August 12, 2021

Cerpen 100 kata: Telaga Wopersnondi








Telaga Wopersnondi di Biak, Papua, memiliki air berwarna biru jernih memperlihatkan dahan dan ranting pepohonan di dasarnya. Telaga Wopersnondi terletak di tengah hutan dikelilingi pepohonan yang rimbun. Keberadaannya dekat Pantai Samares sehingga dikenal wisatawan dengan nama Telaga Biru Samares.

Vandam berdiri di tepi Telaga Wopersnondi, seraut wajah jelita dari pulau seberang melintas dalam ingatannya. Berhasilkah dia menemukan tempat ini, seperti janjinya?

Sekonyong-konyong ada yang mendorongnya jatuh ke telaga. Afrail dan Liben menyusul melompat ke telaga, menyelam menjauh dari kejaran Vandam.

“Jadi nama wopersnondi berasal dari kebiasaan kalian melompat ke telaga?” ucap gadis impian Vandam yang berhasil menemuinya di Telaga Wopersnondi.


***

Note: Wopersnondi berasal dari bahasa Biak, merupakan gabungan dari kata ‘Woper’ yang artinya melompat, dan ‘Snon’ yang artinya pria. Jadi wopersnondi memiliki arti pria yang melompat. Konon nama tersebut dilatar-belakangi oleh banyak pria dari desa setempat yang sering melompat untuk mandi di telaga ini.

Cerpen 100 kata: Penari Kehidupan


Marc Daniels seorang pengacara yang mempunyai tiga orang putri berusia empat tahun, tiga tahun, dan enam bulan. Profesi pengacara sangat menyita waktu. Namun, sebagai orang tua tunggal Daniels memprioritaskan waktunya mengurus ketiga putrinya.

Putri sulung dan putri keduanya akan mengikuti pementasan balet di sekolahnya, keduanya sangat antusias menari balet. Tentu saja Daniels akan meluangkan waktu hadir menyaksikan balerina ciliknya di atas panggung.

Daniels duduk di antara para orang tua siswa, putri bungsu dipangkunya. Tanpa pikir panjang Daniels naik ke panggung ikut menari ketika terdengar teriakan histeris putri keduanya yang mengalami demam panggung. 

Setiap orang adalah penari kehidupan dalam sendratari hidupnya.

Cerpen 100 kata: Hutan Bunuh Diri

Akira menggengdong ibunya memasuki hutan bunuh diri di kaki Gunung Fuji yang menjadi tempat untuk mengakhiri hidup. Hutan sangat rimbun, penuh pepohonan dan cahaya hampir tidak bisa masuk. Beratnya kehidupan membuat Akira tidak sanggup lagi menghidupi ibunya yang lumpuh sehingga berniat meninggalkannya di hutan bunuh diri. 

“Nak, ikutilah tali pengikat potongan kain yang ibu jatuhkan sepanjang perjalanan masuk hutan supaya kau bisa menemukan jalan keluar dari hutan.” Sang ibu tersenyum muram.

Akira berhasil keluar dari hutan bunuh diri. Namun, kesadaran baru membuat langkahnya terhenti. Seketika Akira kembali masuk hutan menjemput ibu yang ingin dibunuhnya tapi justru menjaga dan memikirkan keselamatannya.




Cerpen 100 kata: Purnama di Candi Muara Takus


Candi Muara Takus terdiri dari empat candi, aku mengitarinya. Mulai dari Candi Palangka, Candi/Stupa Mahligai berbentuk yoni mencuat ke atas, Candi Bungsu dan berhenti di depan Candi Sulung yang terbesar. Indah sekali purnama malam ini.

Mendadak terdengar lengkingan suara gajah di kejauhan dan derap kaki gajah yang berlari kencang menyebrangi Sungai Kampar menuju Candi Muara Takus. Jantungku berdegup kencang, aku reflek berlari mencari tempat persembunyian, memanjat puncak Candi Mahligai.

Benar adanya kawanan gajah bertekuk lutut di depan Candi Sulung pada malam bulan purnama. 

