April 7, 2021

Sebuah Opini tentang Novel Noda dalam Pesantren karya Wafa Farha


Seorang teman penulis di Wattpad yang rajin menayangkan tulisan dan peringkat tulisannya di akun facebooknya dan saya pun sering membaca tanpa berkomentar. Suatu ketika saya melihat di bagian paling bawah foto peringkat tersebut ada potret novel Noda karya Wafa Farha, menariknya ada tertulis 21+ dan saya langsung menghitung umur saya sepertinya sudah melewati 21 tahun haha. Saya cari di google dan menemukan tautan cerita tersebut, utuh. Setelah saya membaca beberapa bab, dikunci dan tidak bisa melanjutkan membaca kecuali saya membuat akun di Wattpad. Baiklah, saya pun membuat akun dan menginstal aplikasi wattpad.

Novel Noda dalam Pesantren bercerita tentang seorang anak kiai pemilik pesantren yang mendewakan keperawanan calon istrinya. Ide klasik dan terasa sangat konservatif di era internet global saat ini. Namun penulis berhasil mengemas tulisan dan membuat alur cerita mengalir wajar dan realistis sehingga saya pun lanjut membaca sampai selesai tanpa merasa bosan sama sekali meskipun ide ceritanya klasik, ada beberapa hal menarik sehingga saya membacanya sampai selesai.

Seorang pria, yang digambarkan nyaris sempurna secara fisik dan perilaku, anak pemuka agama terkemuka. Jika dihitung bibit, bebet dan bobot tentu pria ini menjadi menantu idaman para ibu muslimah yang mempunyai anak perempuan. Tak ada gading yang tak retak, juga tidak ada manusia yang sempurna, pria yang mengaku sangat mencintai calon istrinya ini ternyata tidak bisa menerima musibah pemerkosaan yang terjadi pada calon istrinya. Apakah bisa disebut cinta? Cinta yang seperti apa?

Hal-hal menarik apa saja kah yang membuat saya membaca novel ini sampai selesai bahkan mencari dan membeli e-book Novel Noda 2, cerita lanjutannya?

Alur cerita dan gaya bertutur penulis yang menarik, mengalir wajar dan realistis. Benang merah cerita muncul dengan sangat mulus tanpa kesan dipaksakan. Identitas pemerkosa calon mempelai wanita yang merupakan mantan pacar, sakit hati diputuskan dan ternyata saudara sepupu mempelai pria. Potensi konflik dimunculkan dengan sangat wajar dan realistis.

Namun demikian ada pula guratan yang memperlihatkan karakter penulis yang menarik garis tegas antara hitam dan putih. Padahal sesungguhnya dalam kehidupan ini ada juga grey area, wilayah abu-abu. Misalnya ketika musibah pemerkosaan pada calon pengantin wanita sebelum hari pernikahan, respon calon mempelai wanita dan keluarganya hanya dimunculkan dua opsi: antara berkata jujur lalu pernikahan batal ataukah berbohong menutupi fakta, dan pernikahan dilanjutkan. Tidak ada celah untuk opsi ketiga yaitu berkata jujur dan pernikahan tetap berlangsung.

Latar cerita kehidupan islami pesantren, interaksi yang mengikuti syariat Islam dalam segala aspek kehidupan para tokoh cerita berhasil disajikan penulis dengan sangat baik tanpa menciptakan rasa antipati. Informasi syariat Islam disampaikan dengan baik melalui dialog tokoh-tokoh ceritanya.

Menurut pendapat saya, sebuah cerita saya anggap menarik ketika saya membacanya tanpa jeda sampai selesai, tidak ada rasa bosan yang membuat saya berhenti membaca sebelum cerita tuntas. Nah, novel Noda dalam Pesantren karya Wafa Farha adalah sebuah cerita yang menarik. Tidak percaya? Silahkan buktikan sendiri.


