.

Cerpen 100 kata: Hutan Bunuh Diri

Akira menggengdong ibunya memasuki hutan bunuh diri di kaki Gunung Fuji yang menjadi tempat untuk mengakhiri hidup. Hutan sangat rimbun, penuh pepohonan dan cahaya hampir tidak bisa masuk. Beratnya kehidupan membuat Akira tidak sanggup lagi menghidupi ibunya yang lumpuh sehingga berniat meninggalkannya di hutan bunuh diri. 

“Nak, ikutilah tali pengikat potongan kain yang ibu jatuhkan sepanjang perjalanan masuk hutan supaya kau bisa menemukan jalan keluar dari hutan.” Sang ibu tersenyum muram.

Akira berhasil keluar dari hutan bunuh diri. Namun, kesadaran baru membuat langkahnya terhenti. Seketika Akira kembali masuk hutan menjemput ibu yang ingin dibunuhnya tapi justru menjaga dan memikirkan keselamatannya.