Lututku gemetar, aku terjatuh dari ranjang. Buku The Forgotten Kingdoms in Sumatera karya Schnitger masih dalam genggamanku.

Cerpen 100 kata: Batik Lasem Merah


Setelah mendatangi semua galeri, pameran, dan sentra batik selama lima tahun terakhir, akhirnya Rianti menemukannya. 

Rianti terkesima menatap batik lasem merah, motifnya persis cerita Eyang Uti. Warna merah getih pithik menggunakan bahan dasar khas yang hanya ditemukan di Lasem. 

“Maaf Bu, batik lasem merah tidak dijual, dipamerkan sebagai koleksi saja.”

“Berapapun harganya, batik ini sangat penting bagi nenek saya yang terbaring lemah. Hubungi saya apabila pemilik batik lasem merah setuju.” ucapnya kecewa.


Esoknya.

“Ada tamu, Non.” Bi Ijah datang bersama wanita sebaya Eyang Uti, berkain batik lasem merah. 

“Kulo rawuh, Mbakyu.” ujarnya sembari mendekap Eyang Uti.

Wajah keduanya sungguh serupa.


***

Merah getih pithik artinya merah darah ayam


Kulo rawuh, Mbakyu artinya Saya datang, Kak. 

Ucapan dalam Bahasa Jawa Kromo Inggil.

April 7, 2021

Sebuah Opini tentang Novel Noda dalam Pesantren karya Wafa Farha


Seorang teman penulis di Wattpad yang rajin menayangkan tulisan dan peringkat tulisannya di akun facebooknya dan saya pun sering membaca tanpa berkomentar. Suatu ketika saya melihat di bagian paling bawah foto peringkat tersebut ada potret novel Noda karya Wafa Farha, menariknya ada tertulis 21+ dan saya langsung menghitung umur saya sepertinya sudah melewati 21 tahun haha. Saya cari di google dan menemukan tautan cerita tersebut, utuh. Setelah saya membaca beberapa bab, dikunci dan tidak bisa melanjutkan membaca kecuali saya membuat akun di Wattpad. Baiklah, saya pun membuat akun dan menginstal aplikasi wattpad.

Novel Noda dalam Pesantren bercerita tentang seorang anak kiai pemilik pesantren yang mendewakan keperawanan calon istrinya. Ide klasik dan terasa sangat konservatif di era internet global saat ini. Namun penulis berhasil mengemas tulisan dan membuat alur cerita mengalir wajar dan realistis sehingga saya pun lanjut membaca sampai selesai tanpa merasa bosan sama sekali meskipun ide ceritanya klasik, ada beberapa hal menarik sehingga saya membacanya sampai selesai.

Seorang pria, yang digambarkan nyaris sempurna secara fisik dan perilaku, anak pemuka agama terkemuka. Jika dihitung bibit, bebet dan bobot tentu pria ini menjadi menantu idaman para ibu muslimah yang mempunyai anak perempuan. Tak ada gading yang tak retak, juga tidak ada manusia yang sempurna, pria yang mengaku sangat mencintai calon istrinya ini ternyata tidak bisa menerima musibah pemerkosaan yang terjadi pada calon istrinya. Apakah bisa disebut cinta? Cinta yang seperti apa?

Hal-hal menarik apa saja kah yang membuat saya membaca novel ini sampai selesai bahkan mencari dan membeli e-book Novel Noda 2, cerita lanjutannya?

Alur cerita dan gaya bertutur penulis yang menarik, mengalir wajar dan realistis. Benang merah cerita muncul dengan sangat mulus tanpa kesan dipaksakan. Identitas pemerkosa calon mempelai wanita yang merupakan mantan pacar, sakit hati diputuskan dan ternyata saudara sepupu mempelai pria. Potensi konflik dimunculkan dengan sangat wajar dan realistis.