December 23, 2013

Case Premi Tahunan Saya yang Pertama



Saya sudah di akhir tahun ketiga bergabung di bisnis Prudential, tanpa prestasi yang berarti, hanya income yang jauh lebih baik daripada posisi R & D Manager di pabrik kimia yang sudah saya tinggalkan sejak bergabung dengan Prudential.  Saya sudah mengikuti semua pelatihan dan pendidikan di Prudential Sales Academy dan mengaplikasikan semaksimal mungkin semua yang saya pelajari, mulai dari pelatihan Rising Star (sekarang menjadi Success Track) untuk agen yang baru lulus tes AAJI, pelatihan AWS (Agency Workshop Series) yang sangat komplit untuk mempersiapkan skill, product knowledge dan attitude agen, pelatihan BSC (Basic Sales Course) untuk membantu agen memahami siklus penjualan dan mengaplikasikannya sampai terbentuk habit (kebiasaan), pelatihan PFA (Prudential Financial Advisor) untuk membantu agen meningkatkan skill dalam membantu nasabah berdasarkan kebutuhan nasabah sehingga agen bekerja sebagai penasehat keuangan nasabah dan akhirnya saya juga memutuskan ikut program RFP (Register Financial Planner) untuk membantu agen mendapatkan gelar profesi sebagai perencana keuangan dan bergabung dalam asosiasi perencana keuangan FPAI (Financial Planner Association Indonesia).  Attitude, Skill dan product knowledge saya sebagai seorang agen sudah lebih dari cukup untuk bisa membantu sebanyak mungkin keluarga dalam membuat perencanaan keuangan keluarga. Tapi saya merasa there is something missing inside myself, sampai saya mendengarkan sharing tentang MDRT (Million Dollar Round Table) di M3 (Monday Morning Meeting) oleh dua orang pembicara yang paling berkesan dan menggerakkan saya untuk mencari tahu lebih dalam lagi tentang MDRT. Dua pembicara tersebut adalah Sumiyarti dan Mariana Sofia yang membawa langkah saya hadir di acara GMM (Grand MDRT Mentoring) dan kelas MDRT Mentoring ibu Jeannette Sulindro.
Kelas MDRT mentoring nya ibu Jeannette Sulindro membantu saya menemukan something missing inside myself, saya belajar tentang LETPRO (Listening with emotion, Perception evaluation, Thinking with question, Observation for feedback, Experience through application, Repetition for mastery). Tiga jam sebelum saya memenuhi janji temu saya dengan prospek lama saya yang sudah saya kenal selama empat tahun, saya bicara satu jam via telpon dengan ibu Jeannette Sulindro dan diskusi via Whatsapp dengan ibu Sumiyarti.  Sebelumnya saya berhasil jadikan beliau client saya untuk polis dua orang anaknya yang ketiga dan keempat.  Tapi saya ingin membantu keluarga ini lebih baik lagi dengan mempersiapkan Family Protection-nya.  Mengingat mobilitas prospek yang sangat tinggi, tidak mudah saya mendapatkan janji temu ini, maka saya ingin mempersiapkan diri saya semaksimal mungkin.  Ibu Sumiyarti menyadarkan saya untuk fokus pada kebutuhan nasabah dan ibu Jeannette Sulindro menyadarkan saya untuk lebih Listening with emotion.  Ternyata dua hal penting ini yang menjadi faktor penentu keberhasilan saya mendapat persetujuan prospek untuk membuat family protection dengan premi tahunan.
Pertemuan saya awali dengan obrolan ringan dan ucapan selamat anniversary pernikahan ke-26 yang baru dirayakan prospek beberapa hari lalu, akhirnya saya mendapat kesempatan untuk persentasi safety net.  Tapi baru dua garis tergores di atas kertas, pena saya berhenti di udara ketika prospek mengatakan: 

“Bu Anita, Saya sudah sering dengar ini semua, sudah banyak agen yang datangi saya tapi mohon maaf Bu, saya tidak butuh asuransi, saya percaya dengan Tuhan saja”.  