Namun demikian ada pula guratan yang memperlihatkan karakter penulis yang menarik garis tegas antara hitam dan putih. Padahal sesungguhnya dalam kehidupan ini ada juga grey area, wilayah abu-abu. Misalnya ketika musibah pemerkosaan pada calon pengantin wanita sebelum hari pernikahan, respon calon mempelai wanita dan keluarganya hanya dimunculkan dua opsi: antara berkata jujur lalu pernikahan batal ataukah berbohong menutupi fakta, dan pernikahan dilanjutkan. Tidak ada celah untuk opsi ketiga yaitu berkata jujur dan pernikahan tetap berlangsung.

Latar cerita kehidupan islami pesantren, interaksi yang mengikuti syariat Islam dalam segala aspek kehidupan para tokoh cerita berhasil disajikan penulis dengan sangat baik tanpa menciptakan rasa antipati. Informasi syariat Islam disampaikan dengan baik melalui dialog tokoh-tokoh ceritanya.

Menurut pendapat saya, sebuah cerita saya anggap menarik ketika saya membacanya tanpa jeda sampai selesai, tidak ada rasa bosan yang membuat saya berhenti membaca sebelum cerita tuntas. Nah, novel Noda dalam Pesantren karya Wafa Farha adalah sebuah cerita yang menarik. Tidak percaya? Silahkan buktikan sendiri.


December 23, 2013

Case Premi Tahunan Saya yang Pertama



Saya sudah di akhir tahun ketiga bergabung di bisnis Prudential, tanpa prestasi yang berarti, hanya income yang jauh lebih baik daripada posisi R & D Manager di pabrik kimia yang sudah saya tinggalkan sejak bergabung dengan Prudential.  Saya sudah mengikuti semua pelatihan dan pendidikan di Prudential Sales Academy dan mengaplikasikan semaksimal mungkin semua yang saya pelajari, mulai dari pelatihan Rising Star (sekarang menjadi Success Track) untuk agen yang baru lulus tes AAJI, pelatihan AWS (Agency Workshop Series) yang sangat komplit untuk mempersiapkan skill, product knowledge dan attitude agen, pelatihan BSC (Basic Sales Course) untuk membantu agen memahami siklus penjualan dan mengaplikasikannya sampai terbentuk habit (kebiasaan), pelatihan PFA (Prudential Financial Advisor) untuk membantu agen meningkatkan skill dalam membantu nasabah berdasarkan kebutuhan nasabah sehingga agen bekerja sebagai penasehat keuangan nasabah dan akhirnya saya juga memutuskan ikut program RFP (Register Financial Planner) untuk membantu agen mendapatkan gelar profesi sebagai perencana keuangan dan bergabung dalam asosiasi perencana keuangan FPAI (Financial Planner Association Indonesia).  Attitude, Skill dan product knowledge saya sebagai seorang agen sudah lebih dari cukup untuk bisa membantu sebanyak mungkin keluarga dalam membuat perencanaan keuangan keluarga. Tapi saya merasa there is something missing inside myself, sampai saya mendengarkan sharing tentang MDRT (Million Dollar Round Table) di M3 (Monday Morning Meeting) oleh dua orang pembicara yang paling berkesan dan menggerakkan saya untuk mencari tahu lebih dalam lagi tentang MDRT. Dua pembicara tersebut adalah Sumiyarti dan Mariana Sofia yang membawa langkah saya hadir di acara GMM (Grand MDRT Mentoring) dan kelas MDRT Mentoring ibu Jeannette Sulindro.
Kelas MDRT mentoring nya ibu Jeannette Sulindro membantu saya menemukan something missing inside myself, saya belajar tentang LETPRO (Listening with emotion, Perception evaluation, Thinking with question, Observation for feedback, Experience through application, Repetition for mastery). Tiga jam sebelum saya memenuhi janji temu saya dengan prospek lama saya yang sudah saya kenal selama empat tahun, saya bicara satu jam via telpon dengan ibu Jeannette Sulindro dan diskusi via Whatsapp dengan ibu Sumiyarti.  Sebelumnya saya berhasil jadikan beliau client saya untuk polis dua orang anaknya yang ketiga dan keempat.  Tapi saya ingin membantu keluarga ini lebih baik lagi dengan mempersiapkan Family Protection-nya.  Mengingat mobilitas prospek yang sangat tinggi, tidak mudah saya mendapatkan janji temu ini, maka saya ingin mempersiapkan diri saya semaksimal mungkin.  Ibu Sumiyarti menyadarkan saya untuk fokus pada kebutuhan nasabah dan ibu Jeannette Sulindro menyadarkan saya untuk lebih Listening with emotion.  Ternyata dua hal penting ini yang menjadi faktor penentu keberhasilan saya mendapat persetujuan prospek untuk membuat family protection dengan premi tahunan.
Pertemuan saya awali dengan obrolan ringan dan ucapan selamat anniversary pernikahan ke-26 yang baru dirayakan prospek beberapa hari lalu, akhirnya saya mendapat kesempatan untuk persentasi safety net.  Tapi baru dua garis tergores di atas kertas, pena saya berhenti di udara ketika prospek mengatakan: 

“Bu Anita, Saya sudah sering dengar ini semua, sudah banyak agen yang datangi saya tapi mohon maaf Bu, saya tidak butuh asuransi, saya percaya dengan Tuhan saja”.  

Saya terkesima seperpecahan detik, lalu meletakkan pena saya dan tersenyum seraya berkata: 

“Tentu pak, Saya pun percaya dengan Tuhan…” 

lalu saya memutuskan untuk listening with emotion dan melanjutkan obrolan.  Sungguh ini pertama kali saya lakukan dan agak sulit pada awalnya, namun saya serius menanggapi cerita beliau tentang perjuangan hidupnya, prinsip-prinsip hidupnya dan hal-hal yang sudah beliau siapkan untuk keluarganya.  Satu setengah jam berlalu, keheningan menyergap ketika beliau berhenti cerita dan saya bertahan untuk tidak mengucapkan apa-apa hanya ekspresi penuh minat menantikan cerita berikutnya namun yang terjadi selanjutnya justru di luar dugaan saya, akhirnya beliau melemparkan pernyataan yang mencengangkan saya: 

“Oiya, tadi Ibu Anita mau cerita apa itu garis-garis, tolong Ibu dilanjutkan”.  

Saya pun tidak ingin kehilangan kesempatan ini, saya selesaikan persentasi saya, lengkap dengan perhitungan detail kebutuhan family protection dan apa yang sebaiknya beliau lakukan sejak lama untuk keluarganya, efek penundaannya selama empat tahun ini dan akhirnya saya ajukan rencana solusi untuk mengejar waktu yang terbuang.  Beliau menghujani saya dengan aneka pertanyaan yang jawabannya justru melengkapkan dan menyempurnakan penjelasan saya tentang rencana family protectionnya.  Pertemuan K1 (Kunjungan pertama) ini saya tutup dengan janji untuk membuatkan proposal dan minta konfirmasi janji temu K2 (Kunjungan kedua) keesokan harinya pada jam yang sama, mengingat malamnya beliau harus terbang ke Bali.
Pertemuan K2 keesokan harinya, saya langsung straight to the point menjelaskan proposal yang saya sudah persiapkan, termasuk proposal rate up premi, substandard L14 terkait pekerjaannya.  Respond-nya: 

“Baiklah premi sekian mah tidak ada masalah tapi saya akan pikir-pikir dulu ya Bu, apa ibu bisa tinggalkan proposalnya untuk saya pelajari? Ini kan mau natal, mungkin sekitar Januari tahun depan ya Bu”.  

Saya merasa melewatkan sesuatu, ada yang harus saya lakukan dan katakan untuk membantunya membuat keputusan saat ini juga. I said myself: “Anita, can you see the momentum, just use it!”
Saya tersenyum dan menganggukkan kepala: 

“Tentu saja, Pak. Tapi andai nanti malam Bapak terbang ke Bali, maaf kata Bapak tidak bisa kembali ke rumah ini lagi, apakah Bapak ingin saya datang ke sini membawa cheque sejumlah 1,25 Milyar ini untuk keluarga Bapak? Untuk Jay dan Ivy kuliah sampai jadi sarjana?”. 