Saya terkesima seperpecahan detik, lalu meletakkan pena saya dan tersenyum seraya berkata: 

“Tentu pak, Saya pun percaya dengan Tuhan…” 

lalu saya memutuskan untuk listening with emotion dan melanjutkan obrolan.  Sungguh ini pertama kali saya lakukan dan agak sulit pada awalnya, namun saya serius menanggapi cerita beliau tentang perjuangan hidupnya, prinsip-prinsip hidupnya dan hal-hal yang sudah beliau siapkan untuk keluarganya.  Satu setengah jam berlalu, keheningan menyergap ketika beliau berhenti cerita dan saya bertahan untuk tidak mengucapkan apa-apa hanya ekspresi penuh minat menantikan cerita berikutnya namun yang terjadi selanjutnya justru di luar dugaan saya, akhirnya beliau melemparkan pernyataan yang mencengangkan saya: 

“Oiya, tadi Ibu Anita mau cerita apa itu garis-garis, tolong Ibu dilanjutkan”.  

Saya pun tidak ingin kehilangan kesempatan ini, saya selesaikan persentasi saya, lengkap dengan perhitungan detail kebutuhan family protection dan apa yang sebaiknya beliau lakukan sejak lama untuk keluarganya, efek penundaannya selama empat tahun ini dan akhirnya saya ajukan rencana solusi untuk mengejar waktu yang terbuang.  Beliau menghujani saya dengan aneka pertanyaan yang jawabannya justru melengkapkan dan menyempurnakan penjelasan saya tentang rencana family protectionnya.  Pertemuan K1 (Kunjungan pertama) ini saya tutup dengan janji untuk membuatkan proposal dan minta konfirmasi janji temu K2 (Kunjungan kedua) keesokan harinya pada jam yang sama, mengingat malamnya beliau harus terbang ke Bali.
Pertemuan K2 keesokan harinya, saya langsung straight to the point menjelaskan proposal yang saya sudah persiapkan, termasuk proposal rate up premi, substandard L14 terkait pekerjaannya.  Respond-nya: 

“Baiklah premi sekian mah tidak ada masalah tapi saya akan pikir-pikir dulu ya Bu, apa ibu bisa tinggalkan proposalnya untuk saya pelajari? Ini kan mau natal, mungkin sekitar Januari tahun depan ya Bu”.  

Saya merasa melewatkan sesuatu, ada yang harus saya lakukan dan katakan untuk membantunya membuat keputusan saat ini juga. I said myself: “Anita, can you see the momentum, just use it!”
Saya tersenyum dan menganggukkan kepala: 

“Tentu saja, Pak. Tapi andai nanti malam Bapak terbang ke Bali, maaf kata Bapak tidak bisa kembali ke rumah ini lagi, apakah Bapak ingin saya datang ke sini membawa cheque sejumlah 1,25 Milyar ini untuk keluarga Bapak? Untuk Jay dan Ivy kuliah sampai jadi sarjana?”. 

Hening.  Sampai saya melihat anggukan kecil beliau, baru saya lanjutkan bicara: 

“Kalau saya boleh tahu bagian mana yang Bapak ingin pelajari, mari saya bantu jelaskan dengan lebih teliti karena saya tahu bapak sibuk sekali, bukan?”.  

Saya jelaskan ulang manfaatnya dan mengapa harus sejumlah itu, saya tutup dengan pernyataan dan pertanyaan: 

”Untuk mendapat semua manfaat ini, premi perbulan sekian, Bapak bisa bayar tahunan kalau tidak mau repot.  Andai nanti tahun depan saat harus bayar premi setahun lagi just in case kebetulan bersamaan ada keperluan penting lain, kita bisa ubah jadi bulanan biar lebih ringan.  Jadi fleksibel saja, Bapak mau ringan atau pun tidak mau repot kita bisa ubah setiap saat.  Apa ada hal lain yang Bapak masih ingin pelajari dan ketahui lebih detail? Mari, saya bantu jelaskan”.   

Beliau tersenyum dan menggelengkan kepala, langsung saya sodorkan pena, 

“Kalau begitu Bapak setuju dengan manfaat dan preminya, silahkan pak, tanda tangan nya di sini, semua halaman ya, Pak.  Sementara saya melengkapi data diri Bapak di SPAJ”.  