Hening.  Sampai saya melihat anggukan kecil beliau, baru saya lanjutkan bicara: 

“Kalau saya boleh tahu bagian mana yang Bapak ingin pelajari, mari saya bantu jelaskan dengan lebih teliti karena saya tahu bapak sibuk sekali, bukan?”.  

Saya jelaskan ulang manfaatnya dan mengapa harus sejumlah itu, saya tutup dengan pernyataan dan pertanyaan: 

”Untuk mendapat semua manfaat ini, premi perbulan sekian, Bapak bisa bayar tahunan kalau tidak mau repot.  Andai nanti tahun depan saat harus bayar premi setahun lagi just in case kebetulan bersamaan ada keperluan penting lain, kita bisa ubah jadi bulanan biar lebih ringan.  Jadi fleksibel saja, Bapak mau ringan atau pun tidak mau repot kita bisa ubah setiap saat.  Apa ada hal lain yang Bapak masih ingin pelajari dan ketahui lebih detail? Mari, saya bantu jelaskan”.   

Beliau tersenyum dan menggelengkan kepala, langsung saya sodorkan pena, 

“Kalau begitu Bapak setuju dengan manfaat dan preminya, silahkan pak, tanda tangan nya di sini, semua halaman ya, Pak.  Sementara saya melengkapi data diri Bapak di SPAJ”.  

Serta merta saya keluarkan SPAJ (Surat Pengajuan Asuransi Jiwa) dan mulai mengisi sesuai kartu identitasnya dgn sesekali melemparkan pertanyaan-pertanyaan dalam SPAJ, meminta beliau mengisi form kuisioner angkatan bersenjata, form SKPR tipe B (Surat Kuasa Pendebetan Rekening tipe B, untuk rekening Bank Mandiri nya) dan menunjukkan tempat tanda tangannya.  Setelah semua dokumen diisi komplit dan ditanda-tangani, Beliau permisi mau ke lantai atas rumahnya, saya mengucapkan selamat atas keputusan terbaiknya untuk keluarga tercintanya dan beliau berkata: 

“Terima kasih Bu Anita, uangnya minta dengan istri saya ya”
Saya pun menginformasikan kepada istri beliau jumlah premi nya kalau bulanan sekian dan tahunan sekian.  Istrinya berkata: 
“Bapak maunya tahunan saja, mbak Anita dan sekalian top up di polis anak-anak, masing-masing 15 juta, jadi total 30 juta untuk top up polis Jay dan Ivy.  Saya mau jemput anak-anak sekalian mampir ke ATM yuks, mbak Anita mohon tunggu sebentar saya ambil tas ya”.
“Baiklahh….” Yay! Ini case perdana saya yang bayarnya tahunan!!

February 15, 2011

Merentas Bunga Rindu di Sandaran Bintang, Buku Kumpulan Puisi Kwek Li Na


Saya sengaja melangkahkan kaki menuju Toko Gramedia terdekat, langsung bertanya pada penjaga toko apakah masih ada stok buku kumpulan puisi Bunga Rindu di Sandaran Bintang. Lalu buku ini pun segera berada dalam genggaman Saya. 

Buku bersampul merah oranye yang kental dengan nuansa oriental nan manis ini pun tak sabar Saya buka, sembari melangkahkan kaki menuju margocity mall tak jauh dari toko buku. Di sebuah bangku, dengan hingar-bingar keramaian mall, saya lahap habis puisi-puisi karya Kwek Li Na. 

Saya bukan lah pengamat sastra apalagi puisi, Saya hanya gemar membaca puisi-puisi dan menikmati keindahan untaian kata, jalinan cerita dan bagian yang paling Saya suka adalah merentas guratan maknanya, mencoba memahami aliran pikir sang penulis. 

Jika Saya analogikan puisi itu sebagai santapan, setelah menyantap habis Saya bisa ceritakan pada teman-teman apa rasanya, aromanya, apakah Saya menyukai santapan itu sehingga ingin menyantapnya lagi lain kali atau bahkan merekomendasikan pada teman-teman Saya agar mencoba menikmati santapan serupa. 