Serta merta saya keluarkan SPAJ (Surat Pengajuan Asuransi Jiwa) dan mulai mengisi sesuai kartu identitasnya dgn sesekali melemparkan pertanyaan-pertanyaan dalam SPAJ, meminta beliau mengisi form kuisioner angkatan bersenjata, form SKPR tipe B (Surat Kuasa Pendebetan Rekening tipe B, untuk rekening Bank Mandiri nya) dan menunjukkan tempat tanda tangannya.  Setelah semua dokumen diisi komplit dan ditanda-tangani, Beliau permisi mau ke lantai atas rumahnya, saya mengucapkan selamat atas keputusan terbaiknya untuk keluarga tercintanya dan beliau berkata: 

“Terima kasih Bu Anita, uangnya minta dengan istri saya ya”
Saya pun menginformasikan kepada istri beliau jumlah premi nya kalau bulanan sekian dan tahunan sekian.  Istrinya berkata: 
“Bapak maunya tahunan saja, mbak Anita dan sekalian top up di polis anak-anak, masing-masing 15 juta, jadi total 30 juta untuk top up polis Jay dan Ivy.  Saya mau jemput anak-anak sekalian mampir ke ATM yuks, mbak Anita mohon tunggu sebentar saya ambil tas ya”.
“Baiklahh….” Yay! Ini case perdana saya yang bayarnya tahunan!!

February 15, 2011

Merentas Bunga Rindu di Sandaran Bintang, Buku Kumpulan Puisi Kwek Li Na


Saya sengaja melangkahkan kaki menuju Toko Gramedia terdekat, langsung bertanya pada penjaga toko apakah masih ada stok buku kumpulan puisi Bunga Rindu di Sandaran Bintang. Lalu buku ini pun segera berada dalam genggaman Saya. 

Buku bersampul merah oranye yang kental dengan nuansa oriental nan manis ini pun tak sabar Saya buka, sembari melangkahkan kaki menuju margocity mall tak jauh dari toko buku. Di sebuah bangku, dengan hingar-bingar keramaian mall, saya lahap habis puisi-puisi karya Kwek Li Na. 

Saya bukan lah pengamat sastra apalagi puisi, Saya hanya gemar membaca puisi-puisi dan menikmati keindahan untaian kata, jalinan cerita dan bagian yang paling Saya suka adalah merentas guratan maknanya, mencoba memahami aliran pikir sang penulis. 

Jika Saya analogikan puisi itu sebagai santapan, setelah menyantap habis Saya bisa ceritakan pada teman-teman apa rasanya, aromanya, apakah Saya menyukai santapan itu sehingga ingin menyantapnya lagi lain kali atau bahkan merekomendasikan pada teman-teman Saya agar mencoba menikmati santapan serupa. 

Sebagai penikmat puisi pun demikian, setiap habis membaca sebuah puisi, saya mencoba mengenali riak emosi dalam diri saya. Itulah yang saya lakukan terhadap 107 puisi Kwek Li Na dalam buku ini. Jadi saya sekedar menyampaikan riak emosi dalam diri saya semata, sama sekali tidak mengkritik loh Kwek Li na karena saya juga bukan kritikus kok :-) 

Secara keseluruhan tema puisi-puisi di buku ini sangat manusiawi dan tentu sudah biasa kita temui dalam kehidupan sehari-hari: cinta, rindu, persahabatan, luka dan perpisahan. Warna-warni kehidupan dalam sudut pikir Kwek Li Na tentunya. Tema universal yang tak lekang ditempa waktu dan selalu asik untuk diperbincangkan. 

Cara Kwek Li Na menyampaikannya sangat lah lugas, sederhana dan mudah dipahami. Sama sekali tanpa permainan metapora yang berlebihan. Biasanya saya selalu berusaha memahami makna judul terlebih dahulu untuk bisa memahami maksud sebuah puisi. Namun itu sama sekali tidak perlu saya lakukan pada puisi-puisi Kwek Li Na. 

Sebagian puisi-puisi dalam buku ini dalam bait-bait yang panjang, sebagaian lagi teramat singkat, satu bait singkat dengan beberapa untaian kalimat saja. Saya kurang menemukan riak emosi yang berarti dalam diri saya ketika membaca puisi-puisi panjang Kwek Li Na, entah lah. Mungkinkah karena lebih mirip prosa pendek ataukah lebih cocok dijadikan cerpen 100 kata saja? 

Saya justru merasakan sentakan emosi pada puisi-puisi singkat Kwek Li Na. Singkat, padat, kandungan emosi nya tertangkap dengan jelas. Sungguh aku suka Kwek Li Na style dalam puisi-puisi singkat ini. 

Baca saja puisi ini: 

Arak Rindu 

Arak rindu 
Dalam cawan kayu 
Di permukaannya wajah mu berenang 
Kupandang dengan pikiran setengah melayang: mabuk rindu ini menyenangkan 

Jiwaku berdendang 
Engkau serasa nyata menatapku penuh sayang 

Atau puisi pendek ini: 

Irama Rindu 

Angin dan daun bambu bersetubuh 
Melantun rindu alam 
Di sunyi musim bunga 

Saya suka sekali puisi Kwek Li Na yang satu ini: 

Tak Berjejak 

Malam menggandeng rindu 
Menelusuri mimpi 
Bayanganmu tak berjejak 

Baiklah, teman-teman. Saya sarankan, pergilah ke toko buku terdekat untuk mendapatkan buku Bunga Rindu di Seberang Bintang. Segera baca satu per satu puisi di dalam nya. Lalu katakan pada saya, adakah teman-teman setuju dengan apa yang saya rasakan terhadap puisi-puisi Kwek Li Na dalam buku ini?

January 26, 2011

My Birthday Prayer

I stop my breath world little while, my swishing thought
Absorb quiet night and watch the star in the west sky
37 times sun revolution had delivered my step
13.505 nights had accompany my slept
continue climbing towards me at this time

I watched the star and listen my prayer

Dear God,
Create me become Anita Lindawaty
Who reached the real win in my life
Who grow up bigger than my body jail
Who has heart more thoughful than my body wrapped
Who has lofty thought bigger than a handful of my brain
Who has glorious more than me whom watching the star now

Amen!
P.S: Actually God, I just need a piece of chocolate from someone who really love me and walk together with me until next 40 or 50 years....


Jakarta, January 26th, 2011

January 17, 2011

Rain

after hundred drizzle be realized as a rain
your smiling face in every my laboratory glassware
can't stop the rain in my heart,
it's broken become a hundred drizzle over and over again

wind blows drizzle to my window
i hold your warm friendship in my mind
trying to handle my cold morning


Jakarta, January 17th, 2011
inspired by my friend dreampipe

August 18, 2010

Cerpen 100 Kata: Nomor Telpon

Kalau kamu terus-terusan ganti nomer telpon, maka akan tercipta image buruk tentang dirimu, kamu dianggap 'bermasalah' sehingga harus ganti nomer melulu. Seperti halnya sering gonta-ganti pacar, akan menimbulkan tanda tanya besar seputar tanggung jawab dan kesetiaan.

Ada baiknya kamu pilih satu nomer, lalu jaga baik-baik jangan biarkan hilang atau hangus. Pertanda bahwa kamu sudah bisa bertanggung jawab menjaga sesuatu.

Aku tunggu hari itu tiba, hari dimana kamu telah memilih satu nomer telpon yang kamu berikan padaku.

Rin melipat kertas surat itu perlahan dan menyimpannya bagai benda pusaka. Langit-langit kamar melukiskan sebuah wajah teduh. Saatnya aku memilihmu, bisiknya sesaat sebelum terlelap.