Sebagai penikmat puisi pun demikian, setiap habis membaca sebuah puisi, saya mencoba mengenali riak emosi dalam diri saya. Itulah yang saya lakukan terhadap 107 puisi Kwek Li Na dalam buku ini. Jadi saya sekedar menyampaikan riak emosi dalam diri saya semata, sama sekali tidak mengkritik loh Kwek Li na karena saya juga bukan kritikus kok :-) 

Secara keseluruhan tema puisi-puisi di buku ini sangat manusiawi dan tentu sudah biasa kita temui dalam kehidupan sehari-hari: cinta, rindu, persahabatan, luka dan perpisahan. Warna-warni kehidupan dalam sudut pikir Kwek Li Na tentunya. Tema universal yang tak lekang ditempa waktu dan selalu asik untuk diperbincangkan. 

Cara Kwek Li Na menyampaikannya sangat lah lugas, sederhana dan mudah dipahami. Sama sekali tanpa permainan metapora yang berlebihan. Biasanya saya selalu berusaha memahami makna judul terlebih dahulu untuk bisa memahami maksud sebuah puisi. Namun itu sama sekali tidak perlu saya lakukan pada puisi-puisi Kwek Li Na. 

Sebagian puisi-puisi dalam buku ini dalam bait-bait yang panjang, sebagaian lagi teramat singkat, satu bait singkat dengan beberapa untaian kalimat saja. Saya kurang menemukan riak emosi yang berarti dalam diri saya ketika membaca puisi-puisi panjang Kwek Li Na, entah lah. Mungkinkah karena lebih mirip prosa pendek ataukah lebih cocok dijadikan cerpen 100 kata saja? 

Saya justru merasakan sentakan emosi pada puisi-puisi singkat Kwek Li Na. Singkat, padat, kandungan emosi nya tertangkap dengan jelas. Sungguh aku suka Kwek Li Na style dalam puisi-puisi singkat ini. 

Baca saja puisi ini: 

Arak Rindu 

Arak rindu 
Dalam cawan kayu 
Di permukaannya wajah mu berenang 
Kupandang dengan pikiran setengah melayang: mabuk rindu ini menyenangkan 

Jiwaku berdendang 
Engkau serasa nyata menatapku penuh sayang 

Atau puisi pendek ini: 

Irama Rindu 

Angin dan daun bambu bersetubuh 
Melantun rindu alam 
Di sunyi musim bunga 

Saya suka sekali puisi Kwek Li Na yang satu ini: 

Tak Berjejak 

Malam menggandeng rindu 
Menelusuri mimpi 
Bayanganmu tak berjejak 

Baiklah, teman-teman. Saya sarankan, pergilah ke toko buku terdekat untuk mendapatkan buku Bunga Rindu di Seberang Bintang. Segera baca satu per satu puisi di dalam nya. Lalu katakan pada saya, adakah teman-teman setuju dengan apa yang saya rasakan terhadap puisi-puisi Kwek Li Na dalam buku ini?

January 26, 2011

My Birthday Prayer

I stop my breath world little while, my swishing thought
Absorb quiet night and watch the star in the west sky
37 times sun revolution had delivered my step
13.505 nights had accompany my slept
continue climbing towards me at this time

I watched the star and listen my prayer

Dear God,
Create me become Anita Lindawaty
Who reached the real win in my life
Who grow up bigger than my body jail
Who has heart more thoughful than my body wrapped
Who has lofty thought bigger than a handful of my brain
Who has glorious more than me whom watching the star now

Amen!
P.S: Actually God, I just need a piece of chocolate from someone who really love me and walk together with me until next 40 or 50 years....


Jakarta, January 26th, 2011

January 17, 2011

Rain

after hundred drizzle be realized as a rain
your smiling face in every my laboratory glassware
can't stop the rain in my heart,
it's broken become a hundred drizzle over and over again

wind blows drizzle to my window
i hold your warm friendship in my mind
trying to handle my cold morning


Jakarta, January 17th, 2011
inspired by my friend dreampipe