Cerpen 100 kata: Selamat Ultah Yuswan

“Mama, bagi gopek”, bisik putri kecilku, merogoh kantong tasku.
“Aku Ira, namamu siapa? Ultahmu kapan?”
Ira mengangsurkan tangannya kepada bocah ringkih kumuh, ada bekas luka bakar di lengannya.
“Makasih, Yuswan, April mop”
Senyum lebarnya memperlihatkan gigi bak berlian, sungguh kontras dengan tubuhnya.
“Ultahnya kayak Ira”

“Titip buat Ira, Tante”
Bocah itu hampir tiap hari memberikan aneka benda, lalu berlari dengan wajah memerah.
Tentu, benda tersebut berakhir di tong sampah kompleks perumahanku.

“Jambreeetttt…”, teriakku. Kado ultah Ira dijambret!

Kutemukan sosok yang mengejar jambret tadi tergeletak, tubuhnya bersimbah darah! Ada bekas luka bakar di lengannya.

“Selamat Ultah Yuswan, anakku…”, bisikku di telinganya.

Cerpen 100 kata: Dusta

“Setahun ini sebelum aku mengenalmu, ada seseorang yang membuat hatiku tergerak yang aku tidak bisa lepaskan. Maafkan aku tidak bisa melangkah bersamamu.” ucap Rey lugas dengan nada dasar C minor yang paling hambar.

Petir di siang bolong menyambar ganas menghantam tengkorak kepalaku. Badai gurun berhembus kencang memporak-porandakan hidupku. Bumi yang kupijak terbelah menelanku dalam jurang gelap tanpa dasar. Aku ingin kembali ke rahim bunda dan tidak pernah dilahirkan.

“Iya Rey, makasih sudah memberi-tahukan ini. Aku ikut berdoa semoga kamu bisa bahagia bersamanya. Kalo kamu bahagia, insya Allah aku juga ikut bahagia.”

Rey melangkah gontai, mengusap air mata yang perlahan luruh.

Cerpen 100 kata: Kado Ulang Tahun Buat Bamby

Seperti tahun sebelumnya, ketika waktu bergulir dalam diam.
Tidak pernah ada yang mengingat hari kelahiranku atau mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Apalagi untuk memberi setangkai bunga atau sebuah bingkisan. Tidak ada orang tua atau saudara, yang bangga memiliki aku. Juga tidak pernah kutemukan seorang teman yang sungguh-sungguh perduli padaku.
Apakah gerangan makna hari kelahiranku?

Aku bahkan tidak pernah tahu kapan persisnya aku dilahirkan dan untuk apa aku ada di dunia fana ini. Tanpa nama ataupun sebuah karya, aku sungguh bukan lah sesuatu. Kini kunantikan hari untuk menutup mata dan nafasku berhenti… selamanya… tanpa ucapan belasungkawa…

Adakah dunia tahu, aku pernah ada?

August 8, 2010

Catatan Kecil Novel The Twins Exchange-nya Irena Tjiunata



Barusan beres baca novel The Twins Exchange-nya Irena Tjiunata. Hmmm.... entah kapan terakhir kubaca cerita remaja seperti ini yak. Rasanya sudah lama sekali, mungkin sekitar jaman populeritas novel Lupus dan Lima Sekawan-nya Enid Bliton. Setelah masa itu aku merasa cukup gede-an untuk baca novel-novel Mira W, Marga T, Fira Basuki, Maria A sardjono, Sydney Sheldon dan Mario Puzzo hehehe.

Ketika membaca novel Irena, aku sempat membuat catatan kecil di hatiku yang ingin aku share ke teman-teman. Pertama mengenai orisinalitas ide ceritanya, baik secara keseluruhan mau pun beberapa detail adegan dalam cerita novel ini tidaklah terasa asing buatku. Cerita tentang pertukaran dua orang yang mirip pernah kutemukan dalam salah satu cerita sinetron Indonesia, tentu kedua tokoh cerita yg bertukar tempat keduanya perempuan seperti yang Irena tuliskan dalam novelnya. Cerita tentang perempuan yang menyamar jadi laki-laki juga pernah kutemukan di beberapa drama seri korea (what?? drama seri korea? ketauan deh tuh hobi nya nonton drama korea hahaha). Adegan Edith sang tokoh cerita wanita yang menyamar jadi pria (Radith) mirip cerita di Coffee Prince, dimana untuk menyamar jadi pria si tokoh cerita mengikatkan kain di dadanya agar tidak menonjol seperti perempuan pada umumnya. Orisinalitas ide ceritanya sama sekali tidak bisa dibilang baru. Namun Irena cukup etis dengan menyebutkan rujukan novel lain yang punya ide cerita sejenis,The Prince And The Pauper, yang bisa jadi mengilhami lahirnya novel ini.

Kedua mengenai setting ceritanya, ada beberapa bagian yang buram alias gak jelas yang andai Irena buat lebih jelas tentu akan memperkuat cerita. Setting yang aku maksudkan yaitu tempat Edith & Radith bertabrakan untuk pertama kalinya. Irena tidak melukiskan dengan jelas (sebelumnya) dimanakah posisi rumah Edith terhadap dojo tempat Radith biasa berlatih (Dojo Bina Bangsa)? Cukup dekatkah? Mestinya iya, lalu dimanakah gerangan posisi toko es krim Sweet Ice Lover terhadap rumah Edith dan Dojo Bina Bangsa, berada dalam satu kawasan perumahan kah? Andai dilukiskan setting tempat-tempat ini dengan lebih jelas di awal cerita, maka adegan tabrakan antara Edith yang baru lompat pagar berniat kabur dari rumah & Radith yang lari dari dojo tempatnya berlatih akan menjadikan cerita ini lebih kuat & make sense. Buram nya setting tempat ini membuat adegan tabrakan itu terkesan dipermudah bahkan dipaksakan. Lebih disayangkan lagi konflik batin yang cukup berat untuk ukuran remaja belia yang mencoba berontak, kurang maksimal dieksplor oleh Irena. Konstelasi ceritanya juga dibuat ringan-ringan saja, tentu sangat cocok untuk bacaan remaja yang menjadi segmen pasarnya.

Terlepas dari kedua hal di atas, aku juga mencatat mengenai keseluruhan cerita sampai detail ceritanya yang tentu saja no dubt sepenuhnya buah pikir Irena meski ada beberapa kemiripan namun alur cerita mengalir lancar dengan detail cerita yang segar bahkan cenderung kocak. Irena dengan piawai berceloteh tentang piano, judo dan dunia abg yang baru memasuki masa puber. Bisa jadi background Irena sebagai lulusan pascasarjana psikologi anak yang sekarang menggeluti profesi sebagai konsultan psikolog anak berperan kental sekali dalam proses pengemasan detail cerita ini sehingga menjadikannya menarik untuk dibaca.

Pesan moral yang diusung novel ini juga bagus untuk para orangtua dan remaja.

Pesan moral untuk orangtua adalah bahwa setiap anak mempunyai bakat, hobi dan kegemaran nya sendiri-sendiri, tidak perlu memaksakan kehendak bahkan berusaha terlalu keras untuk membentuknya bagaikan membentuk bonsai. Biarkan anak mengembangkan bakat, hobi dan kegemarannya sebatas itu semua positif, baiknya orang tua mendukung penuh. Pada prinsipnya bukankah anak adalah titipan Tuhan, tidak sepenuhnya milik orangtuanya.

Pesan moral untuk remaja tunas bangsa adalah bahwa apa pun yang menjadi hobi, kegemaran dan cita-cita wajib diperjuangkan dengan segenap daya upaya. Yakinlah kesungguhan hati dalam menekuni hobi akan berbuah manis berupa prestasi dan pengertian orangtua. So, just keep figthing aja yak.

Terakhir pesan moral saya buat temen-temen nyang punya putra-putri beranjak remaja, jika mengalami konflik dan masalah serius dalam mengarahkan putra-putrinya dan membutuhkan konsultasi dengan ahlinya, silahkan menghubungi Irena Tjiunata penulis novel The Twins Exchangenyang baru saja kutamatkan novelnya sore ini :-)